Fantasi dan Realitas Amerika


model oleh Nindya
Amerika. Siapakah yang tidak ingin ke sana? Amerika telah menjadi mitos pusat dari segala pusat dunia. Orang tak akan menjadi terkenal  ke seantero bumi tanpa melalui Amerika. Agnes Mo(nica), biduan terkenal kita itu pun terbang dan tinggal di sana demi mengejar karir internasionalnya.

Kuntowijoyo menulis kisah orang-orang Indonesia yang tinggal dan pernah bersinggungan langsung dengan negeri paling sohor di Planet Bumi itu. Mereka berasal dari hampir seluruh pelosok negeri yang kita sebut Indonesia; mereka berasal dari semua strata sosial dan profesi. Mulai dari sopir, pelajar dan mahasiswa, pekerja profesional, konglomerat, hingga pendakwah—minus biduan. Mereka yang berbagai-bagai itu datang ke sana disatukan oleh tujuan yang barangkali sama, impian hidup lebih bahagia.


Tetapi, bukan Kuntowijoyo namanya apabila membiarkan tokoh-tokohnya dapat menggapai impian mereka di negeri kosmopolitan itu. Kumpulan cerita ‘Impian Amerika’ jelas bukan kisah tentang kegigihan orang-orang yang berhasil menaklukan kesulitan untuk kemudian mencapai hidup bahagia seperti kisah-kisah motivasi yang sempat booming beberapa waktu lalu. Kuntowijoyo menghamparkan cerita-cerita kecil tentang problematika personal orang-orang biasa di negeri yang jauh dari tanah kelahiran.

Problematika yang mereka hadapi pun problematika biasa saja, seperti juga motivasi yang menggerakkan mereka datang ke sana. Mereka tidak membawa impian besar yang harus diperjuangkan secara berdarah-darah  dan rumit—adakah yang istimewa dari sekadar mengejar kebahagiaan? Penuturnya aku, yang nampaknya personafikasi pengarangnya, bersama istrinya yang selalu terlibat dan dilibatkan oleh aku ketika membantu dan menghadapi kawan-kawan atau orang Indonesia yang dijumpainya di Amerika.

Aku bertemu dengan keluarga Tio Tong Liem, sebuah keluarga pengusaha kaya raya warga negara Indonesia (WNI). Meskipun keturunan Tionghoa dan jauh dari  Indonesia mereka tetap mencintai Indonesia dengan segenap jiwanya.  Mereka menyukai wayang, memelihara burung, fasih bertutur dalam bahasa Jawa Kromo Inggil, dan memegang teguh adat budaya Jawa. Bila kau masuk rumahnya yang mewah di Amerika kau akan merasa seperti masuk rumah di Jawa. Perangkat gamelan, kandang burung dan burungnya sekalian tentu saja, kain batik, serta seluruh pernik-pernik budaya Jawa tidak sekadar ornamen melainkan ruh yang member napas pada seisi rumah. Tio bukan hanya mengoleksi benda-benda tradisional Jawa tapi juga hampir seluruh pelosok Indonesia.

Tio Tong Liem adalah contoh sempurna keluarga Indonesia yang mengukuhi akar budayanya meski hidupnya telah menjadi begitu kosmopolit. Bayangkan, usahanya tidak hanya di Indonesia, tapi  juga di Singapura dan memiliki saham di berbagai perusahaan di  banyak negara. Masalah muncul ketika putri semata wayangnya kabur dengan John, pacarnya, yang Amerika, hubungan mereka tidak direstui. Keluarga Tio Tong Liem menginginkan menantunya orang Indonesia.

Kunto juga mempertemukan kita dengan Tony, lelaki Indonesia yang mengalami gegar budaya namun hanya pada sisi-sisi yang enaknya belaka. Dia hidup serumah dengan pacaranya, seorang gadis Amerika, Gloria. Tony menolak mengerjakan kerja-kerja domestik semacam mengepel lantai, mencuci piring, membersihkan WC karena itu dianggap pekerjaan perempuan. Tony sungguh laki-laki tradisional untuk urusan pembagian kerja. Dia juga seorang male chauvinist, alias laki-laki yang berpandangan bisa memperlakukan perempuan semaunya di atas ranjang. Tidak mau mendengar pendapat perempuan.  Sebaliknya, Gloria sebagai pasangannya mencoba menjalankan peran sebagai sebagai perempuan tradisional yang setia. Bahkan Gloria kemudian meminta hubungannya diresmikan,alias menikah. Tony menolak. Dan ketika Gloria hamil, Tony menuduh Gloria melakukannya dengan lelaki lain.

Membaca cerita-cerita Kuntowijoyo di buku ini membuat kita menimbang kembali tentang apa-apa yang kita imajinasikan kita tentang Amerika. Amerika bukan lagi kata benda, ia telah menjadi kata sifat.

Comments