Tragika dan Kemarahan Perempuan Bali

Model oleh Rindha dan Tri
Perempuan harus memberontak. Struktur adat, budaya, dan agama turut serta menindas perempuan; bahkan tiga institusi ini menjadi payung yang melanggengkan dan meniscayakan diskriminasi terhadap perempuan. Maka kepada tiga institusi ini pemberontakan perempuan harus dialamatkan secara terus menerus dan habis-habisan. Wah, kedengarannya gawat sekali. Bukan kedengarannya, tapi memang gawat sekali. Apa benar segawat itu?
 Adakalanya saya merasa bosan dan tak berguna membicarakan ketidakadilan yang dialami perempuan. Perasaan bosan konon ampuh bikin orang marah dan frustrasi.  Tapi yang paling saya khawatirkan jadi terkesan nyinyir dan sentimentil. Namun terberkatilah, di tengah kebosanan dan perasaan sentimentil itu seseorang menyodori saya novel Tarian Bumi Oka Rusmini. Novel ini sudah lama terbit, sekitar 15 tahun yang lalu; dan telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, dan saya dengar sempat menimbulkan kegemparan-kegemparan tertentu, baik di ranah sastra maupun ranah masyaraka adat Bali. Saya sempat membaca beberapa bab di Republika, harian yang pernah menyiarkannya sebagai cerita bersambung. 
Baiklah, saya kemudian mencoba membunuh kebosanan itu dengan membaca novel tipis ini secara perlahan-lahan.  Saya ingin menikmati setiap inci kemarahan Oka Rusmini.  Tapi, novel ini benar-benar ditulis dengan semangat pemberontakan yang begitu kencang. Ia lantang menyerukan pemberontakan kepada struktur adat, budaya, dan agama; tiga institusi yang memberi pembenaran bagi kekerasan yang dilakukan laki-laki atas perempuan. Seruan itu laksana mitraliur yang membuat saya megap-megap…
Oka menunjukkan kepada kita apa-apa yang disembunyikan keelokan Bali. Kita semua tahu Bali seperti kampung sendiri; adalah pulau dengan rangkaian pantai yang permai, gugusan bukit dan gunung yang  molek, masyarakatnya yang santun, dan tentu saja seni tradisi yang kental yang rupanya tampak begitu eksotik di mata  para turis. Bukan, begitu? Yeah termasuk dunia malamnya yang riuh dan hangat di sekujur tubuh Bali. Tapi rupanya yang kita ketahui tentang Bali justru meledakkan kemarahan Oka.
Banyak masyarakat Bali, terutama perempuan, yang menjadi tumbal bagi moncernya industri pariwisata Bali. Turis-turis dari penjuru dunia datang dan menikahi perempuan Bali dengan motif bisnis. Ada perempuan Bali yang jago menari dimanfaatkan suaminya yang bule sebagai objek lukisan dan fotografi. Tubuh Bali-nya dieksploitasi habis-habisan. Tak sanggup menanggungkan malu, perempuan ini akhirnya bunuh diri. Tragis.  
Ada lagi yang lebih membuat amarah Oka mendidih. Ini berkaitan dengan adat budaya dan agama yang menempatkan perempuan Bali seperti kutukan. Ini sebenarnya terjadi di dalam banyak tradisi dan agama lain juga. Sumbernya adalah tafsir laki-laki yang menyebabkan ayat-ayat dalam kitab suci agama agama itu memberikan hak istimewa kepada laki-laki untuk bertindak tidak adil kepada perempuan.  Dan inilah yang harus diberontaki perempuan.
Kemarahan Oka diwakilkan tokoh-tokohnya melalui jalan pemberontakan yang kerap berakhir tragis. Ketidakadilan adat dilawan dengan penolakan seorang tokohnya untuk menikah. Karena pernikahan tak ubahnya perangkap bagi perempuan untuk menyerahkan bulat-bulat dirinya kepada laki-laki untuk diperlakukan tidak adil. Lembaga pernikahan mensahkan penindasan.  Perempuan itu bisa hidup tanpa laki-laki, kata perempuan pemberontak itu.  
Kita semua maklum mengapa Oka Rusmini begitu marah. Dia menyimpan trauma.  Beni Setia menulis , memaknai Oka Rusmini tanpa menyadari latar sosial budaya Balinya pada satu sisi serta bagaimana Oka Rusmini itu bertahan dalam dikucilkan secara adat dan silsilah (Bali) adalah kekeliruan. Sebab, pada dasarnya, tak ada teks sastra yang bebas dari latar sosial budaya dan trauma batin kreatornya—terlebih trauma batin sebesar itu. (Kompas, Minggu, 17 Oktober 2010)
Baiklah…
Kita melihat para kritikus memuji kemarahan Oka sebagai kekritisan; Oka dianggap telah menjalankan perannya sebagai sastrawan yang menggugat ketidakadilan zamannya. Saya setuju itu. Tugas sastra di antaranya memang menggugat atau sekurangnya mempertanyakan kembali apa-apa yang dianggap mapan; menggedor nilai-nilai yang dianggap ideal. Sastra pula agaknya yang dibebani tugas sebagai media pengingat bahwa tak ada nilai-nilai yang ideal. Kebudayaan adalah organisme yang bergerak dinamis. Ideal hari ini, bisa jadi kadaluarsa  esok hari.
Tapi sastra juga semestinya hadir sebagai keindahan. Kemarahan dan keindahan adakah harmonis? Saya sendiri agak tersengal-sengal membaca huruf-huruf penuh kemarahan.  Saya mendiskusikan novel ini dengan tetangga sebelah yang seorang Bali. Dia bilang, pernikahan perbedaan kasta di Bali masa kini makin membiasa. Seorang perempuan Brahmana tidak akan begitu jatuh ketika menikahi lelaki Sudra.
“Keturunan bangsawan Bali masa kini banyak yang jatuh miskin, hartanya habis untuk perayaan-perayaan adat. Sebaliknya, orang Sudra banyak yang berhasil secara ekonomi. Kalau mereka menikah nggak akan ada drama-dramaan semacam itu,” kata kawan Bali saya, nadanya entah kenapa terdengar sinis sekali. 

Comments