Cerita Wanita di Majalah Pria



Model oleh Putri

Dulu kita mengenal majalah khusus pria Matra. Meskipun khusus pria  dengan jargon Majalah Trend Pria, Matra banyak disukai  dan dibaca wanita, setidaknya itulah isi jargon lain majalah ini. Matra menyediakan ruang cerpen yang cukup disegani dengan awak redaksi yang barangkali membuat gentar para cerpenis masa itu:  Nano Riantiarno, Sori Siregar, Danarto, Kun S Hidayat, Nuriyah Abdurrahman Wahid, Toeti Indra Malaon yang tentunya sangat ketat menyeleksi cerpen-cerpen yang akan disiarkan di sana.  
Dari majalah ini konon banyak lahir cerpen-cerpen berkualitas baik. Seorang kritikus sastra bahkan secara eksplisit mengatakan Matra, majalah yang selalu menampilkan wanita dalam pose sensual di sampul depannya ini, telah mengambil alih peran majalah sastra Horison dalam melahirkan cerpen-cerpen bermutu sejak paruh terakhir 90-an.
Matra sudah lama tutup. Saya tidak tahu sejak tahun berapa. Kalau tidak salah setelah secara berturut-turut  memajang foto Inneke Koesherawati dan Sophia Latjuba sebagai sampul  dalam pose yang mengundang kehebohan. Sejak itu tidak ada majalah khusus pria yang di dalamnya menyediakan ruang cerpen yang digarap serius. Majalah Playboy memang sempat terbit dengan ruang cerpen di dalamnya, namun tidak dilakukan secara konsisten. Usia majalah ini juga tidak panjang. Brand Playboy sebagai majalah prono, memicu unjuk rasa yang digerakkan Front Pembela Islam, hingga majalah ini pindah kantor ke Bali.
Lalu hadirlah majalah Esquire, sebuah majalah waralaba yang berkantor pusat di Inggris. Dengan menyasar pembaca pria urban mapan perkotaan, majalah Esquire tampaknya hendak mengambil pasar yang semula diisi Matra. Saya mengenal majalah Esquire sekitar paruh terakhir 2000-an. Saya menemukannya di kios majalah bekas di bilangan Daan Mogot. Waktu itu saya bekerja di sebuah tabloid wanita yang berkantor di daerah ini. Saya membuka-buka halamannya dan mendapati ruang cerita pendek.
Cerita pendek yang saya baca pertama kali di sana saya ingat besutan Eka Kurniawan, tapi saya lupa judulnya. Lalu saya iseng mengirimkan cerpen ke sana. Beberapa bulan kemudian, setelah saya pindah kantor, cerpen saya disiarkan majalah ini. Dua tahun berikutnya cerpen saya kembali disiarkan Esquire. Cerpen kedua saya yang tayang di majalah ini, bersama karya sejumlah pengarang lainnya pada Januari lalu diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Pesan untuk Kekasih Tercinta. 
Sebagai majalah yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai majalah pria, seperti Anda, saya penasaran apa definisi pria yang dimaksud majalah ini (dan majalah pendahulunya). Saya berpikir barangkali mengacu kepada konstruksi dan stereotip pria yang berkembang dan diyakini secara kolektif, yakni  kuat, keras, berani, rasional, pemimpin, mandiri, ambisius, superior, dan seterusnya yang melekat pada mahluk dengan kelamin menjuntai ini. Dengan kata lain, majalah ini hendak memperkokoh konstruksi sosial tentang pria dalam masyarakat patriarki. Maka cerpen-cerpen yang disiarkan majalah ini yang kemudian dibukukan menampilkan identifikasi pria sebagaimana yang diproduksi terus menerus oleh masyarakat patriarki.
Benarkah demikian? Begitulah sekurangngnya kesan saya. Mengikuti kesan itu, dulu saya mengirimkan cerpen ke majalah ini dengan tema superioritas pria. Begitulah sebagian besar tema cerpen yang disiarkan Esquire. Wanita hadir dalam cerpen-cerpen ini hanya untuk dijadikan obyek keperkasaan pria.
Jadi, apa mau dikata cerpen-cerpen dalam buku ini memang turut membangun, memperkokoh, dan melestarikan masyarakat patriarki. Apabila media umum (majalah, koran, tabloid, website, televisi) secara tidak sadar memperkokoh konstruksi dan stereotip  pria dalam pemberitaan maupun opini-opininya, maka majalah ini secara sadar membangun, memperkokoh, melestarikan, dan memproduksi makna secara terus menerus apa yang disebut pria.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka