Posts

Showing posts from November, 2015

Olok-olok Jonasson untuk Raja Swedia dan Intelejen Israel

Image
Ironi-ironi rasial, negara, politik, dan karut marut sejarah dunia modern, menjadi sumber yang tak pernah habis jadi bahan diolok-olok Jonas Jonasson. Setelah mengolok-olok Lenin, Stalin, Albert Einstein, Franklin D Roosevelt, Harry S Truman, Ronald Reagen, Mao Tse Tung, hingga Kim Il Sung, dan perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet di novel The 100 Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, kini melalui novel terbarunya The Girl Who Saved The King of Sweden, Jonasson mengolok-olok sistem politik rasis apartheid di Afrika Selatan, Perdana Menteri dan Raja Swedia, Perdana Menteri Isarel Simon Peres serta badan intelejen negara kaum Yahudi itu, Mossad.  Novel berpusat pada Nombeko Mayeki, gadis buta huruf  dari Soweto, sebuah perkampungan kumuh di Afrika Selatan. Dikisahkan, didorong oleh hasrat membacanya yang menggebu Nombeko  berniat mengunjungi perpustakaan yang letaknya jauh dari Suweto. Nombeko yang kini telah pandai membaca dan memiliki 28 butir b…

Nadran

Image
Bagiku tak ada yang menarik di kampung kelahiranku. Kampung yang selalu tampak berantakan dan bau amis. Di setiap rumah selalu mengonggok tumpukan jala, jaring-jaring untuk menangkap ikan, bentangan terpal yang membuat sumpek. Ditambah tali jemuran pakaian yang malang melintang bagai karnaval tujuh belasan. Jika hujan lorong-lorong di kampungku tak ubahnya kubangan kandang babi berwarna hitam. Tanpa alas kaki kami lalu lalang di sana, di antara lapak-lapak yang terbuat dari papan dan bambu dengan terpal sebagai atapnya yang sewaktu-waktu bisa terbang dihempas  angin. Hampir seluruh tetanggaku—termasuk ibuku—adalah penjual ikan. Mereka menghamparkan ikan-ikan—baik ikan segar maupun ikan asin—di lapak pinggir jalan. Teriakan menawarkan dagangan, tawar menawar, deru kendaraan adalah kebisingan khas yang kami nikmati saban hari. Suami-suami mereka—termasuk ayahku—setiap malam bekerja di lautan menangkap ikan.

Bermalam di Rumah Pengarang Kontroversial

Image
Pekan lalu aku ke Magelang bersama seorang kawan. Tiga orang kawan kami sudah lebih dulu sampai di Magelang dan Yogya. Mereka adalah para pegiat di jagat kepengarangan. Ada seorang novelis, seorang editor, ada pula seorang penerjemah, bloger serta ahli yoga. Oya, seorang lagi, dia peracik obat di sebuah panti kesehatan. Ke kota itu kami bertujuan mengikuti sebuah festival pengarang dan budaya yang digelar di kompleks Candi Borobudur. Festival pengarang dan budaya bagiku sebuah momen yang terlalu rutin. Namun bagi sebagian kawanku bisa jadi merupakan sesuatu yang istimewa. Meski demikian, bukan festival itu benar yang membuat kami sepakat melakukan perjalanan bersama.  Bagiku sendiri, perjalanan ke kota itu untuk berkunjung ke rumah pengarang A dan pengarang B. Maka, ketika kawan-kawan mengajak mengelilingi candi dan menonton pertunjukan seni yang digelar di lereng gunung, aku memilih tinggal di penginapan untuk beristirahat dan menghayati suasana hening penginapan di malam hari. Toh, a…

Dongeng yang Merawat Kewarasan

Image
Bagi sementara orang penyair adalah filsuf dan filsuf adalah penyair; seseorang yang senantiasa merawat kesadaran masyarakatnya; ialah yang mengasah kegelisahan dan penderitaan dirinya untuk menyuarakan kecemasan zamannya; yang terus menerus menjaga  keseimbangan dan mengajak kita menjenguk ke dalam diri. Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy tampaknya termasuk yang mempercayai kekuatan puisi semacam itu, sehingga dia mengatakan, apabila politik kotor, maka puisi yang membersihkannya. 
Tetapi, teori sastra modern menepis anggapan yang menempatkan penyair serupa sosok filsuf dan puisi sebagai rujukan untuk mencari kejernihan menangkap realitas. Membersihkan politik yang kotor terlalu berat sebagai tugas yang dibebankan kepada puisi. Dalam drama keseharian yang makin banal kita melihat, puisi terus dilahirkan para penyair seiring dengan kejahatan yang dilalukan secara terang benderang oleh para politisi. Karena puisi hanya permainan kata-kata. Bahkan Sapardi Djoko Damono meng…

Selamat Tidur Panjang, Mas Alwy

Image