Menggugat Barat, Mengkritik Sejarah Dunia Islam

Sejarah ditulis oleh pihak yang menang. Adagium ini membersitkan pengertian bahwa tidak ada sejarah yang hadir secara bersih dan netral. Ia selalu mengandung bias. Buku Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia Versi Islam karangan sejarawan muslim dunia berkebangsaan Afghanistan Tamim Anshary menguatkan logika ini. Maka jika ada sejarah versi Barat maka ada pula sejarah versi Islam, sejarah versi Tiogkok, dan sejarah versi  entitas peradaban lainnya. 
Model oleh Randi Anggriawan
Penelusuran Ansary, peradaban Islam dimulai sejak peristiwa Hijrah. Itu terjadi pada 662 Masehi. Peristiwa Hijrah menandai peristiwa penting lahirnya komunitas muslim pertama di dunia dengan Muhammad sebagai pelopornya. Di Madinah, komunitas muslim membangun sebuah peradaban yang berbeda dari komunitas-komunitas yang lebih dulu ada di sana. Peradaban tersebut ditandai dengan dibangunnya mega proyek yang penuh inspirasi: pembangunan masyarakat yang adil secara sosial.
Peradaban yang dibangun komunitas muslim yang terbesar adalah dengan lahirnya kekhalifahan. Empat kekhalifahan sejak khalifah pertama Abu Bakar Sidiq (11-13 Hijriah) hingga Khalifah keempat Ali (36-40H, 656-661M) yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin menjadi tonggak bagi penting bagi sejarah peradaban Islam yang kelak mempengaruhi jalannya sejarah peradaban dunia. Kekhalifahan yang kemudian diteruskan dinasti kesultanan hingga berakhirnya Kesultanan Turki Usmani dengan munculnya Republik Turki Modern pada 1923, lepas dari perdebatan antara yang menolak dan yang sepakat  dengan konsep kekhalifahan sebagai tafsir tunggal, telah memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi peradaban dunia.
Pada masa kekhalifahan dinasti Abbasiyah misalnya, lahir ilmuan-ilmuan dari rahim peradaban Islam. Mereka merintis dasar-dasar ilmu pengetahuan modern mulai dari bidang seni, matmatika, kedokteran, arsitektur, ekonomi, dan hukum.  Dan inilah yang diabaikan dalam sejarah dunia yang ditulis dunia Barat. Melalui buku ini Anshary hendak mengguggat pengabaian Barat terhadap kontribusi Islam yang pernah menjadi pusat sejarah dunia dan memiliki narasi berbeda selama ribuan tahun. Dalam sejarah dunia versi Barat, Islam hanya merupakan satu bab pendek dalam kisah panjang sejarah dunia, digabungkan dengan cerita tentang beberapa peradaban lain yang dianggap pinggiran.
Dengan urutan peristiwa yang rinci dan penuturan layaknya sebuah novel dengan bahasa populer yang mudah dipahami , Anshary tidak sekadar menggugat kepongahan dunia Barat, tetapi juga mengkritik peradaban yang dibangun dunia Islam sendiri. Sejarah dunia Islam, pascawafatnya Muhammad dan terutama setelah berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin, sebenarnya telah jatuh  dalam perpecahan. Hal ini tercermin dari drama perebutan kekuasaan yang diwarnai dengan peperangan dan pertumpahan darah sesama muslim.
Kekhalifahan Islam terutama era pasca-Khulafaur Rasyidin tidak pernah sepi dari intrik dan pembunuhan. Pada titik ini Islam hanya menjadi legalitas bagi kerakusan, keserakahan, dan kekuasaan para sultan. Inti ajaran Islam untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial direduksi menjadi sekadar kemegahan struktur kekuasaan yang mengontrol aspek kebudayaan. Situasi seperti ini memunculkan berbagai ketidakpuasan masyarakat muslim dan menjadi sumbu bagi lahirnya aliran dan mazhab-mazhab.  Kesultanan memelihara mazhab-mazhab tertentu untuk berbagai kepentingan yang bermuara pada langgengnya kekuasaan mereka.
Hal ini terlihat misalnya dari aliran Wahabi yang menjadikan mazhab Hambali—mazhab paling puritan— sebagai mazhab resmi pemerintah. Mereka menggunakan mazhab tersebut untuk menindas atau paling kurang menganggap aliran yang berada di luar mazhab tersebut sebagai kafir. Apabila pada Dinasti Abbasiyah  mampu melahirkan para ilmuan, maka pada kesultanan berikutnya, para ilmuan yang melahirkan ilmu pengetahuan dan kemajuan dibatasi demi menjaga wibawa kesultanan.  Dalam Novel Perempuan Batu, Tariq Ali dengan bagus mengungkapkan, kebanyakan para sultan berupaya menghambat pengembangan mesin cetak karena hal itu dapat menggerogoti otoritas kebangsawanan mereka.
Maka ketika wilayah muslim terus berkembang luas namun tidak dibarengi dengan gagasan-gagasan baru, sementara para sultan tenggelam dalam gaya hidup hedonisme sehingga kesultanan yang megah itu perlahan-lahan keropos. Bersamaan dengan itu dunia Barat makin menguat dan mulai masuk ke wilayah Islam.        
Dikotomi Barat dan Islam
Perang Salib yang dikobarkan dunia Barat yang Kristen untuk menyerang dan merebut wilayah kesultanan, tidak ada dalam kesadaran kolektif masyarakat dunia Islam. Tidak heran dalam beberapa Perang Salib, dunia Barat justru menggunakan prajurit Islam untuk menyerang kesultanan Islam.  Peperangan antara dunia Barat dengan Kesultanan Turki yang berlangsung berabad-abad berakhir dengan runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani.
Dunia Barat muncul sebagai pemenang di panggung sejarah dunia. Mereka membawa konsep negara modern, demokrasi, sekularisme ke seluruh penjuru dunia. Dunia Barat kemudian menulis sejarah dunia, tentu saja dengan sudut pandang mereka. Pertanyaannya adalah, benarkah peperangan dunia Barat dan dunia Islam semata bermotif agama? Benarkah demokrasi, konsep negara modern, dan sekularisme berlawanan atau paling tidak tidak ada dalam ajaran Islam? Masih relevankah mendikotomikan dunia Islam dan Barat di tengah persoalan global seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang memicu pemanasan global yang mengancam peradaban seluruh umat manusia sekarang ini?

Data buku
Judul                           : Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia Versi Islam
Penulis                         : Tamim Ansary
Penerjemah                  : Yuliani Liputo
Penerbit                       : Zaman
Cetakan Edisi Baru     : Februari 2015
Tebal                           : 580

ISBN                           : 978-602-1687-44-4

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka