Posts

Showing posts from May, 2015

Fantasi dan Realitas Amerika

Image
Amerika. Siapakah yang tidak ingin ke sana? Amerika telah menjadi mitos pusat dari segala pusat dunia. Orang tak akan menjadi terkenal  ke seantero bumi tanpa melalui Amerika. Agnes Mo(nica), biduan terkenal kita itu pun terbang dan tinggal di sana demi mengejar karir internasionalnya.

Kuntowijoyo menulis kisah orang-orang Indonesia yang tinggal dan pernah bersinggungan langsung dengan negeri paling sohor di Planet Bumi itu. Mereka berasal dari hampir seluruh pelosok negeri yang kita sebut Indonesia; mereka berasal dari semua strata sosial dan profesi. Mulai dari sopir, pelajar dan mahasiswa, pekerja profesional, konglomerat, hingga pendakwah—minus biduan. Mereka yang berbagai-bagai itu datang ke sana disatukan oleh tujuan yang barangkali sama, impian hidup lebih bahagia.

Bukit Maneungteung

Image
Sambil menahan nyeri di bagian perut, Punang bangkit hendak menyibak gorden. Ketika tangannya terangkat hendak meraih gorden, pintu ruangan terdengar dibuka orang dari luar. “Sudah bangun kamu, Punang.” Seorang lelaki sepantaran dirinya muncul membawa dua botol minuman kaleng. Meletakkannya di atas meja kayu jati dengan suara hentakan yang sengaja dibuat nyaring, “Minumlah, saya tahu kamu pasti haus.” Terdengar desis soda ketika cincin pada kaleng minuman ditarik.

Mengembara di Jiran Negara (4)

Image
Salah satu kedekatan budaya Malaysia dengan kita adalah bahasa. Bahasa yang digunakan masyarakat kedua negeri ini bersumber dari bahasa yang sama. Bahasa Melayu. Beberapa jalan utama di Jakarta dan Kuala Lumpur menggunakan nama yang merujuk kepada sosok tokoh yang sama. Sebutlah Jalan Hang Tuah, Jalan Hang Jebat, Jalan Hang Lekir. 
Dalam perjalanan sejarah, bahasa Melayu yang digunakan masyarakat di kedua negeri ini mengalami perkembangan yang berbeda satu sama lain. Baik dialek maupun kosa kota.

Mengembara di Jiran Negara (3)

Image
Mungkin karena Malaysia negeri terdekat kita secara geografi dan budaya, kau akan dengan mudah menjumpai orang Indonesia di mana-mana; di pameran buku, di dalam bus, di penginapan, di pusat-pusat perbelanjaan, dan tentu di kedai penukaran uang atawa money changer. Salah seorang pelayan di hotel Seven Nite Inn asli orang Pademangan, Jakarta Utara. Namanya Leha. Dia sekurangnya sudah 10 tahun bekerja Kuala Lumpur.Nanti di dalam bus Go KL kami juga akan bertemu Chosin, orang Jakarta asal Bandung, yang kami temukan tengah celingukan sendirian macam anak hilang.
Dari Leha kami mendapat informasi mengenai bus Go KL, bus wisata gratis yang disediakan pemerintah Malaysia untuk para wisatawan.“Tunggu saja di halte seberang Kota Raya, bas Go KL berhenti di sana,” kata Leha dengan dialek sangat Melayu. Dia terlihat riang sekali bertemu dengan wisatawan dari Jakarta. Jadi, seusai beres menyantap sarapan kami langsung berkemas untuk mencari bus Go KL.Informasi dari Leha sungguh akurat, hanya men…

Mengembara di Jiran Negara (2)

Image
Kami meninggalkan penginapan atawa chek out lewat tengah hari dari hotel di Kota Melaka. Itu berarti kami dapat bonus dua jam karena kemarin chek in pukul 10 pagi. Agak sedih juga, mungkin karena merasa belum puas menikmati keasrian kamar dan lingkungan hotel. Saya belum nongkrong malam-malam di bawah menara dan sekadar menyapa orang yang lewat di sana. Untuk mengenang suasana hotel ini waktu sarapan saya menyempatkan membuat video suasana hotel menggunakan kamera saku yang saya bawa dari Jakarta, mulai dari menu sarapan, interior lobi yang hanya berisi beberapa pasang meja dan kursi, pesawat televisi layar datar 35 inci, pot bunga plastik, rak yang berisi buku-buku kartun, panduan wisata, novel, dan beberapa majalah dan tabloid berbahasa Melayu dan Inggris. Mata kamera juga merekam lorong dan tangga hotel, dan tentu saja keadaan kamar kami menginap.

Mengembara di Jiran Negara (1)

Image
Bersama dua orang kawan, selama sepekan saya menjadi pengembara di Malaysia akhir bulan lalu. Kami menginap di hotel murah, orang Malaysia menyebutnya penginapan pengembara. Kami mendarat di bandar udara Kuala Lumpur atawa Kuala Lumpur International Airport (KLIA) sekitar pukul 11 malam. Seperti sudah dirancang dari Jakarta jauh-jauh hari, begitu masuk bandara kami mencari lokasi menginap di bandara. Mengikuti informasi dari internet yang dikumpulkan kawan saya, kami bergerak ke lantai dua di mana terdapat kantor maskapai Air Asia. Informasi tersebut mengatakan di area depan kantor maskapai ini terdapat tempat untuk tidur bagi backpackper yang kemalaman.

Para Pejuang Masa Lalu dan Sekarang

Image
Kalau kita sesekali jalan-jalan di mal atau kampus-kampus mewah di Jakarta, kita akan dengan mudah bertemu anak-anak muda Ibu Kota yang cantik dan tampan dengan dandanan modis dari baju-baju bermerek. Mereka berseliweran atau nongkrong-nongkrong di kafe. Wajah-wajah yang bersih dan berseri-seri. Tawa mereka terdengar renyah dan manja. Segala yang melekat pada mereka adalah sesuatu yang mengabarkan kemakmuran, kegembiraan. Tak ada persoalan yang gawat. Semuanya serba mudah dan enak. Saya kadang iseng menghadap-hadapkan mereka dengan tokoh-tokoh fiksi dalam novel yang saya baca. Misalnya dengan tokoh-tokoh dalam kumpulan cerita ‘Percikan Revolusi Subuh’  (PRS) Pramoedya Ananta Toer.  Perbandingan yang tidak adil, itu jelas. Tokoh-tokoh dalam PRS berada dalam realitas sosial politik yang demikian gawat. Sementara anak-anak muda Ibu Kota masa kini di kafe-kafe sejuk dan ceria itu tampaknya berada dalam zona nyaman kebebasan dan kemakmuran.  Mereka sama sekali berbeda. Tak akan bisa saling…