Ke Pasar Ikan, Perkampungan Nelayan, Ernest Hemingway

Model diperani oleh Sheilla
Saban pulang ke desa hampir setiap akhir pekan, saya mengunjungi pantai. Duduk di tembok beton penahan gelombang, kami memandang pertemuan laut dan langit nun di batas cakrawala; melihat perahu-perahu nelayan di kejauhan yang tampak seperti kapal mainan masa kanak dulu. Gerumbul kehijauan pohon bakau di tepi yang lain. Bersama si bungsu dan ibunya saya akan melewati keriuhan pasar dan tempat pelelangan ikan, deretan perahu nelayan yang ditambatkan di sisi sungai menuju muara, hamparan tambak udang, ladang garam, tempat penjemuran ikan, dan tentu saja perkampungan nelayan. Jarak rumah saya ke perkampungan nelayan sekitar 10 kilometer. Kami mengandalkan sepeda motor untuk mencapai pantai. Kami duduk sambil menyantap mie ayam dan menyesap tah manis dari para penjual yang menggelar lapak-lapak dagangannya di sisi dermaga.


Perkampungan nelayan, kau tahu, tak pernah tampak enak dipandang. Jaring ikan tampak berkibaran di mana-mana menebarkan aroma amis ikan yang kadang membuat lambungmu bagai disodok dari dalam. Sampah plastik berjejalan di got-got berair kental kehitaman.  Riuh rendah orang tawar menawar bersaing dengan suara derum mesin perahu yang hilir mudik di muara, serta suara jejeritan bocah-bocah berambut kemerahan terbakar matahari. Dari jalur pantai utara, daerah pantai berjarak sekitar satu kilometer ke arah utara.

Saat melintas perkampungan nelayan atau kadang sambil membeli ikan di tempat pelelangan ikan seperti itu, imajinasi saya kerap hinggap pada kisah dalam novel Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway yang terkenal itu. Sebuah kisah mengharukan tentang nelayan tua Kuba yang kesepian di tengah keriuhan perkampungan nelayan. Lelaki tua yang keras kepala memelihara keteguhannya yang mengagumkan sekaligus mengharukan.

Ia berlayar sendirian ke tengah laut untuk menangkap ikan marlin. Kala malam hanya ditemani kerlip cahaya bintang.  Lelaki tua yang kulitnya lekat dengan aroma asin garam dan amis ikan demi membuktikan kemampuannya berjuang mati-matian menangkap ikan marlin yang seolah meledeknya. Setelah 84 hari gagal ia akhirnya berhasil menangkap seekor ikan marlin yang besarnya hampir seukuran perahu.  Diikatnya ikan tangkapan itu di haluan dan buritan. Namun sepanjang perjalanan ke darat ikan marlin tangkapannya habis diserang ikan hiu dengan buas.  Adegan lelaki tua menangkap ikan sendirian di tengah laut dan kegigihannya menghalau ikan hiu yang buas menyerobot ikan hasil tangkapannya di bawah langit yang menggelap ditinggalkan matahari sangat menggentarkan. Mengapakah lelaki tua itu begitu tabah, begitu gigih, begitu setia? Perjuangan pantang menyerah, kesabaran, ketangguhan, itulah barangkali pelajaran yang bisa diambil bagi para pemburu pesan dari novel tipis ini.

Membayangkan adegan itu kita seperti disuguhi drama pergulatan manusia di muka bumi; terayun-ayun di antara begitu banyak ancaman yang siap menelan tanpa ampun; yang kita miliki untuk bertahan  hanya perahu kecil yang rapuh. Tapi di sanalah perjuangan jadi begitu berharga. Laut yang bertahun-tahun diakrabi menyediakan begitu banyak harapan sekaligus ancaman.  Di antara harapan dan ancaman itulah tampaknya hidup yang sesungguhnya.  Dan itu sungguh menakjubkan.

Kunjungan kami ke laut biasanya diakhiri dengan menjinjing ikan melalui tawar menawar yang kadang memerlukan kegigihan seperti pergulatan nelayan tua yang terayun-ayun di antara ancaman dan harapan di tengah lautan.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka