Istanbul, Kemegahan dan Kesalahpahaman



Model diperani oleh Talita

Bagaimanakah sebuah kota bertahan dalam dua puluh enam abad keberadaanya? Melewati rangkaian bencana alam, malapetaka politik, penaklukan asing, dan gejolak dinasti. Bagaimana pula sebuah kota tetap berdiri di tengah perubahan fantastis dalam agama, bahasa, status politik, dan nama. Buku ini, Istanbul Kota Kekaisaran, karangan John Freely, menceritakan perjalanan Istanbul—dulu bernama Konstantinopel—melintasi gelombang waktu dan semangat beragam peradaban yang demikian panjang dan spektakuler. 
Perjalanan kota ini dimulai sekitar 658 Sebelum Masehi. Saat itu kota ini bernama Byzantium, berada di bawah kekuasaan kekaisaran Yunani. Byzantium menjadi koloni Yunani hingga 196 Masehi, sebelum ditaklukan oleh Romawi hingga 330 Masehi. Bangsa Turki Usmani masuk dan menguasai dan mengubah nama kota ini menjadi Istanbul sejak 1453 sampai masa kejatuhannya pada 1520, ketika gerakan Turki Muda yang dipimpin Kemal Attaturk secara resmi meruntuhkannya dan mengubahnya menjadi Repupblik Turki modern pada 1923.
Freely mengisahkan secara sistematik dan rinci setiap kekaisaran bahkan dinastinya. Penyebab setiap keruntuhan kekaisaran yang pernah menguasai Istanbul kurang lebih sama, yaitu terkait erat dengan perilaku hedonis mereka, di luar luasnya wilayah kekuasaan yang semakin sulit dikontrol. Bermewah-mewah, berjudi, seks, mabuk-mabuk mewarnai gaya hidup mereka. Untuk mempertahankan kekuasaan, mereka akan melakukan apa saja: melakukan pembunuhan, pembantaian, peperangan. Bukan hanya berperang melawan serbuan asing, tapi berperang memberangus bangsa sendiri yang berpotensi merebut kekuasaannya. Bukan hal yang aneh, mereka mengucilkan, memenjarakan bahkan membunuh saudara-saudaranya sendiri. Sultan Murat memenjarakan adiknya Sultan Ibrahim guna menutup potensi kekuasaanya direbut. Kesultanan Turki membantai ribuan orang Armenia sebagai balasan atas pembangkangan mereka—peristiwa yang pernah diungkit oleh novelis Turki Orhan Pamuk. Hal yang sama dilakukan para kaisar era Romawi dan Yunani.
Simbol kekuatan politik dunia Islam
Kesultanan Turki, yang disebut-sebut sebagai simbol kekuatan politik dan kekuasaan dunia Islam bahkan diklaim oleh sebagian sebagian komunitas Islam sebagai penerus kekhalifahan Khulafaur Rasyidin, dalam mempertahankan dan menjalankan pemerintahannya penuh dengan intrik internal, pembunuhan, perebutan kekuasan, korupsi, dan praktik-praktik yang jauh dari kemuliaan seperti yang barangkali selama ini dibayangkan dalam benak umat Islam yang mengira kekhalifahan Turki Usmani sebagai penerus model sistem pemerintahan yang pernah dirintis oleh Nabi Muhammad.
Catatan sejarawan Demetrius Cantemir yang dikutip Freely menggambarkan perilaku seks Sultan Ibrahim, adik Sultan Murat sebagai berikut.
Seperti Murat yang kecanduan anggur, demikian pula halnya Ibrahim dengan nafsu berahi. Mereka mengatakan bahwa dia menghabiskan seluruh waktunya dalam kenikmatan sensual dan saat alam sudah lelah dengan datangnya penyakit kelamin yang berulang-ulang, dia berusaha mengembalikannya dengan obat atau memerintahkan seorang perawan cantik dibawa kepadanya melalui ibunya…di taman istana, dia sering mengumpulkan para perawan, memerintahkan mereka untuk menelanjangi diri, dan menunggangi mereka bagaikan kuda jantan dan mencabuli mereka, yang menendang atau meronta-ronta mengikuti perintahnya. (hal 302)            
Pemerintahan despotik para sultan inilah kiranya yang turut melahirkan Kemal Attaurk, seorang anak muda Turki yang muak melihat perilaku despotik para sultan. Kemuakan yang melahirkan sikap antipati yang ekstrem terhadap kesultanan: Attaruk melalui Majelis Nasional menghapus sama sekali apa-apa yang berbau kesultanan dan agama (dalam hal ini Islam) sampai-sampai kepada hal yang bersifat tampilan luar seperti pakaian dan bahasa yang sama sekali tidak berhubungan dengan perilaku buruk para sultan. Istanbul, sebagai ibukota kesultanan bahkan kemudian tidak lagi dijadikan ibukota Turki Republik  modern untuk memutus sama sekali ingatan publik terhadap kesultanan. Untuk pertama kalinya sejak dua puluh enam abad yang lalu, Istanbul tidak menjadi ibukota pemerintah. Republik Turki Modern, seperti yang kita lihat sekarang, mengambil Ankara sebagai Ibukotanya. Istanbul menjadi kota kedua, tetapi sejarahnya yang panjang meninggalkan jejak tiada terkira tentang sebuah kota yang  menjadi tempat bagi pertukaran budaya Timur dan Barat.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka