Pengalaman Traumatik sebagai Sumbu Kisah

Model diperani oleh Humira
Menulis kisah kadang serupa upaya mengiris tubuh sendiri secara perlahan-lahan. Rasa perih sayatan luka menyeruak berbarengan dengan meluapnya rasa lega menumpahkan dendam dan kejengkelan. Laku kepenulisan serupa itu tampaknya yang ditempuh Damhuri Muhammad ketika berproses melahirkan karya-karyanya. Menulis terlihat serupa peristiwa yang dilematis, menyembuhkan sekaligus melukai. Pada buku kumpulan cerpen terbarunya,  Anak Anak Masa Lalu (Marjin Kiri, 2015), Damhuri seakan makin menegaskan kesan tersebut.

Begitu berdurinya kampung halaman yang menghidupi masa kanak dan remaja pengarang, sehingga dalam epilog buku itu ia bahkan menulis: Kampung halaman yang sejak lama ingin saya hindari untuk berpulang kepadanya, namun kenangan masa kecil itu rupanya telah menjadi fosil dalam kepala saya. Setiap kali saya hendak merancang sebuah cerita, fosil-fosil itu bagai mengepung saya, mendesak saya untuk memberi nyawa, hingga semua cerita yang saya teroka , terkepung dalam arus deras kenangan tentang kampung halaman.
Namun, bagaimanapun runcingnya  masa kanak dan kampung halaman pengarang kita satu ini justru  merasa berhutang. Karena mereka yang telah memberinya pengalaman traumatik justru memompakan gairah bagi Damhuri mengungkai cerita untuk melarutkan sekaligus mengobarkan luka.

Simaklah cerpen Luka Kecil di Jari Kelingking. Kisah yang dibuka dengan peristiwa teririsnya kelingking Emak ini serupa rentetan kenangan masa kanak pengarangnya yang beronak duri di kampung halamannya di Payakumbuh; kenangan yang bergerak dalam ruang traumatik dan meninggalkan gurat psikologis yang mendalam. Dalam kisah ini, Nawawi Djamil atau Langkisau mengalami peristiwa traumatik yang mengguncang psikologis masa kanaknya. Peristiwa traumatik yang sedikit banyak telah berandil besar dalam mengubah Langkisau menjadi seorang aktivis politik yang tuduh kiri. Kita barangkali tidak diberitahu bagaimana hubungan pengalaman traumatik masa kanak dengan aktivitas politik yang dilakukan Nawawi pada masa dewasa yang menyeretnya jadi buronan aparat keamanan karena dianggap berbahaya bagi kedaulatan negara.

Tampaknya korelasi antara pengalaman traumatik dan menjadi aktivis politik bukan isu penting dalam kisah ini, melainkan pengalaman traumatik yang telah menggerakkan pengarang ini menuliskan kisah, mendenyutkan tokoh-tokohnya ke hadapan kita.

Fiksi dan peristiwa faktual

Membaca fiksi yang ditulis berdasarkan peristiwa faktual yang dialami secara langsung oleh pengarangnya, terutama bila kita mengenal secara pribadi pula, bisa jadi menyodorkan sejumlah risiko kepada kita sebagai pembaca dalam menafsir atau memproduksi makna. Sekurangnya kita akan membanding-bandingkan fiksi yang ditulis pengarang dengan fakta yang dialami pengarang. Pada titik ini pemaknaan pembaca atas jagat cerita mengalami semacam penyempitan. Bagi pembaca yang terlalu menganggap penting hubungan pengarang dengan fiksi yang ditulisnya mungkin akan terbatasi imajinasinya ketika menelusuri narasi kisah. Hal ini bahkan  mampu mengurangi kenikmatan melakukan kebebasan menafsir atas cerita. Padahal kebebasan menafsir dan memproduksi makna merupakan elemen paling penting dan istimewa yang ditawarkan sastra.
Tetapi, tidakkah karya fiksi merupakan adonan antara imajinasi dengan realitas faktual yang berjalin dan berkelindan secara padu? Begitu juga sebaliknya, adakah karya non fiksi, bahkan karya sejarah, yang sungguh-sungguh steril dari unsur fantasi? Karya non fiksi atau katakanlah  karya sejarah ketika berwujud narasi adalah sebuah rekonstruksi. Dan rekonstruksi, disadari atau tidak,  tidak pernah bersih dari pamrih, dari tujuan-tujuan tertentu yang tersembunyi penulisnya.

Epilog yang ditulis Damhuri di halaman terakhir buku ini, dalam titik tertentu, berpotensi mengganggu kenikmatan membaca kisah-kisahnya, terutama bagi pembaca yang mengenal secara pribadi sang pengarang.  Namun  syukurnya, kemampuan Damhuri dalam mengolah pengalaman faktual sebagai bahan, lalu menggilingnya hingga demikian halus-lembut dan menjadi kisah fiksi membuat sejumlah cerpennya tak dapat dikenali lagi sebagai pengalaman faktual pengarangnya. Dengan kata lain Damhuri berhasil mengaduk pengalaman faktual ke dalam fiksi sehingga pembaca tak lagi atau lupa mengaitkan-ngaitkan karya fiksi dengan peristiwa faktual yang dialami pengarangnya.

Maka kita dapat menikmati cerpen Luka Kecil di Jari Kelingking sebagai kisah yang utuh sebagai fiksi. Melalui pengisahan beralur maju mundur narasi cerpen ini memberi keleluasaan menafsir, menebak-nebak gambaran masa lalu Langkisau.  Jejak pengalaman taumatik pengarangnya lebur dalam alur dan jalinan peristiwa.

Pengalaman traumatik masa lalu muncul lebih sehari-hari lagi dalam cerpen Reuni Dua Sejoli. Cerpen yang mengungkai kasih tak sampai ini menghadirkan dua orang yang terjebak dalam pengalaman traumatik masa lalu. Dalam balutan kultur lokal Minangkabau, pengalaman traumatik dalam kisah itu adalah tidak punya keturunan. Ketiadaan keturunan adalah aib yang membuat ‘penderitanya’ pantas dicibir, dirisak, dilecehkan. Bagaimanakah caranya keluar dari sana?

Pengalaman traumatik masa lalu Damhuri tidak berhenti kepada kisah-kisah sedih di masa kini, melainkan menjelujur ke kisah-kisah lainnya yang mengangkat mitologi, legenda, dongeng. Masa lalu yang diandaikan sebagai masa ‘kegelapan’ terus menguntit dan membayang-bayangi modernitas. Dalam cerpen Anak Anak Masa Lalu yang didapuk sebagai judul buku, Alimba, sang insinyur yang ambisius tetap mempercayai perlunya tumbal manusia sebagai syarat kekokohan jembatan yang dibangunnya. Ia membunuh tiga anak-anak untuk tumbal pembangunan jembatan sinamar. Masa lalu (kegelapan) dan masa kini (pencerahan) kadang merujuk pada sosok yang sama. Masa lalu dengan segala masalahnya menjadi inti atau ruh yang menggenapkan kisah-kisah yang diguratkan Damhuri dalam buku ini.


Comments

Teologi Rakyat said…
Wah, sebagai orang yang ingin menambah koleksi versi bacaan dari buku teori murni menuju novel, saya kira blog Anda ini cukup membantu saya dalam "membaca" novel. Senang sekali membaca bagaimana Anda "memandu" saya ketika berhadapan dengan sebuah novel: antara fiksi dan fakta. Salam...
Terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya Senang sekali apabila blog ini memberi manfaat; sumbu untuk berdiskusi lebih jauh.
Teologi Rakyat said…
Saya sedang tertarik belajar menulis artikel dengan gaya satire. Saya sedang mencobanya dalam blog saya juga. Bisakah Anda membantu saya dengan referensi buku, novel (kalau boleh dari Indonesia), atau tautan internet? Saya akan berterimakasih sekali jika Anda bersedia membantu.

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka