Bermalam di Rumah Pengarang Kontroversial

Pekan lalu aku ke Magelang bersama seorang kawan. Tiga orang kawan kami sudah lebih dulu sampai di Magelang dan Yogya. Mereka adalah para pegiat di jagat kepengarangan. Ada seorang novelis, seorang editor, ada pula seorang penerjemah, bloger serta ahli yoga. Oya, seorang lagi, dia peracik obat di sebuah panti kesehatan.
Menginjak Candi Borobudur di bawah terik matahari, Sabtu (14/11)
Ke kota itu kami bertujuan mengikuti sebuah festival pengarang dan budaya yang digelar di kompleks Candi Borobudur. Festival pengarang dan budaya bagiku sebuah momen yang terlalu rutin. Namun bagi sebagian kawanku bisa jadi merupakan sesuatu yang istimewa. Meski demikian, bukan festival itu benar yang membuat kami sepakat melakukan perjalanan bersama.  Bagiku sendiri, perjalanan ke kota itu untuk berkunjung ke rumah pengarang A dan pengarang B. Maka, ketika kawan-kawan mengajak mengelilingi candi dan menonton pertunjukan seni yang digelar di lereng gunung, aku memilih tinggal di penginapan untuk beristirahat dan menghayati suasana hening penginapan di malam hari. Toh, aku sudah pernah menonton pertunjukan serupa di acara yang sama tahun lalu.  
Pengarang A yang menjadi tujuan utama perjalananku kali ini pada masanya merupakan pengarang yang sangat dikenal--bahkan fenomenal--di Yogyakarta. Dia berasal dari sebuah kota yang bertetanggaan dengan kotaku di Jawa Barat.  Kira-kira awal 1990-an dia datang ke Yogyakarta hanya berbekal beberapa potong baju dalam ransel lusuhnya untuk mencari kerja sambil melanjutkan kuliah. Dia berjualan koran, jadi kuli bangunan, dan sederet pekerjaan lapis terbawah lainnya. Beberapa tahun kemudian dia bertemu seseorang yang mengajari dan menyarankannya menjadi pengarang.
yoga di pendopo Senthong Seni SS, Minggu (15/11)
Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun dia dapat meloloskan cerpennya di koran yang terbit di Yogyakarta dan Surabaya. Setahun berikutnya bahkan di koran terbesar di Ibu Kota. Koran itu kemudian membukukan cerpen-cerpen yang pernah disiarkan di halaman cerpen selama setahun dan menjadikan judul cerpen dia sebagai judul buku kumpulan cerpen yang diterbitkannya karena dinilai sebagai cerpen terbaik. Cara dia menuturkan cerita-ceritanya disebut-sebut membawa napas baru penulisan cerpen.   
Kepada pengarang A, dalam kotak pesan media sosial, beberapa pekan sebelumnya aku berjanji akan mampir untuk menikmati suasana rumahnya yang teduh oleh pepohonan nan rimbun. Pengarang A malah menawari pula menginap dan memberi obrolan yang sedap. Sayang sekali aku batal menunaikan janji berkunjung ke rumahnya. Pasalnya, dia sendiri rupanya baru tiba dari luar kota, dan di rumahnya sedang ada kesibukan keluarga. Selain waktu yang terbatas lantaran tersendat dalam perjalanan di Magelang, rasanya kurang asyik mampir ke rumahnya dalam situasi serupa itu.
Syukurlah rencana berkunjung ke rumah pengarang B berjalan lancar. Dari Magelang kami menyewa mobil MPV Luxio menuju rumahnya di pedalaman Bantul. Rumah pengarang B ini tampaknya memang sengaja menyembunyikan diri dari keramaian. Kawanku yang pernah ke sana pun sampai lupa arah menuju rumahnya, sehingga kami sempat tersesat sebentar. Dari rumah itu kau harus berjalan hingga ratusan hingga setengah kilometer untuk bertemu toko atau warung untuk sekadar membeli makanan atau minuman.  Jadi, soal akses kendaraan umum, tidak usah ditanya!
berbincang dengan SS (kanan)
Rumahnya tidak terlalu besar. Terdiri dari dua lantai, rumah ini memiliki beberapa ruangan yang diipenuhi perabot-perabot antik, lukisan-lukisan abstrak karya si empunya rumah. Kursi, meja, lemari, ranjang, rak, arca, dan perabot lainnya hampir semuanya dari kayu (jati) tua. Dengan gaya arsitektur dan penataannya yang serba vintage, ditambah halamannya yang luas serta pemandangan lembah di sekelilingnya, sejujurnya membuat aku sangat betah berada di sana. Berkebalikan dengan sebagian kawanku yang merasakan aura gothik menguar dari benda-benda antik. Bangunan rumah ini barangkali hanya menempati 10 persen dari seluruh lahan seluas 2 hektar yang dibeli pengarang B di daerah ini.
Ketika kami tiba sekitar pukul 8 malam, penghuninya sedang tidak ada di rumah. Mereka tengah menghadiri pembukaan galeri. Melalui telepon kawanku, mereka meminta kami menghubungi asistennya untuk diantarkan masuk ke rumahnya. Setelah puas memandangi keunikan bangunan rumah, karena perut lapar kami memasak mie instan yang kami beli dari minimarket dalam perjalanan. Ketika mie instan tidak cukup, kami akhirnya menambahkan nasi dan lauk yang telah disiapkan oleh empunya rumah untuk kami santap.
Pengarang B merupakan salah seorang pesohor di jagat kepengarangan dan kesenian dengan sejumlah buku kumpulan puisi dan novel. Dia pernah manjadi bagian dari sebuah komunitas kebudayaan yang paling berpengaruh di Jakarta—dan barangkali Indonesia—sebelum diminta mundur karena terjerat kasus pelecehan seksual yang sempat menyeretnya ke pengadilan. Kasusnya pernah menjadi tranding topik selama berbulan-bulan di antara para sastrawan. Banyak yang mengutuk, tak sedikit pula yang membela.
Pengarang B dan istrinya datang setelah kami beres dengan urusan perut. Sambil merokok usai makan, pengarang B dengan suara seraknya yang khas ‘berpidato’ di depan kami tentang kebudayaan dan kesenian, sedikit diselipi bumbu filsafat. Sesekali istrinya yang duduk di sudut lain menimpali. "Kelak kalau kalian sudah melahirkan banyak tulisan, kalian akan tahu betapa semua itu nonsens!" ujarnya. Barangkali itulah sebabnya buku kumpulan puisinya ada yang diberi judul Nonsens. 

Pidatonya berlanjut esok paginya seusai kami yoga di pendopo yang berada di tengah taman berkolam. Kali ini disertai gosip ngalor ngidul seputar para sastrawan. Dia tampak senang mendengar kata-kataku yang memuji karya-karya dan pencapaian-pencapaian hidupnya. Kupikir tak ada salahnya menghibur orang yang sedang kesepian. Dia bilang, media sosial membuat hubungan antar sastrawan jadi renggang.
“Mereka merasa tidak perlu saling berkunjung karena sudah cukup bertemu di jaringan dunia maya,” dia bilang.  Sebelum obrolan berakhir, aku membeli buku kumpulan puisi terbarunya. Di kereta malam dalam perjalanan kembali ke Jakarta, aku dan kawanku membuat rencana untuk suatu hari mengunjungi pengarang seteru pengarang B di kota yang sama. Inisial mereka sama: SS.     

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka