Merah Hitam Turki



Imajinasi sungguh anugerah terbesar yang diberikan alam kepada manusia setelah akal. Karya seni, rasa keimanan kepada yang abstrak (:tak kasat indra) diproduksi oleh imajinasi. Akal akan menolak produk imajinasi manakala ia tidak dapat ‘memegangnya’ dengan ukuran-ukuran yang pasti. Imajinasi acap menghasilkan pembacaan dan pemaknaan yang berbeda dari akal atas obyek yang sama, misalkan sejarah suatu bangsa.  
Model diperani oleh Akbar

Sastra, sebagai produk imajinasi akan menyajikan pemaknaan yang begitu kaya tentang sejarah yang sebagian besarnya mungkin tak dapat ‘dipegang’ akal. Tetapi justru karena wataknya yang demikian sastra dapat menjadi media untuk memahami dan membaca sejarah sebuah bangsa dengan cara yang lebih jernih. Pasalnya sastra dalam mengunyah dan menyajikan kembali sejarah tanpa tendensi politik dan kekuasaan, termasuk kekuasaan rasio—sekalipun apolitis sastra dapat dilihat sebagai sikap politik juga. Imajinasi, inilah yang paling krusial yang memisahkan teks sastra dan teks sejarah.

Imajinasi bekerja secara otonom, punya wilayahnya sendiri. Ia tidak berdiri atas dan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan. Imajinasi hidup untuk melayani abstraksi-abstraksi pikiran bawah sadar, sebuah wilayah yang menjauh dari jangkauan hukum. Sedangkan teks sejarah mengabdi kepada rasionalitas. Imajinasi bisa saja mengambil dan sumber dari sejarah, tetapi ia kemudian menolak untuk menjadikannya titik berpijak. Sebaliknya, menjadikan sejarah sebagai sumber untuk bermain-main. 

Wah, wah, saya sedang bicara apa ini, kok kedengaran ngalor ngidul. Baiklah, lupakan saja. Saya hanya mau mengatakan bahwa sastra lebih gamblang ketika melihat sejarah perjalanan sebuah bangsa. setidaknya, begitulah ketika kita membaca Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer. Novel ini memberi gambaran yang utuh dan jujur  tentang sejarah  terbentuknya bangsa negara Indonesia. Kita bisa meraba ‘aroma’ masa tersebut melalui karakter tokoh-tokohnya, dialog-dialog mereka, dan persoalan-persoalan yang mereka hadapi dan hidupi. 

Demikian pula sejarah Turki yang didedah Orhan Pamuk dalam novel-novelnya: Dalam Keheningan Salju, Namaku Merah Kirmizi, dan yang lainnya. Pada Namaku Merah Kirmizi  yang sedang saya baca ulang ini, kita menemukan renik-renik sejarah Bangsa Turki yang mungkin tidak didapat dalam teks-teks sejarah. Novel yang mengambil setting masa-masa puncak kejayaan Turki Usmani atawa orang Barat menyebutnya Turki Ottoman, meneropong gaya hidup dan praktik kekuasaan  para Sultan. 

Dalam teks-teks sejarah, Kesultanan Turki Usmani—sejumlah kalangan menyebutnya Kekhalifahan penerus zaman Nabi Muhammad—  sering dilanggap sebagai sesuatu yang agung dan hampir tanpa cela sebagai sesuatu yang menjadi simbol Islam. Sebagian kalangan Islam misalnya, akan menghujat orang yang bersikap kritis terhadap praktik-praktik kekuasaan yang dijalankan para sultan dianggap tercela dan membuat fitnah.  Melalui sastra kita bisa melihat dengan jernih bagaimana kesultanan tetaplah sebuah arena untuk mempertahankan kekuasaan yang acap ditempuh dengan berbagai cara. Kegemaran para Sultan kepada gaya hidup mewah di tengah kemiskinan rakyatnya. 

Soal gaya hidup mewah ini atau bagaimana Pamuk hendak menegasi atau mengoreksi teks sejarah, bagi saya bukan yang paling menarik dari novel ini. Melainkan cara bertutur dan kedalaman pengetahuan, dan terutama keliaran imajinasi Pamuklah yang membuat novel ini menjadi begitu berharga. Pembukaan novel ini langsung menggebrak dan menyedot perhatian. Bayangkan, pembukaan dituturkan oleh sesosok mayat yang semasa hidupnya seorang seniman bidang ilustrasi buku. 

Ia dibunuh secara misterus dan mayatnya ditanam di dasar sumur.  Seterusnya kisah bergerak melalui tuturan-tuturan sejumlah tokoh secara bergiliran. Kita akan mendapati konflik keluarga, kisah cinta yang getir seorang lelaki yang ditugasi menguak misteri pembunuhan yang dalam upayanya itu kita dibawa mengikuti  jejak benturan peradaban Timur dan Barat. Dua kekuatan dunia yang saling bertolakan sekaligus saling meniru satu sama lain yang melahirkan paradoks: kau harus melihat orang lain untuk membangun identitasmu sendiri.       

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka