Estetika Kesakitan-Kekerasan-Kekejaman


Resensi ini pernah tersiar di Jawa Pos, Minggu 18 Oktober 2015
Model diperani oleh yogi Akhlis Purnomo
Bagaimanakah mitologi, spiritualitas, seksualitas, dan kisah-kisah sejarah yang dinukil dari teks-teks kitab suci dan peradaban berbagai bangsa yang terentang panjang, diaduk menjadi cerita fiksi yang melintasi realisme, surealisme, dan fantasi? Kita akan menemukan cerita yang hadir seperti irisan-irisan peristiwa yang kaya dengan spektrum kisah yang luas.   
Itulah yang terpantul dalam cerita-cerita yang terkumpul di buku A Conspiracy of God-Killers besutan Triyanto Triwikromo. Cerita-cerita Triyanto, dalam versi bahasa Inggris yang terbitkan Yayasan Lontar ini, tidak sekadar bermain-main di ruang mitologi, sejarah, spiritualitas yang menjadi sumber penjelajahan tematik  dalam balutan interteks yang melintasi sekat-sekat fantasi, realisme, dan surealisme yang mencekam. Pada saat bersamaan  narasi cerita Triyanto tampil dalam kekuatan bahasa ungkap dengan lapisan metafora dan bentuk penceritaan yang eksploratif.
Eksplorasi bentuk penceritaan dan tema yang dipilih Triyanto disajikan dalam estetika kesakitan-kekerasan-kekejaman. Sikap dan tindakan tokoh-tokoh dalam cerita Enter My Ear, Daddy mencerminkan estetika kesakitan-kekerasan-kekejaman. Abilawa yang sudah merasa uzur tak sanggup lagi bekerja sebagai tukang jagal, justru diteror Arimbi, anaknya, agar terus menikmati profesi yang penuh darah dan lenguh kesakitan para hewan yang dijagal.
Suara-suara lenguh sapi yang meregang nyawa menerbitkan perasaan benci Arimbi kepada hewan itu dan secara tak terduga berbalik menjadi hasrat untuk menjagal seluruh sapi-sapi di muka bumi. Suara lenguh sapi kesakitan di telinga Arimbi agaknya berubah menjadi serupa orkestrasi musik yang membius. Arimbi meminta Abilawa memasuki relung telinganya untuk turut merasakan pengalaman kesakitan yang memuakkan. Di sana Abilawa keheranan mendapati hamparan yang penuh suara lenguh kesakitan. Dari realis cerita bergerak ke arah surealis untuk kemudian kembali ke realis.
Kekejaman-kekerasan bermetamormfosis menjadi bentuk estetika dan sebaliknya, estetika beralih rupa menjadi kesakitan-kekejaman-kekerasan, berlanjut kepada Manyar dalam cerita Children Sharpening Knives. Di sekolah, guru menyuruh Manyar mengasah pisau untuk mengiris wortel. Tindakan mengasah pisau menginspirasi bocah Manyar membunuh Bardi, ayahnya, anggota organisasi politik terlarang (apalagi kalau bukan Partai Komunis Indonesia?) yang berperangai kejam. Mengiris wortel meletupkan hasrat Manyar bertindak kekerasan.
Estetika sungsang
Pengalaman estetik yang lahir dari kesakitan-kekejaman-kekerasan yang dihadirkan Triyanto adalah konsep estetika yang sungsang, yaitu estetika yang antistesis dari estetika yang ditancapkan Socrates, diteruskan Plato dan Aristoteles. Estetika cerita Triyanto tidak berkaitan dengan moral, kebahagiaan, kebenaran, keadilan, melainkan kesakitan-kekejaman-kekerasan. Estetika kesakitan-kekerasan-kekejaman muncul secara lebih mengiris dalam cerita Like Drizzle, Pointed Red.
Kekejaman Hindun, perempuan yang melahap jantung Hamzah mentah-mentah dalam sebuah episode awal sejarah Islam, menjadi metafora bagi tindak kekerasan-kekejaman kawanan orang yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan massif atas etnis China dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998. Iblis yang pada peristiwa Perang Uhud berbentuk Hindun, pada peristiwa Mei 1998, beralih rupa menjadi Hamzah. Lelaki ini memperkosa dan membunuh Nur, adik perempuannya sendiri. Latar peristiwa Mei 1998 hadir lagi dalam cerita Womb of Fire.
Estetika kekerasan-kekejaman membuhul cerita Handcuffs of Snow, The Devil of Paris, Prophet Bowl Delirium, Natasha Korolenko's Fiery Circus, Three Painful Stories Elisabet Rukmini. Cerita yang bersumber dari sejarah hadir di Sultan Ngamid’s Wings of Mist dan The Silent Eyes of the Takroni Woman. Sedangkan cerita-cerita yang menyodorkan surealisme berbumbu seksualitas yang tidak biasa terendus dalam cerita The Wolf in Almira’s Class, Prophet Bowl Delirium, Mother’s Quiet Light. Kita juga menemukan kisah-kisah spiritualitas yang menguat pada cerita Kufah’s Flying Fish, The Eleventh Wali, Siti’s Fire Birds, dan A Pair of Death Sniffers.
Melalui cerita The Resistance of Sita dan Everlatualasting is Arjuna’s Sorrow Triyanto juga melakukan koreksi, atau sebutlah negasi atas alur kisah mitologi maupun peristiwa sejarah yang telah mapan. Sita diam-diam memuja Rahwana sambil membenci Rama, pria yang disebutnya pesolek dan lebih mencintai sesama lelaki.
Kesibukan Triyanto menggali mitologi, spiritualitas, dan sejarah tidak membuatnya abai melakukan kritik sosial. Tema jenis ini muncul dalam cerita Sand Mirror dan Night Train Sorcery. Kritik dilancarkan kepada persekutuan penguasa-pengusaha yang merusak lingkungan demi apa yang mereka sebut sebagai pembangunan.
Cara pandang karakter tokoh cerita-cerita Triyanto yang tak pernah santai terhadap persoalan, serta eksplorasi bahasa dan bentuk pengisahan eksperimentatif yang ditempuh Triyanto, ditambah diksi-diksi keterangan waktu yang muncul berulang seperti “without end”,  “and the endless”, “endlessly”, atau “ never stops”  yang agaknya untuk memunculkan efek dramatik, membuat cerita-cerita Triyanto terasa kelewat serius. Sebuah pilihan yang bagi kebanyakan pembaca, termasuk saya, terasa terlalu menegangkan, dan pada titik tertentu, agak melelahkan.
Dalam versi bahasa Indonesia, cerita-cerita Triyanto tampil dalam kalimat-kalimat yang memperhitungkan rima yang menjadikannya serupa puisi. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris yang dilakukan George A Fowler atas cerita-cerita Triyanto sedikit banyak telah menghilangkan rima. Sekurangnya sebutlah judul cerita The Devil of Paris dari Iblis Paris dan Handcuffs of Snow dari Belenggu Salju, atau The Silent Eyes of the Takroni Woman dari Mata Sunyi Perempuan Takroni.
Yayasan Lontar yang bergerak di bidang penerjemahan karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris untuk mempromosikan sastra Indonesia di luar negeri, pastilah memiliki selera tertentu yang sesuai dengan selera pembaca sastra di luar negeri. Apakah pilihan estetika kisah-kisah yang disajikan Triyanto mampu memenuhi harapan dan selera pembaca sastra di luar negeri? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

data buku
Judul:  A  Conspiracy of God-killers • Penulis: Triyanto Triwikromo • Penerjemah: George A Fowler • Penerbit:  The Lontar Foundation  •  Cetakan:  I,  2015 • Tebal :  xii + 210 halaman

Comments