Lukisan yang Melawan Kesemerawutan Lalulintas Jakarta

Mey meladeni pertanyaan pengunjung pameran
Memandang segerumbul pohon bambu saja bagi saya mencuatkan kesan keheningan, kengungunan. Ketika angin merayap dan menggoyang batang bambu sehingga daun-daunnya menari, kesan keheningan itu justru makin menikam. Kini pohon bambu itu hadir sendirian dalam warna hitam putih, kosong, terbingkai dalam empat garis membentuk persegi panjang vertikal.  Mungkin ini akan menyeretmu memasuki lanskap keterasingan, kesedihan. Namun, keterasingan dan kesedihan yang agaknya mampu memberi kita kekuatan, ketabahan saat kembali ke jalanan Jakarta yang aduhai semrawutnya.
Itulah  yang merasuki benak saya saat menatap lukisan Caroline Imelda Marsha Loing (atau akrab disapa Mey), kawan Tionghoa saya, yang dipajang bersama karya belasan rekannya—termasuk ibu Mey sendiri— di selasar Universitas Bina Nusantara, kampus Senayan, sepekan terakhir. Mereka adalah peserta kelas seni lukisan China. “Saya peserta termuda di kelas itu,” kata Mey yang berusia paruh pertama tigapuluhan. Belajar melukis seni lukisan China membutuhkan ketekunan dan terutama kesabaran ekstra. Anak-anak muda generasi digital seperti sekarang yang dimanjakan kecanggihan teknologi yang serba cepat jarang yang tahan berlarut-larut menggores-gores tinta China di atas kertas.  Karena untuk mahir melukis seni lukisan China kita harus terlebih dahulu mahir menulis kaligrafi huruf-huruf China. “Kalau tidak bisa menulis kaligrafi China, orang hanya akan menghasilkan karya lukis yang mirip seni lukisan China. Kaku, tidak ada ruhnya,” kata Mey.   
Maka jangan heran apabila anak-anak muda etnis China di Indonesia—dan mungkin juga di negara-negara lainnya di luar China, Taipe, dan Singapura—segenerasi Mey sangat jarang yang mahir melukis, menulis dan membaca huruf-huruf China bahkan mereka yang tinggal di lingkungan China Town. Seperti Mey, mereka lebih fasih menulis dan bercakap dalam bahasa Inggris, Perancis, dan bahasa-bahasa negara Eropa lainnya—di luar bahasa lokal di mana mereka tinggal tentunya. Coba ingat-ingat, rasanya kita tidak pernah mendengar Agnes Mo(nica) menyanyikan lagu Mandarin, bukan?
Realitas ini tampaknya memunculkan keprihatinan sejumlah pesohor  China yang berkarir di pusat perfilman dunia seperti Jet Li dan Gong Li; kedua aktor kondang ini demi menyelamatkan anak-anaknya tercerabut dari identitas (:budaya) leluhur mereka, kini konon memilih tinggal di Singapura. Tentu bukan karena negara mungil yang seluruh wilayahnya berupa kota itu lebih bergengsi untuk ditinggali ketimbang Hongkong, Taipe, dan China sendiri, melainkan tradisi China konon dipelihara dengan baik di Singapura berdampingan dengan semangat globalitas. Aduh, kok saya sampai sengelantur ini sih.
Baiklah, kita kembali ke topik awal. Lukisan China. Ruang ruang kosong menurut Mey memang menjadi ciri khas lukisan dan kaligrafi China.  Seluruh lukisan yang dipamerkan saya lihat memang selalu mengandung unsur ruang kosong. Ruang-ruang kosong ini kadang bahkan memakan objek lukisan sehingga memunculkan suasana hening, sendiri, yang akut. Subjek lukisan berada dalam genggaman kekuasaan kekosongan. Ruang-ruang kosong ini bagi saya tidak hanya mencuatkan semacam kesunyian dan kehampaan yang menekan perasaan, tetapi juga kekhusyukan kepada yang abadi. Hmm …
Melukis daun bambu
Ruang-ruang kosong tidak akan terasa ngungun khusyuk dalam lukisan-lukisan menyerupai lukisan China. “Kaligrafi jadi dasar Chinesse painting, stroke (sapuan atawa goresan) dalam kaligrafi melatih kematangan sapuan kuas dalam melukis,” kata Mey.
Maksud Mey, kalau kau tidak belajar kaligrafi China lukisanmu hanya akan terlihat seperti Chinesse painting. Tidak ada ruhnya. Karena ruh lukisan China itu ada pada sapuan-sapuan kuasnya yang khas. Lukisan China medianya racepaper dan tinta china dan cat air 12 warna. Saya mengenal Mey sejak dua tahun terakhir dalam sebuah workshop penulisan cerita. Saya gemar dengan pikiran Mey terkait agama dan pandanganya yang unik mengenai konsep keluarga dan pernikahan. Kini saya melihat lukisannya; makin gemar saya berkawan dengannya.
Selain bambu, Mey menjadikan bunga Lotus sebagai obyek lukisnya. Sama hening dan nglangutnya, seperti juga harimau dan obyek lainnya. Pokoknya semua obyek dalam lukisan China jadi terasa hening, khusyuk, dan dalam saat-saat terbaik akan terasa agung.   
Ohya, pertengahan bulan lalu saya juga sempat mengunjungi pameran lukisan karya pelukis Korea Hannah Shin dan sejumlah temannya di Artpreneur Theatre, Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta. Bila dibandingkan antara lukisan China dengan lukisan Korea sungguh sangat kontras. Karya-karya Hannah Shin cenderung didominasi warna-warna terang seperti merah, kuning, dan keemasan dengan goresan-goresan tebal dan mencolok mata. Sang pelukisnya sendiri, Hannah Shin, tampil tak ubahnya penyanyi-penyanyi K-Pop yang tengah melanda dunia…   
Hannah Shin, pelukis Korea

Comments