Pemanjatan Bersih


Model diperani oleh Aira Humaira
Pemanjatan bersih adalah tidak menggunakan alat bantu untuk menambah ketinggian. Lawannya adalah pemanjatan artifisial. Yaitu memakai peralatan untuk sesekali menderek badan ke atas. Pemanjatan bersih lebih mirip pemanjatan suci. Kau harus menanggalkan bor, piton, paku, maupun pasak. 

Demikian pengertian pemanjatan bersih yang kunukil dari Bilangan Fu, novel Ayu Utami. Walaupun aku bukan orang yang gemar memanjat-manjat dinding tebing maupun gunung, aku bisa membayangkan betapa repot dan bahayanya memanjat tanpa peralatan. Apalagi tebing yang dipanjat curam, terjal dan tajam. Salah perhitungan sedikit saja kau akan terpeleset, tubuhmu jatuh meluncur dan disambut bongkahan batu di bawah sana. Tanpa perlu batu yang tajam pun tubuhmu akan remuk. Tetapi seharusnya memang begitu, memanjat tanpa menggunakan peralatan. Bukankah kaum pemanjat tebing menyebut dirinya pecinta alam? Bagaimana mencintai alam apabila pada praktiknya mereka justru menciderai alam?

Kukira justru inilah yang banyak terjadi. Mereka tidak hanya melukai tebing dengan memaku, memahat, bahkan mencongkelnya, tapi juga membuang sampah secara serampangan. Mulai dari puntung rokok, kemasan plastik bekas bekal makanan yang mereka bawa dari rumah, hingga peralatan lainnya selama melakukan pemanjatan atau pendakian gunung. Tebing gunung jadi cacat, dan kemurnian hawa gunung tercemari sampah plastik.  Apabila kau tidak mampu memanjat tanpa dibantu peralatan, sebaiknya tidak perlu memanjat.

Dalam novel Bilangan Fu kita bertemu Parang Jati, orang yang mampu melakukan pemanjatan bersih, sebagai bentuk penghormatannnya kepada alam. Parang Jati menularkan dan mengabarkan pentingnya menghormati alam seperti mengabarkan tentang pentingnya menjaga kesucian ideologi. Bagi Parang Jati memberikan sesaji di bawah pohon tua tertentu di hutan seperti yang banyak dilakukan orang-orang tua sebagai tindakan menghormati alam. Bukan kemusyrikan seperti dituduhkan kaum agamis. Bagaimana mungkin Tuhan yang maha besar dapat disaingi oleh sesaji di bawah pohon. Pohon sebesar apa pun bakal tumbang. Jadi, tidak mungkin bisa menyaingi kepopuleran dan kekuatan Tuhan. Tapi begitulah, kaum agamis yang manja dan kekanak-kanakan selalu begitu mengakhawatirkan kebesaran Tuhan, yang seolah bakal punah hanya oleh hal-hal rendah.

Bilangan Fu adalah novel yang mengajak kita kembali menghargai alam, menimbang lagi keberadaan pohon-pohon, mengoreksi anggapan kita tentang Tuhan, modernitas, hal-hal supranatural, spiritual. Jumlah halamanya yang banyak mungkin membuatmu bosan. Tetapi bersabarlah, karena kau akan mendapatkan banyak pengetahuan dan cara pandang yang berbeda yang jadi bisa dapat membuatmu bergembira.  

Comments