Makna Perempuan



Apakah seorang wanita lahir ke dunia hanya untuk dijadikan bahan perbandingan…
Syair lagu dangdut berjudul Payung Hitam yang dilantunkan Iis Dahlia itu membawa pesan terang benderang tentang ketertindasan perempuan oleh lelaki.  Apa dan dengan siapa dibanding-bandingkan? Tampaknya bukan hanya tubuhnya, perangainya, tapi juga, ini yang tampaknya paling krusial, kemampuannya menyenangkan lelaki. Lelaki menjadi subjek yang membanding-bandingkan perempuan dengan perempuan lainnya, untuk kemudian dipilih yang paling menarik (tubuhnya), paling elok dan manut (perangainya) kepada lelaki, dan paling mahir (memenuhi kesenangan lelaki). Itulah makna perempuan bagi laki-laki, pemaknaan yang kadang juga dikukuhkan oleh perempuan sendiri.
Model oleh Dedi Kurniadi
Pemaknaan itu bersumbu dari budaya patriarki. Budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pusat sejarah dan memandang perempuan hanya seonggok payudara dan setangkup vagina. Dua anggota tubuh yang memberi beban yang kadang tak tertanggungkan; menjadi sumber kesenangan laki-laki sekaligus bencana bagi pemiliknya. Dua anggota tubuh yang terus menerus menjadi incaran adat dan agama untuk ditetibkan.
Perihal tubuh perempuan yang selalu disubordinasi, terlalu banyak didedah lagu-lagu dangdut. Payung Hitam Iis Dahlia hanya satu contoh. Demikian pula dalam karya sastra. Kumpulan cerpen Payudara Langit Amaravati hanya salah satu yang membabar kesialan perempuan karena tubuhnya. Tubuh yang bersalah, demikian Ahda Imran dalam halaman penutup di buku bergambar sampul payudara yang dibebat kain merah menyala itu.
Makna perempuan semata pada payudara dan setangkup vagina (:tubuh), zonder inisiatif, zonder kesadaran dan karenanya tak bertanggungjawab atas tindakannya sendiri…weleh weleh. Simaklah dialog dalam cerpen Doa berikut ini. “Kalau kamu selingkuh karena ketidakmampuanku memuaskan kamu, lalu berdosa, lalu masuk neraka, bukankah itu menjadi tanggung jawab suami?”
Tubuh perempuan dimaknai sebagai sumber penderitaan dalam semesta cerita Langit Amaravati; bagaimana lelaki, sang subyek itu, meletakkan dan memperlakukan tubuh perempuan untuk melestarikan dan membangun superioritasnya atas tubuh lawan jenisnya. Namun,  bagaimanakah sesungguhnya perempuan-perempuan malang yang diletakkan semata sebagai sumber kesenangan lelaki memandang diri dan tubuhnya?
Ijah, perempuan dalam cerpen Airmata Airmata, memandang diri sebagai korban masyarakatnya. Dan ia memprotes dengan menepis segala macam adat yang menekannya secara ekonomi; ia menerobos pamali  dengan nekat menyemen makam putrinya. Hanya tubuhnya yang menjadi benteng terakhir bagi dia menegakkan keberlangsungan diri dan hidupnya.  Ijah berani melawan, tidak dengan Aku. Remaja belasan tahun dalam cerpen Am, Lelaki Dermagaku,  itu begitu pasrah menerima tubuhnya sebagai sesuatu yang pantas dijadikan obyek kepuasan laki-laki; seonggok tubuh yang tak memiliki inisiatif mengurus dan mengarahkan dirinya sendiri; tubuh yang menyandarkan kebahagiaannya pada tubuh lelaki yang justru meninggalkannya.
Sum, dalam cerpen Bagi Dunia, Isum Sudah Mati, berani melawan penindasan laki-laki. Sum membakar suami dan selingkuhannya yang bercinta di depan matanya sekalipun itu tidak membuat Sum bahagia. Sum bagai dihantui rasa salah. Ia mengasingkan diri. Merindu Emak menyajikan kisah yang lebih mengiris; aku yang ingin membahagiakan Emak dengan bekerja jauh-jauh ke Saudi, malah digagahi. Aku memberontak dengan membunuh si majikan laknat.
Aku dalam cerpen Jahat juga memberontak dengan tubuhnya; dengan cara menjadi sundal untuk melukai lelakinya. Begitulah, tak ada laki-laki yang baik di sini; bila tidak jahat, maka ia pandir. Hampir semua kisah dalam Payudara ini, perempuan yang menjadi korban memandang dirinya pantas menjadi korban. Ia merasa bersalah ketika mencoba melawan dan memberontak untuk menyatakan dirinya. Pemberontakan yang dinyatakan berkali-kali dengan begitu verbal dan penuh kemarahan, sesungguhnya jenis perlawanan yang meragukan kekuatannya sendiri.      

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka