Mengembara di Jiran Negara (2)



Sudut Kuala Lumpur

Kami meninggalkan penginapan atawa chek out lewat tengah hari dari hotel di Kota Melaka. Itu berarti kami dapat bonus dua jam karena kemarin chek in pukul 10 pagi. Agak sedih juga, mungkin karena merasa belum puas menikmati keasrian kamar dan lingkungan hotel. Saya belum nongkrong malam-malam di bawah menara dan sekadar menyapa orang yang lewat di sana. Untuk mengenang suasana hotel ini waktu sarapan saya menyempatkan membuat video suasana hotel menggunakan kamera saku yang saya bawa dari Jakarta, mulai dari menu sarapan, interior lobi yang hanya berisi beberapa pasang meja dan kursi, pesawat televisi layar datar 35 inci, pot bunga plastik, rak yang berisi buku-buku kartun, panduan wisata, novel, dan beberapa majalah dan tabloid berbahasa Melayu dan Inggris. Mata kamera juga merekam lorong dan tangga hotel, dan tentu saja keadaan kamar kami menginap.
Agak lama kami menunggu bus yang akan membawa kami kembali ke Melaka Central. Kami duduk menggelosoh di trotoar macam kaum hippies yang berbahagia. Mungkin sejam kami menunggu, Bus Panorama Melaka akhirnya muncul dan mengangkut kami ke Melaka Central. Dari sana kami mengambil bus jurusan ke stasiun kereta (subway) yang akan mengantar kami ke Plaza Rakyat, Kuala Lumpur, tepatnya kami turun di stasiun kereta yang bangunannya bersisian dengan UTC, Pusat Transformasi Bandar. Penginapan Seven Nite—yang juga kami pesan melalui jaya layanan booking hotel online— letaknya di Jalan Sultan yang sangat sibuk dan padat oleh pertokoan, warung-warung makan kaki lima di sepanjang trotoarnya. Tidak membutuhkan waktu lama menemukan penginapan bercat biru ini. Hanya sekitar dua ratusan ayunan langkah dari stasiun.
Jalan Sultan
Letak Jalan Sultan rupanya sangat strategis; ia tepat berada di titik pusat keramaian.  Ke China Town, Petaling Jaya, tinggal jalan kaki. Bergeser sedikit dari sana kau akan ketemu Central Market, pasar yang menjual oleh-oleh dan aneka cenderamata itu dibangun pada 1888, masa Kerajaan Inggris berkuasa di sini. Di seberang China Town adalah pusat perbelanjaan Kota Raya. Terminal bus berada di sisi kanan Kota Raya. Kabar buruknya bagi saya wilayah ini terlalu ramai. Suasana agak sedikit lengang pada pagi hari antara pukul 05-09. Orang-orang di sini memulai aktivitas pukul 09 ke atas. Semua bangunan di wilayah ini menggunakan dua bahasa, Melayu dan Mandarin.  Tapi untuk buku dan majalah yang dijual di toko maupun lapak kaki lima daerah ini hampir semuanya berbahasa Mandarin, huruf-huruf kanji yang tidak saya pahami sama sekali.
Malam pertama di Kuala Lumpur saya banyak istirahat mengumpulkan tenaga untuk bekal besok mengunjungi Pameran Buku Antarabangsa di Putra World Trade Centre (PWTC), menyaksikan kawan pengarang saya dikerubuti fans dan membubuhkan tanda tangan pada entah berapa ratus eksemplar novelnya sampai jarinya kesemutan. PWTC dicapai dengan subway tidak sampai 30 menit, tiketnya yang berupa koin plastik ditebus seharga 2 Ringgit. PWTC berdepan-depan dengan mal yang menyatu dengan hotel yang baru selesai dibangun. Terdiri dari lima lantai, PWTC saya rasa lebih luas dari Jakarta Convention Centre. Dan hebatnya ajang Pameran Buku Antarabangsa menghabiskan seluruh lantai PWTC. Pengunjung yang kebanyakan rombongan  anak-anak berseragam sekolah terlihat antusias menyisir stand demi stand buku, mereka memadati hampir tiap lantai. Mereka datang tampaknya sungguh-sungguh untuk mencari dan membeli buku, bukan sekadar jalan-jalan membuang waktu.
gambar diambil dari balkon penginapan
Seperti lazimnya ajang pameran buku, PWTC disemarakkan dengan jumpa penulis, peluncuran buku, diskusi, talkshow dan sebagainya. Pada sebuah sebuah stand buku penerbit yang tampaknya besar saya melihat ada bincang buku bertema persekongkolan Amerika dan Yahudi untuk menghancurkan Islam….upps. Penulisnya seorang bule yang konon mantan orang pemerintah Amerika  yang kini tinggal di Jakarta. Bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia dari bahasa Indonesia. Ia didampingi seorang editor dari penerbit—garis keras— yang menerbitkan bukunya di Indonesia.
Secara iseng saya bertanya padanya tentang tema persekongkolan Amerika Yahudi. Dengan semangat menggebu yang membuat saya terharu, editor itu menjelaskan konspirasi Amerika Yahudi untuk menghancurkan Islam. Kalimat-kalimatnya seperti rekaman yang diputar ulang. Tapi saya sengaja terus memancingnya, dan ia terlihat semakin bersemangat. Dia kelihatan puas melihat saya manggut-manggut menyimak pidatonya. Hiks!  Di luar tema persekongkolan Amerika Yahudi, dia mengundang kami mengirimkan naskah cerita anak. “Kami juga menerbitkan buku cerita anak,” katanya. Dia menyalami kami dan mengucapkan salam yang terdengar fasih.
stand yang menjual buku-buku sastra Indonesia
Kami melanjutkan menyusuri seluruh penjuru arena pameran, mencari stand buku-buku sastra Malaysia. Kami menemukannya, di sana terpajang judul-judul yang terdengar aneh, seperti Embargo karya Zahari Affandi, Lela Rentaka karya Syahidatul Munirah, Pembunuh Anarki karya Jasni Matlani, Kapal Perang karya Mohd Ali Salim, Sarjana Bangsa entah siapa nama pengarangnya. Aduh, siapa pun namanya, mereka adalah nama-nama yang tidak saya kenal.  Jujur saja, saya memang tak mengenal nama-nama pengarang Malaysia—apalagi yang terkini. Sebagian kecil pengarang Malaysia yang namanya pernah saya baca di majalah Horison adalah Abdul Razak Zaidan, Shanon Ahmad, dan entah siapa lagi… nama-nama itu rasanya tak saya temukan bukunya di arena ini. Mungkin saya terlewat.
pintu depan PWTC
Kami juga menjumpai stand yang menjual buku-buku sastra pengarang Indonesia, ada kumpulan cerpen Lelaki yang Terus Mencari Sumbi Hermawan Aksan, Gadis Kecil yang Mencintai Nisan Jusuf AN, Politik Sastra  Saut Situmorang, Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas Katrin Bandel. Saya juga melihat kumpulan puisi Penyair Midas Nanang Suryadi, buku puisi Heri Latief, dan entah siapa lagi. Gembira mendapati buku-buku pengarang Tanah Air terbang sampai negeri jiran.
Hari ini rasanya cukup, besok kami melanjutkan perjalanan mengunjungi ikon Malaysia yang terkenal itu: Menara Kembar Petronas dan Batu Caves. Saya meraba kantong dan mendapati Ringgit saya menipis, jadi saya harus mampir dulu ke money changer untuk membeli Ringgit.  
bersambung...

buku-buku sastra Malaysia

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka