Bulan di Atas Kuburan

Poster film BdAK, sumber jadwalfilmbioskop21.blogspot.com
Sepulang menyaksikan film ‘Bulan di Atas Kuburan’ bersama kawan, akhir pekan lalu, saya jadi ingin mengingat-ingat kembali bagaimana saya dari daerah pesisir Cirebon datang ke Jakarta. Serupa dengan semua orang daerah yang datang ke kota ini saya rasa; Jakarta adalah magnet. Perkara bagaimana ia menjadi magnet tentu bakal jadi panjang lagi urusannya. Dan sebaiknya saya juga tak perlu menyinggung lebih jauh mengenai ‘bagaimana’ itu, karena saya yakin akan sangat klise dan mambuat kau bosan membaca celotehan ini.
Baiklah, marilah saya ceritakan saja penikmatan saya atas film remake atawa garap ulang atas karya Asrul Sani tahun 1973 berjudul serupa yang inspirasinya didasari sebuah sajak pendek berjudul Malam Lebaran anggitan Sitor Situmorang yang sangat terkenal di jagat sastra kita itu. Bagi saya ‘Bulan di Atas Kuburan’ ialah film tentang persimpangan antara kejujuran dan ketamakan. Persimpangan antara Sahat (Rio Dewanto), novelis dari Samosir, Sumatra Utara, yang bosan dengan kemiskinannya; dan Mona (Atiqah Hasiholan), anak seorang politisi dan pengusaha kaya raya yang muak dengan keluarga dan lingkaran pergaulannya yang penuh kepalsuan dan kerakusan.  
Dari kampung halamannya yang permai di tepi Danau Toba, Sahat datang ke kantor penerbit yang akan menerbitkan novelnya di Jakarta. Ketika ia tiba di sana, rupanya kantor penerbitan itu merangkap kantor sekretariat tim sukses calon presiden yang sedaerah dengannya. Maruli (Arthur Tobing), pemilik kantor penerbitan yang tak lain ayah Mona, menawar naskah novel karya Sahat seharga sepuluh juta, yang akan digunakan sebagai bahan kampanye capres jagoannya. Sahat menolak tawaran itu dan menarik kembali naskah novelnya. Mona yang sejak awal sangat menyukai naskah novel itu makin mengagumi sang novelis. Ketika semua orang menjual diri semurah-murahnya kepada ayahnya, Sahat justru dengan tegas menolak. Tak pelak Mona pun jatuh cinta kepada Sahat dan menikahinya.   
Namun, kemiskinan memang menekan dan membuat siapa pun ingin segera pergi sejauh-jauhnya dari sana, terutama ketika kau melihat kesempatan menjadi makmur sejahtera dengan cara cepat dan mudah terbuka di depan mata. Itulah yang dilakukan Sahat. Tanpa sepengetahuan Mona, Sahat membuat kesepakatan dengan Maruli. Sahat dilibatkan sebagai konseptor tim sukses kampanye capres yang segera menyeretnya jauh melupakan apa-apa yang diteguhinya sebagai nilai-nilai luhur atawa idealisme.
Ketika mengetahui kenyataan ini Mona terpukul dan berbalik membenci Sahat. Sahat menyadari kekeliruannya namun pada saat bersamaan ia bersikap sinis kepada mimpi-mimpi Mona tentang hidup sederhana jauh di tepi Danau Toba. “Kau bicara seperti itu karena perut kau selalu kenyang. Kau hidup di puncak-puncak dunia yang gemerlapan,” kata Sahat.
Simaklah, kata-kata Sahat membuat kita termenung dan meletupkan pertanyaan, apakah untuk mengenal dan kembali kepada kesejatian, orang harus lebih dulu hidup dalam gelimang  kepalsuan? Pertanyaan ini barangkali akan membuatmu gelisah dan merasa hampa.
Film ini terlalu berat, keluh kawan saya. Padahal dia seorang pengarang dan pembaca sastra yang tekun. Bagaimana dengan penonton kebanyakan yang tidak pernah membaca sastra? Ah, kawan saya barangkali memang bukan penonton film yang tekun...
poster film bdak 1973, sumber tempo.co

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka