Mengembara di Jiran Negara (4)



papan iklan telepon pintar di lorong skybridges

Salah satu kedekatan budaya Malaysia dengan kita adalah bahasa. Bahasa yang digunakan masyarakat kedua negeri ini bersumber dari bahasa yang sama. Bahasa Melayu. Beberapa jalan utama di Jakarta dan Kuala Lumpur menggunakan nama yang merujuk kepada sosok tokoh yang sama. Sebutlah Jalan Hang Tuah, Jalan Hang Jebat, Jalan Hang Lekir. 

Dalam perjalanan sejarah, bahasa Melayu yang digunakan masyarakat di kedua negeri ini mengalami perkembangan yang berbeda satu sama lain. Baik dialek maupun kosa kota.
Salah satu perkembangan itu terlihat dari kosa kata atau kalimat yang sama namun memiliki makna berbeda, bahkan bertolak belakang. Secara iseng,  sejak tiba di Kuala Lumpur kami menghimpun kosa kata dan kalimat dalam bahasa Malaysia yang terdengar kocak dan janggal apabila kami bandingkan padanannya dalam bahasa Indonesia.  Kosa kata janggal yang pertama yang kami temui adalah ‘tandas awam’ untuk kakus atawa wc umum dalam bahasa Indonesia, atawa toilet dan restroom dalam bahasa Inggris.

spanduk promosi di ajang pameran buku
Sepanjang pengembaraan di Kuala Lumpur cukup banyak kami menemukan kosa kata dan kalimat yang kocak dan janggal semacam itu. Di dalam bus, ‘pintu darurat’ disebut ‘pintu kecemasan’,  tempat duduk untuk orang tua dinamai 'tempat duduk untuk orang kurang upaya'. ’Showroom mobil’  dan ‘tempat karoke’ masing-masing jadi ‘penjual kereta’ dan ‘tempat istrahat’.  Kau juga tak akan menemukan trotoar di sepanjang sisi jalan di Kuala Lumpur, karena orang-orang menyebutnya 'siarkaki'  Pada proyek-proyek perbaikan atau pembangunan jalan di Jakarta, petugas akan memasang plang bertuliskan ‘Mohon Maaf Mengganggu Kenyamanan Anda , Sedang Ada Perbaikan Jalan’, maka di Malaysia kalimat itu menjadi ‘Mohon Maaf Segala Kesulitan Sagat Dikesali’. Kalau kau ingin meramal masa depanmu, kau harus mencari kedai bertuliskan ‘Tukang Tilik Nasib’. Bagi telinga saya, kosa kata dan kalimat-kalimat dalam bahasa Malaysia, bukan hanya kocak tapi juga sering terdengar puitis.

papan promosi
Pada spanduk-spanduk di ruang pameran buku, saya mendapati kalimat-kalimat promosi semacam ini “Karangkraf Pemurah Giler! Tabur Duit Tunai”,  “Kempen Turun Harga Buku”.  Di sepanjang skybridges iklan sebuah smartphone bunyinya begini  ”Mengecas Lebih Pantas, Skrin Lebih Jelas, Kamera Lebih Terperinci”, “Mini dalam Saiz, Maksimum pada Keseronokan,”.  Di pusat-pusat perbelanjaan, kami menemui kalimat  “Teruskan Membeli Belah Dengan Harga Terendah Tiada Kenaikan Harga”.

Ketika ngobrol dengan Syam, pelayan penginapan tempat kami menginap, dia mengatakan , “Penginapan ini murah, tapi bagus dan bersih,”. “Dragon Inn yang di depan itu lebih murah, tapi banyak pijat-pijat.” Saya tergelitik bertanya, “Wah, berapa tarifnya?” Syam bengong. “Tarif apa?” Lalu saya menjelaskan tentang penginapan remang dengan fasilitas pijat-pijat plus yang banyak saya temukan di Jakarta.
poster film di stasiun KL Centre

iklan asuransi









“Oh, bukan pijat urut. Itu binatang kecil-kecil yang menggigit kulit.” Syah mencoba mencari padan katanya dalam bahasa Melayu dan bahasa Inggris yang sekiranya kami mengerti. Kutu busuk… kepinding… kami pun berceletuk menyebutkan padan kata yang kami tahu. Orang-orang di kampung saya di Cirebon menyebutnya tetinggi atawa tumbila.  Jangankah Syam, kawan-kawan saya orang Jakarta  yang berasal dari Magelang dan Tangerang saja tertawa-tawa mendengar padan kata untuk ‘pijat-pijat’ yang saya sebutkan itu.

tamat

papan peringatan

Loket penjualan tiket Rapid KL




Comments