Ramuan Pulau Garam



Model diperani oleh Sheilla

Semesta Madura memiliki jejak panjang dalam lorong ingatan saya. Karena inilah pulau terjauh pertama yang saya singgahi. Kurang dari setahun saya tinggal di sana untuk mesantren dengan motif yang jujur saja tidak dapat saya rumuskan secara jelas hingga sekarang: untuk melarikan diri dari situasi patah hati, mereguk pengalaman menempuh perjalanan jauh, mencari ilmu, sekadar memenuhi saran seorang kawan yang tak kuasa kutolak karena rasa sungkan, atau supaya dalam biodata saya tertulis pernah mesantren seperti biodata seorang penyair yang saya kagumi saat itu.
Dengan motif yang tidak terlalu jelas itu, dalam rentang waktu cukup singkat dan hanya berdiam di dalam pondok—hanya sesekali ke pasar dan kebun tembakau milik ustadz saya—jelas jauh dari mencukupi untuk menyerap seluruh detak Pulau Garam itu. Jadi, yang saya maksud dengan jejak atawa bolehlah disebut sebagai detak Madura dalam lorong ingatan saya hanyalah beberapa gelintir pengalaman sepele semisal menikmati kemahiran orang Madura memasak; mengolah aneka sayur dan rempah menjadi sajian lezat.
Saya menemukan menu-menu lezat tidak hanya di kedai-kedai  di kota Kecamatan Sampang—saya nyaris tidak pernah makan di kedai di kota karena keterbatasan duit— melainkan di  warung-warung kecil di antara rumah-rumah penduduk atau pojok sawah yang sepi. Gado-gado, pecel, sambal, berbagai olahan ikan laut, sate, soto…semuanya membuat saya ngiler bahkan hingga sekarang kalau terkenang.  
Mengenai ketangguhan, etos kerja dan etos bercinta, serta selera humor orang Madura saya lebih banyak mendapatkannya dari cerita-cerita lisan, esai-esai Cak Nun, humor-humor Gus Dur, dan sebuah film berjudul “Carok” yang dibintangi El Manik. Dari film ini saya tahu celurit adalah senjata khas orang Madura dan kegigihan mereka membela kehormatan. Tetapi tentu saja karakter orang Madura yang muncul dalam cerita lisan, esai, dan film bisa jadi hanya stereotip. Pelabelan, apalagi ditempelkan kepada suatu komunitas masyarakat, kita tahu itu adalah sejenis tindakan penyederhanaan.
Pembatasan-pembatasan yang mengandaikan mereka bukan mahluk hidup yang terus berubah dan berkembang. Apakah stereotip-stereotip  semacam itu juga ditemukan dalam novel “Orang Madura Tak Mati Lagi” besutan Edi AH Iyubenu? Novel ini membentangkan perjalanan hidup perempuan Madura bernama Mariam, sosok ambisius yang menempuh segala cara untuk mencapai impiannya. Ia menyogok panitia lomba kerapan sapi demi kemenangan Poncak Langgik, sapi kesayanganya di arena lomba. Kemenangan di arena kerapan sapi meerupakan impian semua orang Madura, karena akan membawa pemilik sapi terangkat derajatnya, dieluk-elukan layaknya pahlawan yang membuat harum nama asal daerahnya.
Ambisi Mariam memenangi loma kerapan sapi dipicu oleh dendam kekalahan yang dialami suaminya di masa lalu karena kecurangan. Suaminya tidak hanya dicurangi panitia, tapi juga terbunuh saat ia hendak memprotes kecurangan yang dilakukan panitia lomba kerapan sapi. Kini dengan cara yang sama Mariam memenangi lomba kerapan sapi. Namun derajat yang naik serta nama yang dielu-elukan seusai kemenangan itu harus ditebus dengan harga sangat mahal.
Pertama-tama ia harus selalu menjaga citra sebagai orang berduit di depan masyarakat yang mengelu-elukan; ia harus menggelar pesta syukuran kemenangan.  Berikutnya ia harus menjadi tledek semua orang. Gatot Subroto, seorang polisi pemilik rombongan tandak Sekar Melati, mengancam menjebloskan Mariam ke penjara lantaran memegang rahasia perempuan terkait pembunuhan Srintil, tledek Sekar Melati,  apabila Mariam menolak setiap perintahnya, termasuk melayani lelaki yang ingin mencicipi tubuhnya.
Dengan meminjam tangan Maksan, bedinda yang kemudian menjadi suaminya, Mariam membunuh Srintil dengan motif persaingan merebut perhatian laki-laki. Motif Mariam dalam melakukan seluruh tindakannya  adalah dendam angkara murka. Dan barangkali lantaran dendam itu pula yang membuat perangai Mariam yang memandang enteng perbuatan bersebadan dengan lelaki bukan suaminya.  Perangai serupa itu juga melekat kepada Nyi Ji Halil, Srintil, dan tentu saja Maksan. Nyi Ji Halil, lantaran keloyoan suaminya, rela menukar kenikmatan tubuh Maksan dengan hutang. Novel ini cukup banyak menyajikan adegan persebadanan,  membuat saya teringat sisi Madura yang lain: ramuan Madura yang terkenal sebagai obat perekat hubungan rumah tangga.
Karakter Mariam, Nyi Ji Halil, dan Srintil terkait urusan ranjang, seakan hendak menegaskan cerita dari mulut ke mulut tentang perempuan Madura yang jago memuaskan lekai-laki di ranjang. Tema lokal alam Madura yang diangkut dalam novel ini saya kira semata kepada latar budaya kerapan sapi serta alam lingkungannya, dan tidak kepada watak khas dan motif tokoh-tokohnya dalam bertindak. Dan saya kira pilihan ini sudah tepat, karena  bagi saya memang tidak ada karakter atau etos yang sungguh-sungguh khas milik sebuah etnik atau komunitas masyarakat tertentu.  Setiap etnik atau komunitas masyarakat di mana pun di dunia, masing-masing memiliki orang baik dan orang durjananya, orang gigih dan orang malasnya, orang yang menjunjung kehormatan dan tidak peduli kepada kehormatannya.     
Dan yang terpenting (atau tidak penting) , alur cerita novel ini jelas membawa pesan yang agak moralis bahwa apabila kau menuruti syahwat balas dendam, apalagi  dengan berbagai cara, hanya berakibat kepada penderitaan tak berujung.

Comments