Bawa Kantong ke Mana pun Gue Pergi

foto dari Kompas cetak 
Gue #BeraniLebih repot membawa kantong yang terbuat dari apa pun yang penting bisa gue gunakan berkali-kali demi sedikit mengurangi sampah plastik. Gue tahu, pencemaran lingkungan sudah sangat mengkhawatirkan dan salah satu penyebabnya adalah makin tingginya penggunaan kantong dan kemasan plastik. Tingginya penggunaan kantong dan kemasan plastik memicu produksi sampah plastik seperti tak terkendali.

Hitunglah berapa kali gue belanja ke warung atau toko dalam sehari. Apabila dua kali saja, maka dalam sebulan sekurangnya ada 60 kantong plastik yang bisa dihemat kalau gue #BeraniLebih repot membawa kantong ke mana pun gue pergi. Membawa kantung toh sebetulnya tidak repot-repot banget. Gue bisa melipatnya jadi seringkas mungkin dan menyimpannya di dalam dompet atau tas kerja gue.     

Sampah plastik, gue tahu, sangat susah diurai di dalam tanah; membutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengurainya. Bayangkan, ratusan tahun! Umur gue paling lama 70 tahun hingga 80 tahun. Jadi, ketika gue membuang sampah plastik, sampai anak dari cucu gue lahir, sampah plastik yang gue buang belum tentu sudah terurai. Begitu lama dan melelahkan pekerjaan tanah untuk mengurai sampah plastik yang gue buang.     

Sepanjang tanah sibuk bekerja mengurai sampah plastik  sepanjang itu pula tanah kehilangan kesuburannya. Tanah yang semestinya bisa memberi gue sumber makanan dari tanaman yang gue tanam, kini jadi tak memberi gue manfaat terbaiknya. Dalam jangka panjang sampah plastik bukan hanya menyebabkan tanah yang makin berkurang produktifitasnya dalam menghasilkan pangan tapi juga mencemari air tanah.

Gara-gara sampah plastik keturunan gue juga terancam krisis pangan dan krisis air bersih. Gue bayangkan anak cucu gue bakal saling cakar dan berkelahi gara-gara berebut mendapatkan pangan dan air bersih. Sungguh menyedihkan kalau hal itu benar-benar terjadi menimpa anak cucu gue pada masa depan. Gue tak boleh egois kalau tak mau hal itu terjadi. Tanah ini, bumi ini, lingkungan ini, bukan warisan nenek moyang gue, melainkan titipan anak cucu gue.

Maka dari itu gue #BeraniLebih repot membawa kantung sendiri yang bisa gue gunakan berkali-kali ke mana pun gue pergi. Gue juga BeraniLebih repot membawa bekal atau wadah sendiri dari rumah untuk membungkus makanan gue. Gue tahu apa yang gue lakukan mungkin terlalu kecil pengaruhnya untuk mengurangi pencemaran yang terjadi akibat sampah plastik. Tapi gue percaya apabila gue bisa menularkan kebiasaan ini kepada keluarga gue, saudara-saudara gue, teman-teman dekat gue, bukan tidak mungkin kerusakan lingkungan dapat diperlambat. Syukur-syukur dapat dicegah sama sekali.

dapat diikuti di twitter: @KepalsuanAris dan www.facebook.com/aris.kurniawan

Comments

George Martinus said…
Halo bang Aris!
Anyway, thanks udah mampir di blog saya.

Yap, untuk sekarang ini kita yg peduli lingkungan hanya bisa yakin dan percaya kalo dengan perbuatan kecil aja bisa membantu pencegahan perusakan Bumi. Namun, lagi2 lihat kenyataan pada mayoritas warga Jakarta.

Nggak bapak, nggak ibu, karyawan kantoran, bahkan anak muda dengan mudah seenaknya buang sampah sembarangan. Udah gitu sampah plastik pula. Entah di mana norma mereka, seakan mental generasi sekarang udah bener2 bobrok.
Well, gaya hidup more green layaknya warga di kota negara2 maju emang kayaknya masih belom cocok untuk mental bangsa ini.

_"It's not just about the destination, but the journey"_

http://makanangin-travel.blogspot.com/
Aris Kurniawan said…
Hai George, saatnya memulai dari diri sendiri dan menularkannya pada siapa saja di sekitar kita.

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka