Para Pejuang Masa Lalu dan Sekarang



Model oleh Dedi Kurniadi

Kalau kita sesekali jalan-jalan di mal atau kampus-kampus mewah di Jakarta, kita akan dengan mudah bertemu anak-anak muda Ibu Kota yang cantik dan tampan dengan dandanan modis dari baju-baju bermerek. Mereka berseliweran atau nongkrong-nongkrong di kafe. Wajah-wajah yang bersih dan berseri-seri. Tawa mereka terdengar renyah dan manja. Segala yang melekat pada mereka adalah sesuatu yang mengabarkan kemakmuran, kegembiraan. Tak ada persoalan yang gawat. Semuanya serba mudah dan enak.
Saya kadang iseng menghadap-hadapkan mereka dengan tokoh-tokoh fiksi dalam novel yang saya baca. Misalnya dengan tokoh-tokoh dalam kumpulan cerita ‘Percikan Revolusi Subuh’  (PRS) Pramoedya Ananta Toer.  Perbandingan yang tidak adil, itu jelas. Tokoh-tokoh dalam PRS berada dalam realitas sosial politik yang demikian gawat. Sementara anak-anak muda Ibu Kota masa kini di kafe-kafe sejuk dan ceria itu tampaknya berada dalam zona nyaman kebebasan dan kemakmuran.  Mereka sama sekali berbeda. Tak akan bisa saling menyelami satu sama lain.
Sebutlah Aku, tokoh dalam cerita ‘Dendam’. Ia seorang pemuda yang dilanda demam peluru; bergabung dengan tentara Republik untuk menunjukkan eksistensinya, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada kawan sebayanya. Menjadi tentara untuk mempertahankan Republik adalah kebanggaan. Namun ketika melihat kekejaman tentara Republik menyiksa seorang yang dituduh mata-mata penjajah, Aku terempas dalam perang batin; Aku  tak tahan melihat kekejaman itu, tapi Aku bahkan harus turut menyiksa mata-mata itu secara kejam demi membuktikan nasionalisme dan jiwa prajuritnya. Aku tidak bisa menghindar apabila tidak ingin dituduh cengeng, bahkan pengkhianat. Cengeng tampaknya bukan sifat prajurit. Prajurit harus berani melihat kekejaman dan melakukan kekejaman.  Sungguh berat situasi yang dihadapi Aku.
Aku tampaknya orang yang lembut hati; orang yang tidak tega melihat manusia dibantai di depan matanya dengan alasan apa pun. Tapi rupanya tak ada cara lain untuk membuktikan nasionalisme dan jiwa prajurit yang sangat membanggakan itu selain menyiksa mata-mata penjajah. Pada cerita ‘Ke Mana?’ kita bertemu dengan Manan, pemuda yang harus kehilangan cita-citanya menjadi insinyur lantaran kakinya putus oleh pecahan mortir dalam sebuah serangan melawan tentara penjajah. Cita-citanya yang tinggi membangun jembatan yang menghubungkan Madura-Surabaya, Bali-Banyuwangi kini berakhir menjadi seonggok tubuh sia-sia yang merepotkan keluarganya.
Kita juga bertemu Mahmud, tokoh dalam cerita ‘Jalan Kurantil 28’; Ia yang disangka gugur dalam pertempuran, kembali ke desanya dan menemukan bininya sudah membentuk keluarga baru dengan kawannya, Mamat.  Tak ingin mengganggu kebahagiaan istri dengan suami barunya, Mahmud berbalik dan meninggalkan desanya. Namun, Mamat memintanya untuk kembali memiliki istri, keluarga, rumah, dan kehidupan sebagai manusia normal. Mamat rela menyerahkan semua yang telah diambilnya dari Mahmud. Namun Mahmud menolaknya. Mahmud merasa telah kehilangan segalanya. Ia tak punya cita-cita. Tak punya rencana. Tak punya Tuhan. Bahkan tak punya dirinya sendiri. “Mahmud telah mati.”
Tokoh-tokoh dengan persoalan yang sangat menekan, penuh keputusaasaan, dan juga kebimbangan.  Mereka dihadapkan pada situasi yang diinginkan sekaligus dibencinya pada saat yang sama. Kita yang membacanya ikut merasa betapa hidup terasa hampa. Adakah yang lebih menyakitkan ketimbang perasaan sia-sia?
Tetapi apakah benar anak-anak muda Ibu Kota yang tertawa renyah dan manja di kafe-kafe itu bukan para pejuang? Mungkin di antara mereka juga terdapat pejuang seperti juga banyak orang-orang manja pada masa revolusi kemerdekaan. Tapi perjuangan mereka berbeda. Salah satu anak muda yang gemar duduk di kafe itu kawan saya, dia berjuang meyakinkan calon kliennya untuk jadi nasabah.
  

Comments

Cosin San said…
Salam, kapan kah kita melancong bersama lagi?

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka