Bukit Maneungteung



Ilustrasi diambil dari http://alampendaki.blogspot.com/


Sambil menahan nyeri di bagian perut, Punang bangkit hendak menyibak gorden. Ketika tangannya terangkat hendak meraih gorden, pintu ruangan terdengar dibuka orang dari luar.
 “Sudah bangun kamu, Punang.” Seorang lelaki sepantaran dirinya muncul membawa dua botol minuman kaleng. Meletakkannya di atas meja kayu jati dengan suara hentakan yang sengaja dibuat nyaring, “Minumlah, saya tahu kamu pasti haus.” Terdengar desis soda ketika cincin pada kaleng minuman ditarik.
Punang menoleh dan menatap lelaki itu. Lelaki yang sangat dikenalnya ketika mereka sama-sama remaja yang duduk di bangku madrasah tsanawiyah. Rasa nyeri makin merajam sekujur tubuhnya ketika ia hendak turun dari ranjang. Lampu yang menempel di dinding menyala terang. Baling-baling kipas angin berputar pelan di langit-langit. Ia merabai pakaiannya yang lecek dan penuh noda tanah merah memanjang bekas seretan di lantai. Beberapa kancing bajunya lepas. Matanya menyapu seisi ruangan dan mulai menyadari ruang dan waktu. Punang merasa haus,  tenggorokannya kering. Ia memaksakan diri bangkit perlahan-lahan. Diliriknya minuman kaleng yang dibawa lelaki itu.
“Maafkan kalau teman-teman sudah berlaku kasar,” ujar lelaki itu dengan nada yang tidak selaras dengan kata-kata yang diucapkan.
“Kamu menangkapku, Marjo? Di mana kawan-kawan yang lain?”
“Tenanglah, Punang. Minumlah. Semua aman-aman saja.”
“Satu saja mereka kau lukai, kuseret kamu ke pengadilan,” tukas Punang.
Punang menatap penuh kebencian sekaligus waspada kepada Marjo yang duduk tenang dan mulai menyalakan rokok. Cara Marjo merokok sudah jauh berubah dengan saat mereka baru sama-sama belajar merokok secara mencuri-curi pada jam istirahat sekolah. Marjo terlihat sudah sangat lihai. Bahkan yang dihisapnya sekarang bukan rokok biasa, melainkan cerutu. Punang ingat, dialah yang pertama kali mengajak anak kades itu mencoba-coba menghisap rokok. Punang yang sudah mahir menghisap asap tembakau terbahak-bahak puas seolah mendapat kemenangan melihat Marjo terbatuk-batuk bahkan sampai muntah setelah hisapan ketiga.
“Hisaplah, kawan. Kita lihat sekarang siapa yang lebih lihai memainkan asap tembakau,” ujar Marjo dengan mata melirik ke jendela. Punang mengamati kotak cerutu di atas meja yang memisahkan tubuh mereka. Ia tahu itu merek terkenal. Masa remajanya kini melintas-lintas lagi di kepalanya.
Sejak pengalaman pertama menghisap rokok, Marjo seperti kapok menyentuh rajangan tembakau yang digulung daun jagung, dan hal itu membuatnya diolok-olok banci. Tapi Punang  tak turut mengolok-olok karena ia tak ingin kehilangan teman yang uang sakunya selalu penuh dan royal menraktir makan bakso dan es cincau, nonton bioskop, serta tentu saja, menyuplai  rokok. Ayahnya yang juga pengepul pasir tampaknya selalu memberi berapapun uang yang diminta Marjo. Uang itu sering digunakan Marjo untuk meminta jawaban soal ulangan kepada Punang atau siapa pun yang mau menjual jawaban. 
“Hisaplah, kawan. Jangan jadi banci kamu,” ujar Marjo, terkekeh. Punang muak dengan olok-olokan masa remaja itu, bukan karena tersinggung melainkan ia ingin segera tahu apa yang diinginkan Marjo dengan menangkapnya serupa ini. 
“Aku punya dua kotak yang masih utuh kalau kamu mau.”
Punang sama sekali tidak tergoda mendengar tawaran itu. Bukan karena tidak suka cerutu, tapi ia tak mau masuk perangkap Marjo. Situasinya sudah berubah. Ia terus menatap Marjo yang begitu nikmat menghisap cerutu. Asap putih mengepul dari mulut dan lubang hidungnya yang mendongak angkuh. Anak kades itu bukan temannya yang dulu. Marjo kini juragan pasir sekaligus pengembang; armada truknya mengeruk pasir dari bukit di selatan desa. Perusahaan Marjo bahkan berencana akan meratakan sebagian bukit untuk dibangun perumahan di sana. Punang tahu bagaimana menghadapi pengusaha rakus semacam Marjo. Dengan uang dan anak buahnya ia bisa melakukan apa saja terhadap dirinya.
“Ayolah, kawan. Minum dan cicipilah cerutu itu,” kata Marjo. Ia mengenyakkan pantatnya di kursi.
“Marjo, hentikan basa basi ini. Cepat katakan apa yang kamu inginkan atau aku keluar sekarang,” bentak Punang sembari menggebrak meja dan membuat telapak tangannya terasa panas dan kemerahan.
Marjo tetap tenang. Ia terus memainkan asap cerutu dari mulutnya. Kini matanya menatap Punang lekat-lekat. “Seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu inginkan dengan melakukan aksi menghalangi-halangi truk-truk menambang pasir dari bukit?”
Pertanyaan Marjo persis dengan perkiraan Punang, dan ia tahu Marjo tidak akan mau mendengar penjelasan apa pun dari Punang perihal aksinya menggerakkan teman-temannya menghadang truk dan buldoser yang akan ke bukit itu. Marjo hanya ingin Punang menghentikan semua aksinya termasuk unjuk rasa di depan kantor bupati menuntut bupati mencabut izin perusahaan penambangan pasir Marjo demi menyelamatkan bukit dari kerusakan yang semakin parah.    
Dua bukit yang mengapit desanya kini sebagian gundul dan gersang. Bencana longsor mengancam akan menguruk jalan desa saat musim hujan yang sebentar lagi datang. Masa mereka remaja dulu dua bukit itu menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang dari desa desa sebelah, terutama anak-anak sekolah untuk berwisata di Monumen Perjuangan Maneungteung yang terdapat di puncak bukit. Kerimbunan pohon di atasnya mengalirkan mata air sepanjang tahun. Sungai di bawahnya berair jernih dan digunakan warga desa untuk mandi dan mencuci. Semuanya berubah dratis hanya dalam waktu 7 tahun! Menurut orang-orang tua, bukit itu dulu tempat para gerilyawan menyergap iring-iringan tentara penjajah. Monumen berupa patung orang memanggul senjata di puncak bukit dibangun warga untuk mengabadikan perjuangan para gerilyawan membunuh penjajah.
“Kamu tahu, Punang. Apa yang kamu lakukan hanya membuat penghasilan warga desa terganggu. Usaha penambangan pasir yang kulakukan telah memberi warga desa pekerjaan. Dari pasir itu mereka memperoleh uang sehingga mereka mampu membeli televisi, menyekolahkan anak-anak. Sekarang kamu tiba-tiba datang merusak harapan mereka. begini hasil kamu kuliah di kota? Kalau kamu butuh pekerjaan bicarakan baik-baik.”
Sampai 7 tahun lalu, sebelum Punang meninggalkan desa untuk kuliah di kota, ia masih nongkrong bareng dengan Marjo di warung kopi sambil menggodai gadis-gadis sebaya lewat ke sungai. Waktu itu Marjo masih belum becus merokok. Selulus madrasah aliyah Marjo tetap tinggal di desa dan melanjutkan usaha ayahnya jadi pengepul pasir. Sejak kuliah di kota Punang sangat jarang pulang ke desa dan bertemu dengan Marjo. Punang hanya mendengar kabar soal usaha Marjo yang makin maju dari cerita-cerita orang-orang. Truknya makin banyak. Bersama pemodal dari kota kenalan bapaknya Marjo kemudian mendirikan perusahaan pengembang. Secara iseng Punang berpikir, bagaimana mungkin orang yang belum becus merokok memimpin perusahaan, mengatur anak buah. Pada saat lain Punang juga mendengar perihal jalan yang menghubungkan desa mereka dengan kecamatan rusak berat lantaran dilewati truk-truk yang mengangkut pasir.    
“Mencari pekerjaan memang susah, Punang. Tapi kita bisa bekerja sama kalau kamu mau.”
Tiga tahun sejak lulus kuliah dan kembali pulang  ke desa Punang memang tidak punya pekerjaan yang jelas dan membuat orang tuanya cemas. Bukannya tidak pernah ia mendapat tawaran pekerjaan dari Marjo. Namun Punang lebih memilih mengisi waktunya dengan ngobrol bersama anak-anak muda yang dikumpulkan di rumahnya, meminjami mereka buku-buku, mengajari mereka menulis, main drama, dan membuat apotik hidup di pekarangan rumah, menanami kembali pohon di bukit yang gundul. Satu kesempatan Marjo mengunjunginya sambil menyumbang sejumlah dus kopi, gula, dan makanan ringan. Kepada Punang, Marjo membicarakan rencananya membangun vila-vila di sekitar monumen Maneungteung. Namun pembicaraan itu berakhir tegang. Tanpa pamit Marjo meninggalkan Punang yang terlihat cemas.
Beberapa hari setelah kunjungan Marjo, Punang bersama anak-anak muda desa mendatangi Marjo untuk membatalkan atau paling tidak merancang ulang rencana pembangunan vila-vila itu karena pembangunan vila-vila itu akan menggeser monumen dan mengancam kelestarian bukit. Namun, Marjo menyuruh anak buahnya menutup pintu gerbang rumahnya dan menolak bertemu mereka. Paginya Punang membawa anak-anak muda unjuk rasa di depan kantor bupati.
“Kamu pikir bupati akan menghiraukan kalian? Jangan harap. Mereka tak mau kehilangan kiriman cerutu!”
Malam kemarin sepulang dari unjuk rasa di depan kantor bupati, Punang bersama likuran anak-anak muda desa mendatangi lokasi penambangan dan membuat lubang-lubang untuk menanam separo tubuh mereka demi melindungi bukit dari cengkraman buldoser.
“Pikirkan baik-baik. Sebelum aku berubah pikiran.” Marjo bangkit meninggalkan Punang.
Gondangdia, Januari 2015
Cerpen ini awalnya disiarkan Tribun Jabar, Minggu 24 Mei 2015 

Comments