Ilusi Tokoh Cerita yang Bergerak di Luar Kendali Pengarang

Model diperani oleh Fitri Tsuraya
Sapardi Djoko Damono, penyair lirik itu, menulis novel. Bahkan setahun ini ia menerbitkan dua novel. Trilogi Soekram salah satunya. Kita tahu Sapardi juga menulis beberapa cerpen. Barangkali karena dasarnya penyair lirik, cerpen dan novel yang ditulisnya mengalir tenang, kalimat-kalimatnya sederhana, jernih. Ada kalanya menegangkan, kocak, dan romantis mirip puisi lirik. Teknik penulisannya pun secara tersurat memaklumatkan kepada pembaca bahwa teks yang ditulisnya hanyalah novel. Tokoh-tokoh yang hidup di dalamnya pun sadar bahwa mereka hanyalah rekaan, sebuah fiksi, surealis pula. Dengan cara seperti itu novel ini seakan hendak membangun otonominya sendiri.
Soekram, sang tokoh sentral, hadir melalui tiga penutur, yaitu Soekram sendiri; pengarang yang menciptakan tokoh Soekram, dan; sahabat sang pengarang. Meski yang dituturkan ketiga penutur itu tokoh sama, yaitu Soekram, namun Soekram memiliki karakter agak berbeda satu sama lain, bukan hanya karakter tapi juga setting waktu dan tempat. Satu-satunya yang sama dari tiga penutur itu watak Soekram yang lembut dan peragu.
Di dalam novel rekaan sang pengarang, Soekram adalah seorang dosen yang kembali ke kampusnya di Jakarta setelah mendapat beasiswa belajar di luar negeri. Dia memiliki Menuk, istri yang setia dan manut. Hal itulah yang membuatnya merasa berdosa ketika memiliki Ida, perempuan yang dijumpainya saat belajar di luar negeri. Perempuan yang kerap menempati ruang imajinasinya. Sementara Rosa, mahasiswinya di kampus di Jakarta juga memberi perhatian istimewa.
Kisah Soekram mengambil latar peristiwa menjelang lengsernya Orde Baru yang penuh ketegangan dan berakhir dengan kerusuhan massal berbasis rasial. Sikap Soekram ambigu terhadap situasi politik. Ia menyinggung sejarah ihwal pergantian kekuasaan di Nusantara yang selalu melibatkan darah dan kekerasan. Ia tidak ingin melanjutkan tradisi itu. Namun sikap ini dianggap tidak mendukung gerakan mahasiswa. Mereka, para mahasiswa dan fans Soekram, yakin demokrasi hanya dapat ditegakkan lewat kekerasan (hal. 49).  Kisah Soekram di dalam novel yang ditulis sang pengarang juga dikisahkan masa kanaknya saat usia empat tahun. Ibunya dari kalangan priyayi, sedangkan ayahnya orang kebanyakan yang pergi meninggalkan mereka.      
Sedangkan dalam kisah sang sahabat pengarang yang mengedit dan menyusun ulang kisah Soekram atas permohonan pengarang sendiri yang ternyata belum mati, Soekram adalah seorang mahasiswa yang suka ikut kegiatan teater dan gemar hal-hal klenik. Itu adalah masa-masa revolusi. Organisasi mahasiswa terkotak-kotak sesuai ideologi politik yang saling bertarung berebut pengaruh. Soekram berada dalam persimpangan: menjadi bagian dari salah satu organisasi mahasiswa atau tidak masuk organisasi mahasiswa manapun. Ia memiliki teman perempuan istimewa bernama Maria yang memilih organisasi mahasiswa Katolik dengan alasan sederhana, yaitu supaya dapat diterima dalam pergaulan di kampusnya.  
Dekonstruksi atau parodi?
Sedangkan melalui penuturan Soekram sendiri, Soekram adalah tokoh yang menggugat pengarang yang  telah menciptakannya. Dia menemui dan mengadu kepada sahabat sang pengarang yang menciptakan dirinya bahwa kini dirinya telantar, tak jelas masa depannya. Sang pengarang telah mati sebelum sempat menyelesaikan kisahnya. Soekram meminta tolong sahabat sang pengarang, yang disapanya sebagai saudara, untuk menyelamatkan file karangan di dalam komputer sang pengarang sebelum file-file itu rusak-hilang oleh ancaman virus. Tidak hanya itu, Soekram juga berharap sahabat sang pengarang bersedia menyelesaikan novel supaya nasibnya tidak terlunta-lunta.
Mungkin karena tidak puas dengan pekerjaan sahabat sang pengarang, Soekram kemudian menuliskan sendiri kisahnya dengan mengacak-acak alur. Maka inilah yang terjadi, tiba-tiba Soekram berada di Padang, di ranah roman Sitti Nurbaya-nya Marah Rusli. Soekram bergabung dengan Datuk Maringgih yang melawan pemerintah kolonial dengan menolak membayar pajak. Di sini Soekram melakukan dekonstruksi atas roman Siti Nurbaya. Datuk Maringgih menjadi tokoh yang mengundang simpatik. Sebaliknya Syamsul Bahri mewakili tokoh oportunis.
Dekonstruksi yang dilakukan Soekram sangat semena-mena, semau-maunya. Mencampur-baurkan sejarah dan legenda, antara roman Siti Nurbaya dengan Raden Ajeng Kartini, pahlawan nasional pejuang kesetaraan perempuan dari Jepara. Lebih semena-mena lagi ketika diceritakan ternyata Kartini adalah kemenakan Datuk Maringgih yang paling dekat. Mempertemukan Sitti Nurbaya sebagai simbol wanita yang tertindas dengan Kartini si pejuang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Dekonstruksi yang semena-mena ini hadir sebagai parodi.
Namun, karena sedari awal kita sudah diberitahu bahwa novel ini hasil rekaan si tokoh rekaan pengarang, maka kita tidak diberi ruang untuk protes. Jadi kita telan saja gado-gado racikan tokoh rekaan yang menggugat si pengarang ini meski dengan risiko sakit perut. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah capaian yang diinginkan Sapardi dari novel serupa ini? Apakah sekadar lantaran puisi tidak cukup lagi mewadahi gagasannya?  Gagasan yang menebarkan banyak tokoh, peristiwa, potongan kisah yang berlepasan dan tidak selesai atau barangkali belum diketahui makna kehadirannya?
Atau bisa jadi Sapardi hendak memparodikan jargon yang menyebutkan bahwa tokoh dalam sebuah cerita yang bagus mampu lepas dari kendali pengarang. Ia bergerak merangkai kisahnya sendiri. Kita tahu ini jargon kosong dari kaum posmodernis yang terlalu berlebihan. Mungkinkah pengarang yang sedang mabuk, pingsan, tidur lelap, atau dalam kondisi hilang kesadaran lainnya dapat menggerakkan tangannya menulis cerita? 

Comments