Karmapala



ilustrasi dicomot dari galerigambarhewan.net

Setelah lepas dari karma buruk yang telah kujalani ratusan tahun. Sekarang aku meminta kepada Tuhan untuk dikembalikan menjadi seekor monyet demi kebahagiaan seorang gadis kecil berhati lembut.
Sulit bagi Punang melupakan sosok mungil nan lucu itu; anak monyet dengan bulu-bulunya yang lembut kelabu dan gerak-geriknya yang lincah dan tampak selalu ingin bergerak menari. Terutama mata cerlangnya yang mengerjap-ngerjap jenaka seakan memahami saat Punang bicara. Mongki, begitulah nama yang diberikan Punang untuk monyet pintar lagi jenaka itu.
Hari itu adalah hari libur kenaikan sekolah. Ayah mengajak Punang berwisata ke Pelangon, daerah kaki bukit di wilayah barat Cirebon. Punang memekik riang mendengar Ayah menyebutkan tempat wisata yang dihuni kawanan monyet yang konon jumlahnya selalu tetap, tak pernah bertambah atau pun berkurang sejak ratusan tahun silam. Dari sanalah Si Mongki berasal. 
Si Mongki terlihat paling lucu di antara kawan-kawannya. Ia bergelantungan dan meloncat ke sana kemari mengejar orang-orang yang mengangsurkan pisang. Meskipun lincah Mongki selalu kalah saat berebut pisang yang dilempar orang-orang ke tengah kawan-kawannya yang bertubuh lebih besar. Ia selalu mendapat bagian pisang paling kecil. Tapi itu tidak membuatnya bersedih. Mongki akan memisahkan diri, lalu bergelantungan sendiri di sulur-sulur pohonan. Punanglah justru yang merasa iba. Ia lalu mendekati Si Mongki dan menjulurkan pisang ke arahnya. Si Mongki menerimanya dengan sopan disertai kerlingan mata seakan mengucapkan terima kasih.  
“Lihat matanya, Ayah,” ujar Punang menarik tangan ayahnya dan menunjuk-nunjuk Si Mongki. Ayah mengiyakan sambil tersenyum.  “Bolehkah kita membawa dia ke rumah?” Ayahnya agak terkejut mendengar pertanyaan Punang.
“Tentu saja tidak boleh, Nak. Petugas taman wisata tak akan mengizinkan,” kata Ayah memberi pengertian kepada Punang. Ia anak yang baik dan memahami nasihat Ayah. Punang tak suka merengek dan menyusahkan. Namun, siapa sangka, Si Mongkilah ikut terbawa ke rumah. Tiba-tiba ia muncul dari dalam tas gendong Punang sesampai mereka ke rumah. Punang memekik kegirangan, sementara Ayah terlihat heran dan khawatir ada yang tidak beres dengan Si Mongki. Ayah yang selalu menganggap cerita-cerita tentang asal usul monyet Pelangon berasal dari prajurit yang kena kutuk Pangeran Panjunan karena berkhianat sebagai mitos, kini jadi mulai meragukan anggapannya.
Tiga bulan Si Mongki tinggal bersama mereka. Menemani Punang yang kesepian sejak ditinggal ibu pergi bekerja menjadi TKW di luar negeri. Punang begitu sedih ketika suatu hari ayah memutuskan untuk mengembalikan Si Mongki ke habitatnya semula di Pelangon. Kata Ayah, Si Mongki harus dikembalikan ke habitatnya supaya lebih berbahagia. Di luar alasan tersebut sesungguhnya ayah khawatir kedekatan hubungan Punang dengan Si Mongki menimbulkan hal-hal tak inginkan.
“Tak usah bersedih, Punang. Kita bisa berkunjung kapan saja ke Pelangon untuk menjenguk Si Mongki kalau kamu kangen,” hibur Ayah.
Setiap libur sekolah, Ayah memang memenuhi janjinya membawa Punang ke Pelangon. Namun, mereka tak pernah melihat Si Mongki. Dari pagi hingga menjelang petang Punang dan ayah menyusuri setiap sudut Pelangon, tapi Si Mongki seperti bersembunyi.
“Jangan-jangan ada orang yang membawa Si Mongki pulang,” ujar Punang dengan putus asa. Ayah menahan perasaan getir mendengar dugaan anaknya yang matanya tampak berkaca-kaca. Ayah diserbu rasa bersalah yang begitu besar. Dari ratusan monyet yang ditemuinya di taman wisata itu memang tak ada yang selucu Si Mongki.
Sesungguhnya Punang hampir saja bisa melupakan Si Mongki oleh kehadiran kelinci yang dibeli Ayah dari pasar hewan. Bulunya yang lembut putih laksana kapas randu serta matanya yang bening dan daun telinganya yang panjang dan selalu bergerak-gerak perlahan mampu menggantikan posisi Si Mongki di hati Punang. Namun itu tak lama. Rasa sedih kehilangan Si Mongki bangkit lagi  gara-gara suatu hari sepulang sekolah Punang melihat rombongan pengamen yang menggunakan monyet untuk atraksi lewat di sekolahnya. Dan monyet yang mereka ikat lehernya tak lain Si Mongki.
Punang yakin betul itu Si Mongki. Dikejarnya rombongan pengamen itu untuk melihat lebih jelas Si Mongki. Monyet lucu itu kini tampak lusuh dan lelah. Bulu-bulunya terlihat kusam oleh debu jalanan. Matanya tampak berbinar gembira ketika bertatapan dengan Punang. Tapi kemudian kembali murung. Si Mongki duduk di dalam kotak kayu yang diberi roda. Di dalam kota kayu itu berisi payung kecil, tas kecil, kacamata, sisir, cermin, boneka, dan sejumlah benda lain. Itulah benda yang melengkapi atraksi Si Mongki. Si Mongki sendiri mengenakan rompi yang membuatnya tampak makin lucu, tapi Punang tahu rompi itu membuat Si Mongki merasa gerah dan tak nyaman.    
“Mongki…” seru Punang, terus mengejarnya dengan diganduli rasa gembira sekaligus iba bertubi-tubi melihat keadaan Si Mongki yang terlihat begitu menderita. Rombongan pengamen itu berhenti sejenak mendengar seruan Punang. Mereka menatap Punang heran.
“Apa yang kaulakukan, gadis kecil?” tanya kepala rombongan.
“Mongki…mau kalian bawa ke mana monyet itu?” Punang menunjuk Si Mongki.
Mereka menatap Si Mongki dan Punang berganti-ganti. “Tentu saja akan kami bawa ke mana pun kami pergi mengamen,” sahut kepala rombongan, “kamu mau menanggap atraksi monyet kami? Satu jam 10 ribu. Tunjukkan di mana rumah orang tuamu?” kata kepala rombongan.
“Tidak. Berikan Si Mongki padaku. Kasihan dia,” ujar Punang.
“Gadis kecil, apa maksudmu? Dia monyet kami. Siapa pun tak akan kami biarkan mengambil dia,” sergah kepala rombongan seraya berlalu. Punang terus mengejarnya dengan air mata berlelehan. Namun langkah-langkah kaki mungilnya yang tak mampu bergerak lebih cepat dari rombongan pengamen membuatnya jauh tertinggal di belakang sebelum akhirnya jatuh kelelahan di trotoar.
Ketika tersadar, Punang sudah berada di kamarnya. Dilihatnya wajah ayah yang diliputi cemas membelai kepalanya.
“Mereka membawa Si Mongki, ayah….” serunya.
“Istirahatlah, Nak. Nanti ayah kejar rombongan pengamen itu,” ujar ayahnya, hatinya begitu pilu melihat gadis kecilnya.
“Bawa Si Mongki pulang, Ayah. Kasihan dia. Mereka jahat.”    
Namun berminggu-minggu setelah kejadian itu, ayah tak pernah berhasil menemukan rombongan pengamen itu. Meski tak yakin dengan apa yang dilihat Punang, lelaki paruh terakhir 30-an itu sudah berusaha menyusuri jalanan kota kecilnya yang makin panas karena semakin jarang pepohonan menggunakan sepeda motornya, memasuki gang demi gang dan setiap perempatan lampu merah tapi mereka tak pernah dijumpai. Pernah ia menemukan rombongan pengamen yang sedang menggelar atraksi topeng monyet di pojok pasar, tapi jelas itu bukan Si Mongki yang bermain atraksi. 
Punang yang selalu menunggu ayah di depan rumahnya akan melihat lelaki itu pulang dengan tangan hampa dan wajah terlihat kusut lelah. Sesungguhnya Punang kasihan melihat ayah berusaha keras mencari Si Mongki, tapi ia lebih iba lagi terhadap nasib monyet yang sangat disayanginya itu dijadikan alat untuk mengamen. Pasti lelah sekali bermain atraksi di jalanan di bawah terik matahari. Punang tak tahu kenapa harus bersedih memikirkan nasib Si Mongki. Punang hanya tahu ia sangat benci rombongan pengamen itu memperlakukan Si Mongki. Seharusnya ia dirawat baik-baik di rumah atau dilepas di hutan untuk bermain bersama kawan-kawannya.
Dari sudut jalan ini aku dapat melihat Punang duduk di depan pintu rumahnya dengan wajah putus asa memikirkan nasib Si Mongki. Aku dapat merasakan kesedihan yang melanda hatinya. Sejujurnya aku tak kuasa menahan rasa haru melihat gadis kecil itu bersedih. Kelembutan hatinya memancar dari wajahnya yang membuat siapa pun yang melihatnya akan mensyukuri karunia Tuhan. Betapa ingin aku menghampirinya dan mengatakan kepadanya bahwa akulah Si Mongki. Namun aku khawatir tak akan mampu menceritakannya dengan baik dan dapat dimengerti oleh pikiran sederhananya bagaimana semua ini terjadi padaku. Terutama reaksi ayahnya apabila Punang menceritakan ulang ceritaku kepada lelaki itu.      
Demi melihat kegembiraan hadir kembali mewarnai mata gadis kecil itu aku akan meminta kepada Tuhan untuk kembali menjalani karma menjadi Si Mongki. Aku tahu Tuhan akan mengabulkan permintaanku… 
Gondangdia, Agustus 2015
cerpen ini pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 25 Oktober 2015

Comments