Prosa yang Merdu

Model diperani oleh Artha
Mari kita bicara sastra. Bicara sastra tentu bukan membicarakan daun-daun berguguran di halaman rumahmu--kalau rumahmu ada pohon dan halamannya tentu saja.  Bukan. Tapi tentang sebagian prosa karya pengarang Indonesia, baik novel, cerpen, atau di antara keduanya yang ditulis secara indah yang dibentuk oleh kalimat-kalimat berirama serupa musik layaknya puisi bahkan pantun. Para pengarang  terlihat begitu serius dan bekerja keras mengkontruksi kalimat yang memiliki efek bunyi yang ritmis. Banyak yang berhasil dan tidak sedikit yang gagal. Yang berhasil adalah prosa tetap memiliki cerita yang kokoh dengan alur dan tokoh yang tetap teraba kehadirannya. Tampilan kalimat yang merdu tidak sekadar memperkuat suasana tertentu di dalam realitas fiksi yang hendak dibangun pengarang, tapi juga menjadi ungkapan yang memperkaya. 

Sebaliknya, yang gagal adalah kalimat-kalimat merdu tersebut menggelamkan cerita, alur, tokoh, dan setting waktu maupun lokasi. Kegagalan biasanya disebabkan pengarang terlalu mengejar efek bunyi.  Pengertian-pengertian sederhana yang diusung kalimat berirama menjadi sayup, menjauh, dan hampir hilang. Kita menyebut prosa yang berhasil menampilkan bentuknya dengan kalimat-kalimat merdu sebagai prosa yang puitis.

Prosa yang ditulis Triyanto Triwikromo, antara lain yang berjudul Surga Sungsang, boleh dikatakan termasuk prosa yang ditulis dengan kontruksi kalimat yang sangat penuh pertimbangan bunyi dan suasana puitik. Triyanto yang boleh dikatakan sebagai salah satu pengarang garda depan Indonesia terkini yang mengeksplorasi bunyi dalam menghidupkan kalimat-kalimat dalam prosa yang ditulisnya. Dengarlah kalimat pada cerita pembuka berjudul Burai Api: Kufah tidak percaya pada akhirnya orang-orang kota benar-benar  akan menghancurkan Makam Syekh Muso yang menjulur di ujung tanjung yang dikepung oleh hutan bakau dan cericit ribuan bangau.
Untuk menghasilkan kalimat-kalimat indah secara bunyi semacam itu memerlukan jam terbang yang tinggi disertai ketekunan, ketelatenan, dan tentu saja keimanan. Sebuah konsistensi yang tidak hanya berhasil menyuguhkan susunan kalimat yang begitu merdu dan menciptakan realitas fiksi imajinasi yang menghadirkan suasana mencekam, menghamparkan gambar-gambar filmis kehidupan sebuah tanjung suwung dalam kepala pembaca. Dengarlah judul-judul yang memberi sugesti kuat kepada suasana, seperti Pendekar Perut Kosong, Ular yang Selalu Ingin Melilit Rembulan, Penjaga Seribu Pintu, Perampok Pengendus Surga, Pemuja Malam Seribu Bulan, Penghafal Ayat Beraroma Jeruk, Kekasih Angin Bergelang Cacing, Akat yang Harum dan Terus Menjalar, Petempur Suwung.
Kontruksi kalimat yang disusun Triyanto—meskipun beberapa terkesan memaksa dan memamerkan bacaan—mampu menghadirkan kekhasan yang tampaknya hanya menjadi miliknya. Setidaknya, apabila kita mendapati kalimat serupa itu tanpa mengetahui nama pengarangnya, kita akan segera tahu bahwa itu kalimat Triyanto Triwikromo. Ketekunan pengarang satu ini dalam menyusun kalimat-kalimat merdu bahkan terkesan begitu obsesif.
Pada titik ini, Triyanto agaknya telah menjalankan tugasnya sebagai seorang sastrawan, yaitu menemukan jalinan bahasanya sendiri dari bahan yang melimpah untuk mengekspresikan imajinasinya yang memperkaya ungkapan. Mari kita nikmati lagi kalimat-kalimat penuh irama musik dalam buku ini. Akar-akar masih menjalar serupa ular sehingga siapa pun yang berada di ujung tanjung berhadapan dengan kengerian yang tak kunjung hilang. (hal 17)
Barang lama
Pertanyaannya, sungguhkah prosa yang hadir dengan kalimat-kalimat merdu disebut sebagai prosa puitis?  Penampilan prosa dengan bebunyian kalimat yang ritmis dan sebaliknya—puisi yang tampil dengan gaya prosaik—seperti yang dikerjakan Triyanto bukan kecenderungan baru. F Rahardi, dalam esainya di Kompas, 2006, menulis bahwa kecenderungan tersebut sudah berlangsung sejak berabad-abad silam. Epos dan prosa lirik lahir dari kecenderungan serupa ini.  Dari sini mungkin di antara kita akan mengapung pertanyaan, apakah sesungguhnya yang membedakan prosa dari puisi?  Sapardi Djoko Damono dalam buku Bilang Begini, Maksudnya Begitu (Gramedia, 2014) memberi ilustrasi, rentetan kalimat yang disebut puisi kadang hanya karena kalimat-kalimat yang membentuknya terbagi dalam bait-bait. Apabila baris-baris kalimat itu tidak dipenggal menjadi bait-bait, atau dibiarkan hadir dalam paragraf-paragraf panjang, ia tidak akan berbeda dengan novel, laporan jurnalistik, teks berita acara, dan jenis tulisan lainnya.

Kalau demikian, bagaimanakah membedakan prosa yang puitis dengan puisi yang prosaik? Atau lebih tegas lagi, apakah yang membedakan prosa dan puisi? Pada era sastra purba, prosa digunakan untuk menuliskan kisah raja, dongeng binatang cerita kepahlawanan. Puisi difungsikan sebagai doa dan mantra. Puisi purba adalah alat komunikasi untuk menyampaikan perasaan kolektif kepada satu individu. (F Rahardi, 2006)

Dari paparan F Rahardi, kita dapat menarik simpulan, puisi ditulis untuk menyampaikan perasaan, sedangkan prosa untuk menyampaikan pikiran.  Tetapi benarkah demikian? Bagaimana membedakan perasaan dan pikiran apabila di dalam wujud teks keduanya berjalin berkelindan sedemikian rupa? Kata, yang membentuk kalimat, memiliki watak dasar tidak setia pada satu pengertian. Berangkat dari watak kata yang selalu mendua melahirkan tafsiran yang tidak tunggal bergantung konteks, suasana, situasi, dan penekanan tertentu. Dalam titik ini kita sulit menghindar dari kekuasaan pembaca, bukan pengarang. Seorang pengarang boleh saja bermaksud menulis atau menyebut teks yang ditulisnya sebagai puisi atau prosa, namun pembacalah yang akan meresepsi teks tersebut sebagai puisi, prosa, risalah sosial, laporan perjalanan dan sebagainya.


Menghadapi prosa yang puitis atau sebaliknya puisi yang prosaik sesungguhnya hanya perkara resepsi dan penafsiran kita sebagai pembaca.  Apa yang disebut sebagai puisi bisa jadi adalah prosa, juga sebaliknya. Pembaca berkuasa menafsirkan setiap teks untuk diresepsi sebagai apa saja. Teks Sumpah Pemuda bagi Sutardji adalah sebuah puisi yang sangat indah. Demikian pula puisi Joko Pinurbo, bisa jadi adalah prosa yang mirip puisi atau sebaliknya, akan halnya dengan prosa Surga Sungsang yang ditulis Triyanto dengan kalimat-kalimat seperti musik, bisa juga disebut sebagai puisi yang prosaik. Itulah barangkali sebabnya ada sejumlah media yang tidak menerakan sebutan cerpen dan puisi pada halaman budaya yang berisi karya sastra. Mungkin pengasuhnya berpikir bahwa pembaca tak mau didikte. Mereka diberi kebebasan untuk menyebut cerpen sebagai puisi dan sebaliknya.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka