Anak-anak Kesayangan Tuhan



lukisan karya Jose Navarro Llorens dari oceansbridges.com

Kata-kata ibu kami benar belaka, di sini kami lebih baik. Bisa terbang seperti kupu-kupu yang tak menginginkan apa-apa lagi, termasuk ayam goreng. Kupu-kupu yang tak memerlukan bantal dan selimut untuk tidur. Untuk apa kami berebut ayam goreng, jika rasa lapar dan ingin itu sudah tak ada; kenapa pula harus berdesak-desakan di tempat tidur bila ruang tidak lagi berdaya mengurung kami. Kami mengepakan-ngepakkan sayap, meluncur ke sana kemari. Kami memang harus menahan sakit luar biasa sebelum sampai ke tempat ini. Tapi rasa sakit itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa detik setelah ibu membenamkan kepala kami satu persatu ke dalam bak mandi.
“Mari, nak,” kata ibu kami sambil sambil membopong kami dan memasukkan kami ke dalam bak mandi yang airnya jadi meluber oleh tubuh kami, “tahan sebentar,” kata ibu kami lirih dan terdengar samar di telinga kami. Air matanya berlinang. Sejenak kami melewati ruangan yang sangat gelap setelah ledakan rasa sakit di dada kami lewat. Perlahan-lahan kami mendapati tubuh kami mengambang di ruangan sejuk dan lapang. Tangan kami saling bergandengan.
Airmata kami baru mengering hari itu ketika ibu memanggil kami. Ia menatap kami penuh kasih. “Ayam gorengnya sudah habis?” ibu bertanya lirih. Kami mengangguk. Mata kami melirik serpihan tulang ayam goreng berserak di lantai semen kusam. Ibu kami hanya membeli sepotong paha ayam goreng dari gerobak yang mangkal di muka gang rumah kami setelah kami merengek berjam-jam. Begitu ayam goreng yang kami idam-idamkan datang, kami langsung bersorak gembira, kemudian berebut. “Tidak usah berebut,” pinta ibu kami. Tapi kami yang sudah begitu lama menginginkan ayam goreng tak mengindahkan seruan itu. Kami bosan saban hari lauk makan kami hanya ampas tahu dan sayur kangkung.
Kami kerap menelan ludah setiap melihat teman-teman kami menggigit ayam goreng yang terlihat renyah dan nikmat diolesi saus merah menyala.  “Nah, makanlah. Sudah ibu bagi rata” kata ibu kami. Tapi bagaimana kami merasa puas kalau ayam goreng itu hanya sepotong untuk tiga orang? Jadilah kami menangis lantaran satu sama lain merasa mendapat bagian lebih kecil. Tangis kami berhenti setelah merasa capek sendiri.
Ibu membimbing kami ke kamar mandi. Kami pikir ibu hendak memandikan kami. Tapi ia menyuruh kami tidak perlu melepas baju kami. Sebelum membopong kami masuk ke bak mandi satu persatu ia memeluk dan menciumi kami—sekarang kami tahu kenapa ia melakukan hal itu. Kini kami mengapung di ketinggian. Di bawah sana kami melihat rumah kami yang lebih mirip kandang babi ramai oleh orang-orang yang terus berdatangan. Meski jarak yang jauh namun kami bisa melihat dengan jelas ibu kami yang terisak tanpa suara, duduk di samping bak mandi memeluki tubuh kami yang membiru.
Tak lama kemudian orang-orang berseragam coklat membawa ibu kami. Ia berjalan loyo dibimbing orang-orang berseragam itu. Ibu kami hanya menggeleng dan memejamkan mata menjawab pertanyaan orang-orang  berseragam itu sambil dikerumuni orang-orang yang makin membludak masuk ke dalam rumah kami sehingga rumah kami yang berdinding tripleks seperti mau rubuh. Para tetangga segera mengangkat tubuh kami dari bak mandi dan membaringkan di tengah ruangan. Ayah kami yang segera dijemput pulang dari tempat kerjanya di pabrik tahu oleh para tetangga langsung pingsan begitu melihat tubuh kami berjejer membeku di atas tikar plastik bergambar Upin Ipin. Ayah kami yang sering marah-marah dan memukuli kami berkali-kali meraung. Melihat kedatangan ayah, Ibu kami langsung berlari menubruk ayah kami dan menumpahkan tangisnya di sana.      
**
Setiap hari, begitu bangun tidur kami memang selalu dihadang pertanyaan bagaimanakah kami membeli beras yang harganya terus membubung. Akan tetapi haruskah Maryam membebaskan anak-anak kami dari derita kelaparan dengan cara begitu mengenaskan?
Maryam duduk di sudut ruangan. Mendekap lutut. Ia tidak menghiraukan kehadiranku yang berdiri di balik terali. Dia baru mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku setelah kupanggil namanya beberapa kali.  Matanya kosong, menatapku. Kupanggil lagi namanya. Kini dia bangun dari duduknya, menghampiriku.
“Maryam, ini aku.” Aku menjulurkan tangan. Matanya tetap kosong  dan letih sekali. Ia masih mengenakan daster itu, yang warnanya telah pudar.  Perlahan ia kemudian menyambut tanganku. Tangan kami saling memeluk tubuh kami satu sama lain yang dipisahkan terali.  Kudengar ia menangis, lirih. Suara tangis yang asing namun mengiris perasaanku.
“Mereka sudah ke surga,” ujar Maryam setelah tangisnya reda, “mereka sekarang bahagia.” Bibirnya yang sepucat wajahnya terlihat bergetar.
 “Boleh aku menciummu?”
Aku mengangguk. Selebihnya aku tak kuasa menahan air mataku yang ambrol hingga tubuhku sedikit terguncang.  Belum pernah aku merasa sepilu itu hingga tangisku mengguncang tubuhku.  Aku tak sanggup untuk bertanya kenapa ia bisa melakukan perbuatan itu. Perbuatan yang tak pernah kupikirkan dapat dilakukan oleh orang selembut dia; menyebabkan dia dikurung di terali besi ini dan hidup kami lebih dari sekadar berantakan. Aku bahkan tak  mampu berkata apa pun lagi, lidahku kelu, pikiranku buntu bagaimana mencerna semua peristiwa ini,  sampai petugas menghampiriku, berdeham untuk memberi tanda bahwa waktu membesuk sudah selesai.
Aku melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Perutku keroncongan. Tapi tak ada gairah sama sekali untuk makan sejak empat hari lalu, kecuali mengigit beberapa potong biskuit eceran dari warung kecil kami. Peristiwa itu nyaris memporak porandakan kewarasanku.  Aku meraba saku bajuku. Ada beberapa lembar sepuluh ribuan di sana, sisa uang belasungkawa pemberian para tetangga.  Masih perlukah aku pulang?  Pertanyaan  itu menyesaki benak. Pasti mereka, para wartawan itu, sudah menungguku. Mungkin mereka kini sedang berkeliaran di sekitar rumahku, memotret sana sini, menanyai para tetangga.
Mimpi buruk itu terjadi empat hari lalu, tapi tak habis-habis mereka berdatangan ke rumahku, berbasa-basi menyatakan belasungkawa sebelum tak puas-puas bertanya tentang kehidupan kami. Itulah tujuan utama mereka sebenarnya. Mengulik keseharian kami yang buat kami sebenarnya biasa-biasa saja seandainya tidak terjadi peristiwa tewasnya anak-anak kami.
Tak perlu lagi kuceritakan bagaimana peritiwa itu terjadi. Kalian pasti sudah mengetahuinya melalui berita di televisi dan koran. Meski tidak tepat benar, karena rupanya para wartawan itu gemar menjadikan peristiwa pedih sebagai drama menarik, tapi begitulah kurang lebih yang terjadi. Istriku adalah perempuan saleh yang tak pernah membantah perintah suami. Memang begitu seharusnya, bukan? Seperti dikatakan para pemuka adat dan agama yang gemar mengutip ayat ayat kitab suci untuk keperluan mereka sendiri.
Dia membantu menambah penghasilan keluarga dengan membuka warung kecil yang menjual  jajan anak-anak. Ada  ciki-cikian, kerupuk, goreng-gorengan dan sejenisnya. Hasilnya tentu saja sangat kecil. Aku tahu kita punya pemahaman yang tidak sama dengan kata ‘sangat kecil’ itu. Yang ingin kukatakan adalah setidaknya sedikit mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan jajan anak-anak kami. Aku bekerja di pabrik tahu. Pekerjaanku mengantarkan tahu ke kepada  pelanggan di pasar dan warung-warung.
Begitu saja. Tak ada yang menarik dalam kehidupan serupa itu kecuali tentang kerepotan kami membeli beras dan menyediakan biaya menyekolahkan anak-anak, serta tentu keinginan-keinginan kami yang harus kami pendam dalam-dalam saban melihat para tetangga yang membeli ini itu yang tampaknya membuat kita merasa gembira.
Beberapa hari sebelum peristiwa itu, semua baik-baik saja. Kami menjalani  kegiatan seperti biasa. Aku bangun sebelum subuh untuk berangkat ke pabrik tahu. Demikian pula istriku, ia pergi ke pasar untuk berbelanja. Ia akan sampai kembali ke rumah sebelum anak-anak kami terjaga. Ia akan memasak nasi  untuk makan anak-anak lantas menyiapkan dagangan, mengadon bahan goreng-gorengan. Kalau ada yang tak biasa adalah ketika menjelang tidur istriku bilang bahwa tadi siang anak-anak kami menangis. Ini pun sebenarnya biasa saja. Apa anehnya dengan anak-anak yang menangis? Walaupun suara tangisan mereka sering membuatku tambah marah dan memukuli mereka.
“Mereka berebut ayam goreng,” kata istriku dengan nada, yang belakangan kusadari, putus asa.  
**
Bukan ayam goreng yang menjadi musabab aku melakukan perbuatan itu. Tapi mimpi-mimpi itu. Mimpi yang berulang kali menyambangi tidurku. Mimpi yang begitu nyata. Bahkan suara lelaki itu terus mendengung di kuping sesudah aku terjaga. Lelaki cahaya dengan rambut hitam panjang dan berkilau itu muncul di sana, di dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Dia menjajari langkahku ketika aku ke bergegas ke pasar.  Dia muncul di sela-sela los pasar. Wajahnya begitu tampan,  seperti tak tersentuh debu, suaranya alangkah merdu. Ia berkata sudah tak ada waktu lagi menahan-nahan untuk membawa anak-anak kami pergi bersamanya.
“Maryam, kami lebih bisa menjaga mereka,” suara itu. Aku tak mengenal laki-laki ini. Aku tak pernah mengenal laki-laki selain suamiku.  Tapi setiap aku mau bertanya siapa dirinya, lidahku selalu kaku oleh segala pesonanya yang memancar dan membuatku tertunduk.
“Kasihanilah mereka, Maryam,” lelaki itu terus berkata.  “Kembalikan mereka kepadaku. Tatap wajah mereka. Ini bukan tempat yang bersahabat untuk anak-anak itu.” Lalu dia menuturkan bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kami yang lucu dan tak berdosa itu kepadanya.
“Lakukanlah. Kalau kamu benar-benar menyayangi mereka.” Lelaki itulah yang menuntunku melakukan penyelamatan itu. Kini mereka telah bebas.  

Gondangdia, Maret 2015 
Cerpen di atas pernah disiarkan Fajar Sumatera, Jumat 19 Juni 2015 dan tabloid Nova 27 Juli-3 Agustus 2015

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka