Posts

Showing posts from December, 2015

Ilusi Tokoh Cerita yang Bergerak di Luar Kendali Pengarang

Image
Sapardi Djoko Damono, penyair lirik itu, menulis novel. Bahkan setahun ini ia menerbitkan dua novel. Trilogi Soekram salah satunya. Kita tahu Sapardi juga menulis beberapa cerpen. Barangkali karena dasarnya penyair lirik, cerpen dan novel yang ditulisnya mengalir tenang, kalimat-kalimatnya sederhana, jernih. Ada kalanya menegangkan, kocak, dan romantis mirip puisi lirik. Teknik penulisannya pun secara tersurat memaklumatkan kepada pembaca bahwa teks yang ditulisnya hanyalah novel. Tokoh-tokoh yang hidup di dalamnya pun sadar bahwa mereka hanyalah rekaan, sebuah fiksi, surealis pula. Dengan cara seperti itu novel ini seakan hendak membangun otonominya sendiri.

Selibat

Image
Payo memilih hidup melajang sepanjang hayat. Alasannya dia takut gagal menjadi orang tua. Takut mendapatkan suami yang tidak setia,  atau memiliki kelainan seks, dan menularkan penyakit kelamin. Payo merasa lebih damai hidup sendiri, tanpa dihantui kecemasan anak-anak yang dilahirkan dan didik susah payah malah mengumumkan di surat kabar memutuskan hubungan dengan orangtua lantaran beda prinsip. Bebas dari ketakutan  melihat  foto bugil buah hatinya di internet, dan sekian ketakutan lainnya yang tidak mustahil terjadi di tengah era penuh kebebasan dan kemajuan teknologi informasi.

Bagi Payo hidup sendiri juga berarti terhindar dari kemungkinan turut menambah populasi penduduk bumi yang telah sesak dan tidak nyaman ditinggali. Begitulah Payo, tokoh sentral dalam novel Kupu Kupu Cinta Ita Sembiring. Payo berasal dari etnis Batak  yang tinggal Gurukinayan, sebuah kampung terpencil di Tanah Karo, di lereng Gunung Sinabung, Sumatera Utara.

Pengalaman Traumatik sebagai Sumbu Kisah

Image
Menulis kisah kadang serupa upaya mengiris tubuh sendiri secara perlahan-lahan. Rasa perih sayatan luka menyeruak berbarengan dengan meluapnya rasa lega menumpahkan dendam dan kejengkelan. Laku kepenulisan serupa itu tampaknya yang ditempuh Damhuri Muhammad ketika berproses melahirkan karya-karyanya. Menulis terlihat serupa peristiwa yang dilematis, menyembuhkan sekaligus melukai. Pada buku kumpulan cerpen terbarunya,  Anak Anak Masa Lalu (Marjin Kiri, 2015), Damhuri seakan makin menegaskan kesan tersebut.

Begitu berdurinya kampung halaman yang menghidupi masa kanak dan remaja pengarang, sehingga dalam epilog buku itu ia bahkan menulis: Kampung halaman yang sejak lama ingin saya hindari untuk berpulang kepadanya, namun kenangan masa kecil itu rupanya telah menjadi fosil dalam kepala saya. Setiap kali saya hendak merancang sebuah cerita, fosil-fosil itu bagai mengepung saya, mendesak saya untuk memberi nyawa, hingga semua cerita yang saya teroka , terkepung dalam arus deras kenangan t…