Novel yang Batal Diedit



Ilustrasi dicomot dari deviantart.com

Praba tengah asyik bermain dengan gelembung-gelembung busa sabun di dalam bath tub ketika lelaki itu menelponnya untuk meminta maaf. Tubuh Praba terbenam di sana dan hanya menyisakan sebatas leher ke atas dengan mata memejam tenteram. Telepon dari lelaki itu sungguh mengganggunya. Dengan agak malas-malasan, Praba mengatakan bahwa ia sudah memaafkan lelaki itu. Namun didengarnya lelaki itu merajuk.
Setengah mati Praba meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya tidak perlu meminta maaf; bahwa lelaki itu hanya perlu mengerti bahwa ia tidak bisa melanjutkan kerja sama untuk menjadi editor bagi novel yang ditulis lelaki itu.
“Masih banyak editor di luar sana yang bisa kau ajak kerja sama,” ujar Praba, sembari bangkit dari bath tub, memperlihatkan tubuhnya yang ramping padat segar laksana mangga mengkal berkat kegemarannya lari dan renang saban akhir pekan. Gelembung-gelembung busa sabun melumuri kulitnya yang berwarna sawo matang. Praba merekomendasikan beberapa nama sebelum menutup teleponnya. Tapi telepon itu segera menjerit lagi.
Lelaki itu terus ngotot dan menghiba. “Kita harus bicara, Praba. Aku mengaku salah tidak mengabari keterlambatanku sehingga membuat kamu kesal menunggu berjam-jam di kuburan,” kata lelaki dengan nada memelas yang membuat Praba mual dan ingin muntah. Ingin rasanya ia menempeleng lelaki itu, tetapi Praba terus mencoba bersabar.
“Aku sudah melupakan kejadian itu, Janu, percayalah. Aku sudah memaafkanmu. Bukan itu yang membuatku memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama,” kata Praba, lalu mematikan teleponnya sama sekali sembari berkeras melupakan keheranannya bagaimana lelaki itu bisa mengabaikan janji yang ia buat sendiri tanpa penjelasan apa pun. Praba melangkah kembali ke dalam bath tub, meneruskan bermain-main dengan gelembung-gelembung busa sabun. Matanya kembali memejam. Namun kali ini tidak lagi terlihat damai bahagia.
Sejujurnya, Praba memang jengkel dengan kejadian kemarin. Lelaki itu membuat janji bertemu pukul satu siang di kuburan selatan kota, namun lelaki itu tak menampakkan batang hidungnya hingga pukul tiga sore tanpa rasa bersalah sedikitpun. SMS dan panggilan telepon Praba tidak dijawab. Padahal Praba harus meminta izin pada bosnya untuk kerja setengah hari demi memenuhi permintaan lelaki itu datang ke kuburan untuk melihat secara langsung lokasi setting cerita yang sedang ditulis lelaki itu.
Tapi Praba sudah melupakan kejadian itu, dan memang bukan kejadian itu benar yang membuatnya memutuskan tidak meneruskan kerja sama dengan lelaki itu. Bukan pula lantaran bersikerasnya lelaki itu menjadikan Kun, tokoh utama dalam novelnya, serupa malaikat atau mungkin iblis yang serba tahu. Lelaki itu terlihat terkejut dan emosi ketika Praba mengusulkan tokoh Kun diubah karakternya sebagai pria manja simpanan seorang Om. Bagi Praba, karakter pria simpanan lebih terasa wajar untuk Kun, terutama untuk menjelaskan dari mana Kun mendapatkan hidupnya yang makmur di kota ini.
“Bagaimana kamu bisa berpikir menjadikan Kun sebagai seorang gay?” ujar lelaki itu dengan nada agak marah dan tersinggung.
Praba mencoba bersikap lembut dan tabah menjelaskan bahwa usulnya itu sama sekali tidak bermaksud untuk merusak karakter tokoh utama yang tampaknya begitu disukai lelaki itu. Melainkan semata untuk membuat alur cerita bergulir secara wajar, lebih lancar, dan memberi sedikit kejutan. Tetapi lelaki itu menyatakan keberatannya. Ia merasa jijik dengan ide gay yang diusulkan Praba. Lelaki itu tidak peduli bahwa Praba sudah berpikir keras mencari latar belakang yang paling tepat bagi tokoh utama sebelum akhirnya mengusulkan karakter gay itu. Diskusi malam itu tidak berhasil mendapatkan titik temu. Mereka bersepakat untuk menghentikan diskusi. Memikirkan kembali setiap gagasan. Diskusi akan dilanjutkan minggu berikutnya untuk memberi kesempatan bagi keduanya mendapatkan gagasan baru.
“Bagi aku sendiri, jujur saja itu usul yang terakhir. Rasanya tak ada latar belakang yang paling tepat buat Kun selain menjadi pria simpanan,” ujar Praba seraya menyesap kopi dan menyalakan rokok. Lelaki itu mengibaskan tangannya sambil melangkah pergi meninggalkan Praba sendirian di kedai kopi.
Lelaki itu menginginkan latar belakang Kun tetap sebagai dosen sastra yang mampu berkomunikasi dengan arwah. Kemakmuran hidupnya di kota ini berasal dari mertuanya yang kaya berkat usahanya sebagai pengepul besi tua dan pemilik kontrakan puluhan pintu. Bagi Praba, latar serupa itu terkesan asal comot untuk sekadar menghadirkan karakter yang menyenangkan bagi pengarangnya sendiri yang agaknya menduplikasi karakter si pengarang dengan tambahan fantasi yang keterlaluan. Selain itu, Praba meminta lelaki itu untuk menimbang ulang sejumlah tokoh perempuan. Praba mengusulkan lelaki itu membuang salah satu tokoh perempuan.
“Tanpa Laira cerita novelmu tetap dapat bergulir, bahkan lebih bagus.” cetus Praba.
“Fungsinya jelas untuk menegaskan karakter Kun sebagai pria yang diinginkan banyak perempuan. Lagi pula Laira menjadi salah satu pemicu konflik.” Lelaki itu tak nyaman dengan penilaian Praba. Praba tahu itu. Tapi ia sudah tak mau lagi berlembut-lembut untuk menjelaskan alasannya mengusulkan itu. Praba pikir lelaki ini terlalu bertele-tele, kekanak-kanakan, mudah tersinggung hanya gara-gara persoalan sepele yang mestinya dapat diselesaikan secara cepat dan rasional.   
Lelaki itu tak mampu memberikan alasan yang masuk akal ketika Praba menanyakan bagaimana mungkin Laira dan Laina yang telah menjadi hantu itu menjadi pasangan lesbian hanya karena mereka kerap bertemu, dan lebih celaka lagi, kedua perempuan itu mencintai lelaki yang sama. Inilah yang paling menjengkelkan bagi Praba.
“Karakter tokoh-tokohmu terkesan seenaknya, tak ada kena mengenanya dengan alur cerita,” Praba tidak dapat lagi menahan kejengkelan. Praba mengingatkan, banyaknya tokoh tanpa fungsi yang pas dan mendukung cerita, hanya akan membuat cerita menjadi ruwet dan melelahkan, bukannya kompleks.
Sejak awal sebenarnya Praba tidak bersemangat menjadi editor bagi novel lelaki itu. Praba bersedia hanya karena lelaki itu kawan dekat Thomas, lelaki yang sedang diincarnya.  Mereka bertemu di sebuah kelas penulisan yang digelar dewan kesenian. Thomas, lelaki brewokan itu telah memikat hati Praba sejak perjumpaan pertama.
“Dia sedang menulis novel horor, temanya menarik. Hanya perlu sedikit diarahkan,” ujar Thomas, “aku senang kalau kamu mau jadi editornya.” Praba sedang banyak pekerjaan, namun permintaan Thomas membuatnya rela menerima tawaran itu.
Novel ini dituturkan oleh dua orang penutur secara bergantian, yakni Kun dan Laina. Soal dua penutur ini tentu sebuah pilihan yang sah-sah saja. Bukan itu yang membuat Praba tertawa sinis. Melainkan tokoh Kun yang terkesan begitu hebat dengan cara berpikir yang ganjil; dia seorang dosen sastra namun cara berpikirnya laksana cenayang yang sok tahu segala hal. Demikian pula Laira, perempuan karir dan mantan aktivis namun terlalu melodrama dan tolol, mirip perempuan kampung yang tak mengerti dengan ide-ide kesetaraan.
Praba menemukan banyak adegan aneh dan mengada-ada yang disebutnya secara sinis sebagai adegan serba tujuh. Begini.
Kun
Aku harus pergi dari rumah mertuaku. Aku harus membuktikan padanya bahwa aku bisa hidup mandiri  tanpa sokongan fasilitas mertua. Lagi pula Lola sudah meninggal. Jadi, aku kini hanya bekas menantunya. Aku akan tinggal di perumahan sederhana yang kubeli mencicil. Menurut bisikan arwah, setelah tujuh bulan aku tinggal di kompleks perumahan sederhana ini aku mendapatkan pengganti Lola. Perempuan yang akan menjadi istri baruku itu adalah seorang tetangga yang cantik sekali. Aku menghindari Laira, wanita karir yang terus menghiba-hiba cinta dariku. Huh, Laira hanya asyik buat pacaran tapi bukan untuk berumah tangga.

Ternyata bisikan arwah itu benar, tepat tujuh bulan setelah aku tinggal di kompleks perumahan itu, tepatnya pada bulan Juli, aku menikahi Laina. Tapi tujuh hari setelah pernikahan kami, aku baru sadar bahwa Laina bukan manusia biasa. Laina adalah arwah. Menurut arwah yang membisikiku, arwah Lainalah yang membunuh istiku Lola lantaran perempuan itu telah merebutku dari Lastri, saudara kembar Laina.

Laina
Aku memang hanya arwah, tapi aku bukan tidak membutuhkan kebahagiaan. Dari mana Kun mengetahui kalau aku seorang arwah? Hanya tujuh hari aku merasa menjadi istri yang berbahagia. Pada hari ke delapan Kun mulai membanding-bandingkan aku dengan istrinya yang dulu, dan ini sungguh menyakitkan aku dan Lastri. Barangkali inilah saat yang tepat melanjutkan dendam Lastri. Akan kuhabisi nyawa Kun setelah menyelesaikan suapan ketujuh pada makan malam yang berlangsung beberapa menit menjelang pukul tujuh. Sebelum itu aku juga akan bertanya siapa tujuh mahasiswi yang ada di daftar teman dalam Facebook Kun. Mungkin aku juga akan membunuh tujuh mahasiswi yang gemar merayu Kun. Aku adalah arwah, aku bisa bertindak apa pun yang aku inginkan tanpa takut ditangkap polisi.  
Praba sudah belasan tahun menjadi editor untuk sejumlah penerbit besar yang menerbitkan novel karya pengarang-pengarang terkenal. Sudah terlalu sering ia menghadapi novel dengan alur dan karakter-karakter ajaib yang membuat emosinya terpancing untuk membentak dan memaki-maki pengarangnya. Namun novel lelaki ini sungguh yang paling ajaib dan membuatnya stres bukan kepalang sehingga Praba seperti ingin menjerat leher sendiri, seandainya tindakan itu tidak menimbulkan rasa sakit. 
Betapa Praba merasa geli ketika lelaki itu mengajaknya ke kuburan untuk riset lokasi sekaligus meminta restu kepada arwah Lola. Praba adalah editor biasa yang tak pernah bergairah membicarakan perkara-perkara gaib, apalagi menghubung-hubungkan peristiwa nyata dengan sesuatu yang gaib. Menjadi editor bagi pengarang seperti Janu, Praba merasa menjadi orang paling konyol sedunia.
Praba telah menyelesaikan ritual merendam dan membersihkan tubuh. Ia kini duduk menghadapi laptop di dalam kamarnya, meredam kerisauannya terhadap kenyataan dirinya masih menjomblo menjelang usia 40. Sambil menyeruput kopi ia mengarahkan kursor menyusuri folder-folder. Kursor berhenti pada folder bernama: Novel Januardi Kunto, membloknya, lantas menekan tuts delete. Praba kini ingin menenangkan diri dengan melupakan semua rangkaian perdebatan dengan Januardi, dan terutama perjumpaannya dengan Thomas. Praba ingin menghapus perasaan kehilangan harapan mendapatkan perhatian Thomas. Lelaki itu tak mungkin tertarik padanya lantaran Thomas rupanya tak lain pasangan Januardi. 
Gondangdia, Maret 2015
pernah tayang di Lampung Post, Minggu 30 Agustus 2015

Comments