Mengembara di Jiran Negara (3)



terminal perhentian bus Go KL, Pasar Seni.

Mungkin karena Malaysia negeri terdekat kita secara geografi dan budaya, kau akan dengan mudah menjumpai orang Indonesia di mana-mana; di pameran buku, di dalam bus, di penginapan, di pusat-pusat perbelanjaan, dan tentu di kedai penukaran uang atawa money changer. Salah seorang pelayan di hotel Seven Nite Inn asli orang Pademangan, Jakarta Utara. Namanya Leha. Dia sekurangnya sudah 10 tahun bekerja Kuala Lumpur.  Nanti di dalam bus Go KL kami juga akan bertemu Chosin, orang Jakarta asal Bandung, yang kami temukan tengah celingukan sendirian macam anak hilang.

Dari Leha kami mendapat informasi mengenai bus Go KL, bus wisata gratis yang disediakan pemerintah Malaysia untuk para wisatawan.  “Tunggu saja di halte seberang Kota Raya, bas Go KL berhenti di sana,” kata Leha dengan dialek sangat Melayu. Dia terlihat riang sekali bertemu dengan wisatawan dari Jakarta. Jadi, seusai beres menyantap sarapan kami langsung berkemas untuk mencari bus Go KL.  Informasi dari Leha sungguh akurat, hanya menunggu beberapa menit bus Go KL sudah menampakkan diri. Dia berhenti sebentar di depan halte untuk menurunkan penumpang. Kami segera melompat ke kabin bus begitu beberapa penumpang turun di halte.
interior kabin bus Go KL

Terdapat empat jalur bus Go KL. Masing-masing jalur memiliki rute dan warna bus yang berbeda, ada merah, biru, ungu, dan hijau. Bus Go KL yang melintas Kota Raya berwarna ungu. Di bus Go KL ungu ini kami melihat Chosin. Dia naik dari terminal Pasar Seni. Dia tampak sibuk membaca peta  yang erat dipegangnya. Kami yang duduk di bangku paling belakang melihat dia celingukan ketika mendengar suara kami yang bercakap-cakap dalam bahasa Jakarta. Dia melihat kami, tapi tampaknya ragu-ragu untuk menegur lebih dulu. Didorong oleh naluri menolong orang sekaligus menambah kawan….ahai! Saya mengambil inisiatif menyapanya lebih dulu.

Rupanya baru tadi malam dia tiba di Kuala Lumpur. Dia naik taksi dari KLIA menuju hotelnya di bilangan Jalan Hang Lekir.  Dia memilih taksi karena sudah lewat tengah malam. Tarifnya 25 Ringgit. Padahal Jarak KLIA ke hotelnya, kalau ditarik garis lurus, hanya sekitar 30 kilometer.  Ongkos taksi di Malaysia memang mahal. Mungkin karena harga mobil di sini juga mahal. Apabila di Jakarta harga MPV Rp500 juta, di Malaysia bisa tiga kali lipatnya. Hanya orang yang sangat kaya yang bisa beli mobil di Malaysia. Tak heran lalu lintas di Kuala Lumpur tidak sepadat di Jakarta. Jelas ini strategi pemerintah Malaysia menggiring orang naik kendaraan umum. Toh mereka sudah memiliki bus umum yang nyaman dengan jaringan transportasi yang lumayan baik. Ah, sudahlah jangan membicarakan keburukan pemerintah sendiri, bikin frustrasi…

kawasan Pavilion
Chosin jelas senang sekali bertemu dengan kami. Seperti kami, dia mau melihat Menara Kembar Petronas dari dekat.  Kami turun di halte dekat Pavilion, pusat keramaian lain di Kuala Lumpur. Hotel-hotel mewah, pusat-pusat perbelanjaan kelas atas, butik, restoran, kafe-kafe, dan segenap pusat bisnis lainnya yang lazim kaujumpai di kota-kota besar. Sepintas kawasan ini seperti kota-kota di Eropa barat, ditambah turis-turis bule, dan warga Malaysia sendiri yang terdiri dari India, China dan Melayu yang berseliweran di mana-mana, membuat atmosfer global terasa kuat dibanding Jakarta.

Di kawasan ini kami saling menuntaskan hasrat narsis yang dibawa dari Jakarta. Jeprat sana jepret sini, norak sekali. Toh tak ada yang akan peduli. Setelah bosan foto-foto kami melanjutkan perjalanan mencari Menara Kembar Petronas. Ternyata oh ternyata, apa yang kami cari tidak seberapa jauh dari Pavilion ini. Kami cukup menyebrangi jalan, lalu menerobos lorong-lorong kafe hingga kami menemukan skybridges, atawa jembatan panjang yang menghubungkan satu mal dengan mal lain.Waktu mau masuk skybridges kami bertanya kepada petugas kebersihan tentang arah ke Petronas, mereka menggelengkan kepala. Saat kami menyebut twin tower dengan sigap dia menunjukkan arah mana yang harus kami tempuh.
Petronas

Menara Kembar Petronas berada di kawasan bangunan megah lain yang mengelilingi semacam kawasan hutan kota dengan pohon-pohonnya yang besar, rindang, dan sangat tertata apik dan asri. Aduh, sudah berapa kali ya saya mengatakan apik dan asri? Well, bagaimana lagi? Itulah yang kami lihat dan rasakan. Di antara hutan dan taman terdapat kolam yang ternyata bukan sekadar hiasan, tapi boleh digunakan  untuk berenang anak-anak. Mereka tidak perlu membayar, alias percuma, kata orang Malaysia. Waktu kami ke sana banyak ibu-ibu datang dan membiarkan anak-anaknya berenang gembira di sana. Sementara mereka duduk mengawasi di bawah rimbun pohon-pohon sambil mancaplok bekal dari rumah. Meskipun begitu tidak akan kautemui serakan sampah. Karena selain petugas kebersihan berkeliaran di sana, tampaknya masyarakat di sini sadar betul kebersihan lingkungan.  

Hampir pukul 15 kami menghirup udara segar dan suasana nyaman nan permai kawasan ini. Kami kembali ke penginapan, mampir di warung makan langganan di dekat halte Kota Raya untuk mengisi perut sebelum berangkat lagi ke tujuan berikutnya: Batu Caves. Destinasi wisata kenamaan ini dicapai menggunakan kereta KTM dari KL Central. Kami menggunakan kereta berbeda, namanya LRT untuk sampai di KL Central. Batu Caves merupakan tujuan terakhir dari KTM. Kereta KTM ini sangat nyaman. Bangkunya sebagian ada yang menghadap ke depan dengan sandaran yang empuk dan tinggi, sebagian lainnya menghadap ke samping sehingga kau akan berhadapan-hadapan dengan penumpang lain. Batu Caves ini tempat wisata religi kaum Hindu yang berada di balik dinding bukit kapur yang curam. Patung Anoman raksasa berdiri gagah menyambut kami di dekat pintu masuk membelakangi kuil yang ramai oleh kaum Hindu yang tengah beribadah.

Chosin Nuari
Selain Anoman ada lagi patung raksasa, yaitu patung Dewa Murugan, dengan tinggi ratusan meter. Apabila Anoman dicat warna hijau terang, patung dewa satu ini tampil dengan warna kuning keemasan; berdiri di sisi kanan tangga beton yang menuju ke puncak bukit. Kami mendaki hingga ke puncak tangga yang berjumlah 272 anak tangga ini dengan perasaan ngeri. Di puncak tangga terdapat semacam rongga sangat besar yang di dalamnya terdapat kuil. Dari sini apabila kau melihat ke bawah  akan tampak pemandangan yang indah sekaligus seram karena begitu curamnya. Suasana seram makin terasa dengan banyaknya kawanan monyet di sulur-sulur pohon sepanjang tangga. Juga burung gagak yang beterbangan di antara ranting, lantai dan bangunan kuil.
patung Dewa Murugan, Batu Caves

Oya, perihal burung gagak ini kami tidak banya menjumpainya di Batu Caves, tapi di banyak tempat lain di Malaysia. Di tempat penginapan kami di Melaka kemarin, juga banyak sekali burung gagak berkaok-kaok terbang ke sana kemari, lalu hinggap berkerumun di atas bangunan.  Semula kami mengira burung merpati.  Suara kaokan mereka yang menyadarkan bahwa kami keliru.
      
kabin subway ke Batu Caves
Kami kembali ke penginapan sekitar dua jam menjelang tengah malam. Agak telat, karena kami mampir ke Pasar Seni, Central Market. Kawan baru kami minta diantar beli oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Rencana kepulangannya lebih cepat dari rencana semula. Jujur saja aktivitas belanja membuat saya tidak terlalu nyaman. Mungkin karena Ringgit saya tipis, selain itu saya selalu menganggap belanja sebagai aktifitas kaum konsumtif. Jadi, selama kawan-kawan saya belanja saya duduk-duduk di lobi, untungnya tak lama kemudian ada pertunjukan tari di pelataran utama lobi Central Market. Mereka menarikan lagu-lagu Melayu dan India secara berganti-ganti. Terakhir saya dengar mereka melantunkan lagu Rasa Sayange…. Lagu ini pula yang mengakhiri perjumpaan kami dengan Chosin.  “Nanti ketemu di Jakarta, ya,” dia bilang. Chosin tinggal dan bekerja di daerah Slipi.   

bersambung

Comments

Benny Jurdi said…
Heits kakaaaaa!
Hai Kaka Benjur, Thanks ya sudah berkunjung ke blog akuuuhh