Olok-olok Jonasson untuk Raja Swedia dan Intelejen Israel

Model diperani oleh Talita
Ironi-ironi rasial, negara, politik, dan karut marut sejarah dunia modern, menjadi sumber yang tak pernah habis jadi bahan diolok-olok Jonas Jonasson. Setelah mengolok-olok Lenin, Stalin, Albert Einstein, Franklin D Roosevelt, Harry S Truman, Ronald Reagen, Mao Tse Tung, hingga Kim Il Sung, dan perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet di novel The 100 Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, kini melalui novel terbarunya The Girl Who Saved The King of Sweden, Jonasson mengolok-olok sistem politik rasis apartheid di Afrika Selatan, Perdana Menteri dan Raja Swedia, Perdana Menteri Isarel Simon Peres serta badan intelejen negara kaum Yahudi itu, Mossad. 
Novel berpusat pada Nombeko Mayeki, gadis buta huruf  dari Soweto, sebuah perkampungan kumuh di Afrika Selatan. Dikisahkan, didorong oleh hasrat membacanya yang menggebu Nombeko  berniat mengunjungi perpustakaan yang letaknya jauh dari Suweto. Nombeko yang kini telah pandai membaca dan memiliki 28 butir berlian mentah berkat petualangannya selama bekerja sebagai manajer perusahaan penguras jamban memulai perjalanannya menuju perpustakaan yang diimpikan. 

Namun di perjalanan Nombeko tertimpa kesialan. Dia terlindas sebuah mobil yang disetir oleh Engelbrecht van der Westhuizen, seorang insinyur pemabuk. Kejadian ini menyeret keduanya ke pengadilan. Alih-alih dibebaskan dan mendapat uang ganti rugi, Nombeko justru menerima vonis menjalani hukuman bekerja sebagai petugas kebersihan selama waktu tertentu di sebuah laboratorium riset untuk proyek pembuatan bom atom pimpinan si insinyur. 

Setelah masa hukuman yang dibebankan kepadanya habis, ternyata Nombeko tidak bisa pergi begitu saja dari sana. Pasalnya, Nombeko sudah terlalu banyak tahu proyek pembuatan bom atom tersebut. Westhuizen, insinyur yang angkuh, licik, kejam, semborno, lagi pula bodoh namun selalu beruntung itu  memberi Nombeko dua pilihan: tetap bekerja laboratorium atau dibunuh. Karena belum ingin mati, Nombeko terpaksa tetap tinggal lebih lama lagi di laboratorium riset.

Sementara Nombeko masih terus memutar otak untuk menemukan strategi kabur, proyek pembuatan bom atom akhirnya berhasil. Seyogyanya ada enam bom, namun karena insinyur yang memimpin proyek ini kurang cermat dalam berhitung, bom atom yang jadi ada tujuh. Ketujuh bom atom inilah yang menggelindingkan petualangan tak terbayangkan Nombeko. Petualangan yang mempengaruhi jalannya peristiwa besar yang melibatkan sejumlah kepala negara.

Nombeko yang pintar bersiasat dan berhitung mula-mula berhasil mengelebui dua orang agen intelejen Mossad yang telah membunuh Westhuizen dan kini mengincar bom untuk diboyong ke negaranya. Nombeko bukan hanya berhasil kabur dari laboratorium dan lolos dari rencana pembunuhan yang akan dilakukan intelejen Mossad, melainkan juga mengerjai agen intelejen itu dan terbang ke Swedia.  Sialnya, sampai di Swedia Nombeko harus mengurusi bom yang sedianya dikirim ke Tel Aviv malah sampai ke kedutaan Israel di Stokholm; sebaliknya daging antelop yang mau dikirim ke Stokholm justru sampai ke tangan PM Israel Simon Peres di Tel Aviv.

Di Swedia untungnya dia bertemu dengan dua pemuda kembar Holger Satu dan Holger Dua, yang salah satunya tidak pernah diakui kehadirannya secara resmi. Bersama mereka dan pacar salah seorang pemuda kembar, Nombeko mengatur strategi menyingkirkan bom dari negara yang sangat menunjung tinggi HAM dan menentang keras sistem apartheid di Afrika Selatan itu.

Novel ini bergerak melalui dua alur utama. Alur pertama adalah perjalanan Nombeko; sedangkan  alur kedua adalah Henrietta dan Ingmar yang tak lain orang tua pemuda kembar yang membenci sistem monarki dalam pemerintahan Swedia. Di luar dua alur itu, ada alur-alur kecil untuk menjelaskan latar belakang dan masalah setiap tokohnya. Alih-alih mengaburkan alur utama, alur-alur kecil ini justru memperkuat motif setiap tindakan dan jalinan peristiwa dalam novel. Selain olok-olok, novel ini ditulis dengan semangat humor dan komedi yang berlimpah namun tetap terjaga berada dalam konteks dan situasi yang tepat. 

Membaca novel Jonasson kita tidak hanya akan terpingkal-pingkal mendapati sikap dan cara bertutur pengarangnya terkait aneka peristiwa politik negara-negara di dunia, termasuk kalimat-kalimat dalam dialog tokoh-tokohnya, tapi juga pengetahuan tentang betapa peristiwa-peristiwa besar acap dipicu oleh hal-hal sederhana dan tak terduga.       

Data Buku
Judul:  The Girl Who Saved The King of Sweden • Penulis: Jonas Jonasson • Penerjemah: Marcalais Fransisca • Penerbit: Bentang Pustaka •  Cetakan:  I,  2015 • Tebal :  549 halaman

Comments