Selamat Tidur Panjang, Mas Alwy


Baaaang!  Kang Alwy ...
Penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy terbaring di sini....
Kabar itu datang lewat layanan pesan singkat yang dikirim seorang kawan di  Yogyakarta. Aku tersentak. Kurang dari tiga jam sebelum kabar itu tiba, aku dan seorang kawan berencana menjenguknya di RS Sumber Waras, Cirebon, tempat Ahmad Syubbanuddin Alwy dirawat. Di dalam lift ketika kami membicarakan rencana itu, kawanku mengungkapkan  firasat buruk tentang Mas Alwy, demikian kami biasa menyapa penyair ini. Setahuku ini kali ketiga (dan menjadi kali terakhir) Mas Alwy masuk rumah sakit untuk mengobati stroke yang menyerangnya.  
Pada kali kedua dirawat rumah sakit, beberapa minggu menjelang Ramadhan, aku sempat menjenguknya. Kondisinya menjelaskan betapa penyakit itu begitu menyiksanya. Namun di tengah kepayahan ia berupaya mengajakku ngobrol dan berpesan untuk segera melahirkan karya sebelum terlambat.  Ia diizinkan pulang setelah lebih dari 20 hari terbaring di rumah sakit. Ia pulang, namun dengan kondisi tidak utuh lagi; dokter harus menanam kabel selang  di bawah kulitnya yang menghubungkan otak dan saluran urin. Otaknya mengeluarkan cairan, dan itu harus dibuang melalui urin. Saya mendengar kabar ini dengan perasaan sedih dan agak bergidik.
“Kita harus siap-siap menulis tentang dia,” ujar kawanku pahit, ketika kami membicarakan derita Mas Alwy. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya 21 Maret,  kami bertemu Mas Awy di sebuah acara festival sastra di Taman Ismail Marzuki. Ia diundang untuk membaca puisi. Waktu itu kondisinya sudah lemah. Lawakannya tak keluar. Ia membaca puisi dengan suara hambar.  Aku memapahnya saat ia turun dari panggung.  Bersama penyair  Joko Pinurbo, Wicaksono Adi, dan Jay Ali Muhammad kami berjalan mencari tempat nongkrong yang enak di Jalan Cikini. Duduk di sana menyimak kawan-kawan penyair itu bergosip ngalor-ngidul sampai azan subuh hampir menggaung.   
Aku tak dapat membayangkan betapa terpukulnya dia menerima kenyataan betapa kelanjutan hidupnya harus ditopang oleh kabel selang yang ditanam di bawah kulitnya. Beberapa bulan sesudahnya (tepatnya Minggu, 30  Agustus) aku bersama kawan-kawan dari Tangerang menjenguk Mas Alwy di rumahnya di Balerante, Palimanan, Cirebon.  Wajahnya begitu semringah melihat kedatangan kami yang berombongan.  Kami duduk di sofa ruang tamu, sementara Mas Alwy duduk di kursi berbeda yang sedikit lebih tinggi dan agak sudut ruangan.  Dia memberi obrolan yang menarik seperti biasa, membuat kami lupa bahwa stroke menggerogoti tubuhnya.  Lawakan dan cerita-cerita kocak lagi konyol tak pernah pergi dalam setiap kalimat-kalimatnya, bahkan saat ia bercakap tentang sastra dan politik.
Ahmad Syubbanuddin Alwy (tengah) saat kami mengunjungi rumahnya Minggu (30/8)
Agak lirih ketika dia menjelaskan tentang kondisinya; tentang selang kabel yang ditanam dokter di bawah kulitnya yang membuatnya tidak dapat bergerak leluasa dan sering mual dan muntah-muntah.  “Kalau mau menoleh harus pelan-pelan. Kalau tidak, sakit sekali,” dia bilang. Aku mendengarnya dengan hati mencelus.  
Layanan pesan singkat yang mengabarkan kepergian Mas Alwy yang dikirim kawan dari Yogyakarta pada Senin (2/11) malam membuat hatiku tidak sekadar mencelus. Aku langsung mengabari kawanku dan kami langsung mencelat ke Stasiun Gambir. Kami menyetop taksi yang melintas. Kami meluncur menembus hujan pertama mengguyur Jakarta.  Sepanjang perjalanan di dalam kereta, kami mengirim kabar duka ini ke sebanyak mungkin kawan Mas Alwy. Kami juga menulis  obituari singkat yang segera kami kirimkan ke sejumlah rekan wartawan.
Ahmad Syubbanuddin Alwy bagiku adalah guru dan kawan yang mengesankan. Dialah orang pertama yang mengenalkan kepadaku jagat kepenulisan yang seru dan mengasyikkan. Dia mengasuh rubrik puisi di koran lokal yang terbit di kota kami. Dia tidak sekadar memilih dan memuatkan puisi-puisi di ruang sastra yang diasuhnya, tapi juga mengulas, mengkritik, dan memberi masukan. Kritik-kritiknya sering sangat keras dan membuat penyair pemula bermental lemah langsung shock dan patah hati. Masa remaja itu aku beberapa kali berkunjung dan menginap di rumahnya Perumnas Galunggung Kota Cirebon. Sekali kesempatan bahkan dia mengajakku ke rumah orang tuanya di Desa Bendungan untuk makan sate ikan bandeng.
Dan, Selasa (3/11) dini hari kemarin,  untuk kali kedua aku mengunjungi  rumah orang tuanya di Desa Bendungan untuk melihat penyair itu terbaring pulas dalam tidur panjang...

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka