Agama Fase Ketiga

Model oleh Ayu Utami dan pengelola blog
Spiritualitas merupakan salah satu aspek penting yang melekat pada agama. Era modern menandai dirinya dengan rasionalitas yang bersandar pada indra. Bagaimanakah modernitas memperlakukan produk pramodern bernama agama dan spiritualitas?   
Melalui buku ini, Ayu Utami menuturkan pengalamannya. Perjalanan kesadaran Ayu terkait agama dan spiritualitas terdiri dari tiga fase. Perjalanan kesadaranku mungkin mirip sejarah pemikian Eropa. Atau, aku semata-mata lebih mudah memahami sejarah pemikiran Eropa dengan mengacu pengalamanku sendiri. Jika disederhanakan ada tiga periode utama: religiusitas, sekularisme, dan, hmm, pasca sekularisme. (hal 55)
Demikian Ayu membagi fase-fase kesadaran dirinya. Secara praktis, seperti apa pengaruh setiap fase?  Secara sederhana, orang yang meyakini suatu agama (agama apa pun) dia akan cenderung menghubungkan apa pun dengan kehendak Tuhan. Pendekatan ini cenderung meminggirkan sikap analitis dan nalar kritis. Dalam jangka panjang sikap ini tidak hanya menghentikan laju kebudayaan, tapi juga menyuburkan pandangan skeptif fatalistik.
Pada fase ini, orang menjadikan Tuhan sebagai pusat. Maka apa pun firman Tuhan akan dilakukan sekalipun harus menyakiti bahkan membunuh orang lain, merusak tatanan sosial, mengeksploitasi alam. Kesadaran beragama orang kebanyakan berhenti atau enggan beranjak dari fase ini. Fase ini sangat berbahaya, karena nalar kritis yang dianugerahkan Tuhan dipangkas. Tuhan yang abstrak ditubuhkan, dikuatkan padahal sesungguhnya dilemahkan sehingga butuh dibela. Inilah cara beragama kaum fundamentalis. Karen Armstrong dalam buku The Case For God, menerangai bahwa kaum fundamentalis menihilkan segalanya yang berada di luar kitab suci yang terbatas itu dan senantiasa menafsirkan kitab suci secara harfiah.
Pada fase kedua, sekularisme, bersikap sebaliknya; menolak keras agama. Kepercayaan kepada agama dicerabut lalu dilempar dalam ruang-ruang pribadi. Ayat-ayat Tuhan yang bernada mengabaikan keadilan sosial ditampik di tengah kesadaran publik. Dalam menimbang baik buruk, dan setiap keputusan digantungkan semata kepada rasio. Ketergantungan kepada rasio menjadi dogma kaum sekularisme. Cara ini sama buruknya dengan kaum fundamentalis. Secara praktis, sekularisme menggiring orang semata kepada  semesta yang dapat direngkuh rasio.    
Fase ketiga, pasca sekularisme, inilah fase yang merangkum kedua  kesadaran yang saling bertolakan ini. Agama dan Tuhan mendapat apresiasi, saat bersamaan nalar kritis mendapat tempat yang layak. Inilah yang disebut Ayu sebagai fase spiritualisme kritis. Semacam jalan tengah yang menolak dogma, baik dogma agama maupun dogma rasionalitas. Dogma dalam bentuk dan produk aliran pemikiran apa pun cenderung sewenang-wenang dan menutup diri. Karena pada dirinya melekat penihilan terhadap nalar kritis.
Spiritualisme kritis mengandaikan sikap yang terbuka terhadap aliran pemikiran yang berbagai-bagai. Sandarannya adalah nalar kritis. Spiritualisme kritis mengapresiasi agama dan rasionalitas sepanjang keduanya menjunjung tinggi kemanusiaan dan tidak mengeksploitasi. Karena apa pun yang eksploitatif bersifat destruktif.    
Buku ini serupa pemaparan kisah perjalanan sejarah kesadaran manusia secara umum terkait dengan agama dan Tuhan.  Karen Armstrong dalam buku ‘History of God’ menulis bahwa Tuhan yang kita kenal melalui pelbagai bentuk dan nama-nama sejak zaman prasejarah,  pramodern, dan modern tak lain adalah Tuhan buatan imajinasi manusia. Manusia sebagai mahluk material sekaligus spiritual rupanya membutuhkan sandaran rohani, dimensi yang tidak terjangkau rasio. Itulah yang disebut dan diyakini manusia sebagai Tuhan. Karena apa yang disebut Tuhan yang sesungguhnya sama sekali tidak terwadahi oleh nama-nama. Nalar kritislah akhirnya yang menjadi benteng terakhir. Ia berorientasi kepada kemanusiaan yang adil dan beradab.
Berbeda dengan Karen yang menempuh jalan pemaparan sejarah, Ayu menuturkan melalui model cerita berdasarkan pengalaman nyata sehari-hari yang subyektif dan personal, oleh karena itu terasa intim. Inilah yang membuat buku ini terasa istimewa. Kita seperti membaca novel semi horor yang seram tapi nikmat mengasyikkan. Ayu memiliki ukuran untuk menerima dongeng-dongeng spiritual, yaitu integritas orang yang menceritakan dan konsistensi cerita yang disampaikan. Integritas dalam konteks ini adalah ia tidak mendapatkan keuntungan (baik materi maupun berupa kepuasan) dari apa apa yang diceritakan tentang yang bersifat roh kepada kita. Tak heran Ayu lebih mempercayai cerita-cerita roh yang dikatakan Bonaficius, keponakannya yang sejak kecil memiliki kemampuan melihat roh, ketimbang cenayang atau seorang medium arwah.
Semua paranormal yang pernah kutemui ingi  ingin menunjukkan kuasa. Untuk hal-hal yang tidak bisa diverivikasi…(hal 125).
Kemampuan Bonaficius melihat roh berdampak pada kepribadiannya. Ia cenderung pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Apabila dia berkendara di sepanjang jalan ia melihat sosok-sosok yang tidak tampak oleh mata orang lain. Ia bingung mana yang arwah mana yang orang sehingga ia tidak berani menyetir mobil demi menghindari resiko menabrak orang yang dia kira arwah.
Pada fase spiritualisme kritis Ayu membuka diri kepada peristiwa-peristiwa yang tidak dapat didekati dengan nalar. Sikap membuka diri adalah tidak menolak tapi juga tidak menerima dengan mentah-mentah, alias tetap mengapresiasi nalar.
Pertanyaan kritisnya adalah, apakah spiritualisme kritis, sebagai agama fase ketiga  ini, tidak akan jatuh menjadi dogma juga? Ayu tidak menjawabnya dalam buku ini. Mungkin pada buku seri berikutnya. Ini adalah buku pertama dari Seri Spiritualisme Kritis. Kita tunggu saja. 
Data buku
Judul   : Simple Miracles
Penulis : Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Oktober 2014
                                                                                                                               Tebal   : 177 Halaman
Pernah disiarkan Lampung Post, Minggu 5 April 2015

Comments