Inaugurasi yang Menjengkelkan



Model oleh Sheila dan Astrid

Coba ingat-ingat, apa kelompok, komunitas, geng, atau perkumpulan pertama yang kau masuki atau  tergabung di dalamnya? Suatu kelompok atau semacamnya berbasis apa pun memiliki mekanisme  tersendiri ketika akan menerima atau memasukan anggota baru. Mekanisme itu selonggar apa pun mencerminkan karakter atau basis komunitas bersangkutan.
Seperti dijelaskan oleh Aristoteles, manusia, hewan yang berpikir ini, adalah mahluk sosial-politik. Ia tidak bisa hidup sendiri. Seorang individu akan selalu mencari kelompok atau komunitas yang disukai atau yang sesuai dengan pandangan dan ide-idenya. Sekalipun begitu, oleh ‘kutukan’ sebagai mahluk sosial-politik ini manusia akan tetap masuk kelompok apa saja ketika ia tidak menemukan kelompok yang paling sesuai untuk dirinya. Motifnya tentu, di luar untuk mencari keselamatan dan mengekspresikan diri,  yaitu tadi ia tidak bisa hidup sendiri.
Semua orang pernah melewati masa kanak, pasti akan memasuki kelompok pergaulan sesuai usianya, selain itu, orang akan memasuki dan memiliki kelompok pergaulan tertentu. Enrico, saat masa kanak, demi diterima dalam kelompok pergaulan di kampungnya harus melewati proses inagurasi yang lumayan mencekam, mulai dari memasukkan penis ke dubur ayam betina, hingga harus mencuri buah mangga di kebun tetangga.      
Novel yang menuturkan sejarah masa kanak Enrico, kekasih yang kemudian menjadi pasangan hidup penulis novel ini, bersetting masa Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Enrico dilahirkan pas ketika pemberontakan PRRI berkecamuk di Sumatera, tepatnya Padang, Sumatera Barat.  Peristiwa yang terjadi akibat ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat ini menjadi latar yang sangat mencekam pada masa-masa awal kehidupan Enrico.
Sebagai si bandel yang memiliki perbedaan dengan lingkungannya (keluarga Enrico penganut Kristen Saksi Yehova), maka mekanisme dan proses inaugurasi diterimanya dia dalam pergaulan kelompoknya lebih keras lagi. Namun sekeras apa pun dia tempuh. Sifatnya bandel membuat sang ibu membencinya. Dari masa kanak yang penuh guncangan Enrico tumbuh menjadi lelaki yang pendiam, dan sifat itu terus dibawanya saat ia terlibat dalam pergaulan aktivis saat menjadi mahasiswa di Bandung.   
Bagian paling menarik dalam novel yang berdasarkan kisah nyata ini bagi saya isu inaugurasi.  Kita melewati berbagai jenjang usia dan setiap jenjang usia memiliki kelompok pergaulannya sendiri, baik berdasarkan jenjang usia sendiri atau pun yang lain, misal kesamaan kegemaran atau ideologi. Hitunglah, sampai usia kita saat ini  sudah berapa kali kita melewati proses inaugurasi, ada yang gagal, ada pula yang berhasil.
Saya termasuk orang yang kerap gagal ketika menjalani proses inaugurasi saat memasuki kelompok pergaulan masa kanak dulu. Itu yang saya pahami kemudian kenapa saya menarik diri dari pergaulan, menjadi mahluk introvert. Tidak seperti Enrico yang pemberani dan sukses melewati inaugurasi. Anehnya, Enrico juga tumbuh jadi seorang introvert. Tetapi mungkin karena pengalaman dengan ibunya yang begitu membencinya lantaran kegemarannya memberontak. Isu menarik lainnya adalah sikap Enrico untuk tidak memiliki keturunan karena dia berpikir dunia sudah terlalu padat. Memiliki keturunan hanya akan mewariskan kesedihan karena lingkungan yang tentunya makin tercemar polusi. Enrico bertemu dengan perempuan yang sepakat dengan gagasannya tentang anak, penulis novel ini. Nah untuk diterima oleh perempuan ini pun Enrico harus melewati inaugurasi... 
Pada masa sekarang ketika internet dan media sosial menjadi bahasa pergaulan, mencari komunitas yang sesuai dengan hati dan ideologi  jadi jauh lebih mudah. Kita pun akan menjalani inagurasi semenjengkelkan apa pun dengan suka cita.  Jadi, masih ingatkah di kelompok atau komunitas apa Anda mengalami inaugurasi yang menjengkelkan?  

Comments