Brilliant Classical Artistry



Jove Winston, bocah 9 tahun itu, berjalan ke tengah panggung. Di sana sudah teronggok piano berukuran besar. Tubuh mungil Winston seperti hendak tertelan perangkat musik tekan itu. Tapi beberapa saat kemudian, saya dan hampir limaratusan penonton yang tertelan oleh permainan piano Winston yang menghanyutkan. Ia membawakan nomor A New Hope karya  Levi Gunardi sebagai pembuka konser musik klasik bertajuk Brilliant Classical Artistry, Jumat (12/6) malam lalu.
Konser Brilliant Classical Artistry di Balai Sarbini, Jumat (12/6).  
Foto karya Budi Kosasih
Nomor-nomor berikutnya, yang dimainkan secara berturut-turut oleh Melinda Elextra Witono, Steven Ryan Priyatna, Ravel  S. Gunardi, Adam Putra Perdana, dan Jonathan Koe, menerbangkan saya dalam ruang imajinasi yang membius. Tetapi tentu, permainan Levi Gunardi dan kolaborasinya dengan Twilite Orchestra pimpinan Addie MS yang paling memukau. Jujur saja saya merasa beruntung menyaksikan konser musik klasik sokongan sebuah bank swasta terbesar di Indonesia itu, bukan karena dapat undangan gratis, tapi juga memberi saya pengalaman baru yang menyenangkan.
Ini kali kedua saya menyaksikan pertunjukan musik orchestra. Pengalaman pertama adalah pertunjukan konser Wayang in Symphony, Teater Taman Ismail Marzuki tiga tahun lalu yang agak sulit saya nikmati lantaran terlalu membosankan. Konser  Brillliant Classical Artistry berdurasi lebih dari 120 menit, namun terasa begitu singkat. Saya mendapati para penonton tiba-tiba berdiri dari kursi masing-masing untuk memberi aplaus yang begitu panjang, seluruh pemain musik berdiri berjajar menghadap penonton seraya menjura berulang, dan saya harus segera bersiap bekerja, meminta testimoni sejumlah penonton.
Setiap nomor dimainkan, saya selalu teringat adegan-adegan dalam film Eropa yang hening, nglangut, romantis; jalan-jalan raya yang lengang, guguran salju; gedung-gedung yang beku memucat, kerangka pohon bagai duri-duri ikan raksasa di tepi kota yang redup. Perasaan sunyi yang membuat nyaman dan kerasan. Saat Addie MS, sang konduktor, memandu penonton untuk bertepuk tangan dengan irama dan tempo tertentu, untuk melengkapi permainan musiknya, pertunjukan semakin terasa hangat dan kudus.  
Menyaksikan konser musik klasik adalah sebuah kemewahan. Bukan hanya di negeri bekas jajahan macam Indonesia, tapi di negeri asalnya pun, nun di Eropa sana, tampaknya tidak sepopuler konser musik pop. Ini jenis musik yang jarang dipentaskan karena sedikit penggemarnya dan pemainnya membutuhkan kesabaran dan kesungguhan luar biasa untuk mampu memainkannya dengan baik. Dan penonton konser ini tampil lebih ‘beradab’. Mereka tidak berteriak-teriak atawa turut menyanyikan lagu karena memang tidak ada syair dan vokal. Mereka duduk tertib dan khidmat sepanjang pertunjukan. Mereka hanya bertepuk tangan panjang setiap nomor yang dibawakan berakhir. Sementara para pemusik di panggung khusyuk memainkan musik seperti tengah mempersembahkan ibadah terbesarnya bagi dewa kesenian.   

Comments