Selibat

Model  diperani oleh Adam Ma'rifat

Payo memilih hidup melajang sepanjang hayat. Alasannya dia takut gagal menjadi orang tua. Takut mendapatkan suami yang tidak setia,  atau memiliki kelainan seks, dan menularkan penyakit kelamin. Payo merasa lebih damai hidup sendiri, tanpa dihantui kecemasan anak-anak yang dilahirkan dan didik susah payah malah mengumumkan di surat kabar memutuskan hubungan dengan orangtua lantaran beda prinsip. Bebas dari ketakutan  melihat  foto bugil buah hatinya di internet, dan sekian ketakutan lainnya yang tidak mustahil terjadi di tengah era penuh kebebasan dan kemajuan teknologi informasi.

Bagi Payo hidup sendiri juga berarti terhindar dari kemungkinan turut menambah populasi penduduk bumi yang telah sesak dan tidak nyaman ditinggali. Begitulah Payo, tokoh sentral dalam novel Kupu Kupu Cinta Ita Sembiring. Payo berasal dari etnis Batak  yang tinggal Gurukinayan, sebuah kampung terpencil di Tanah Karo, di lereng Gunung Sinabung, Sumatera Utara.

Dia pernah tinggal di Solo, Jawa Tengah. Sungai Bengawan  yang melintasi kota yang terkenal lembut perangai warganya itu sangat mengesankan hatinya. Saking terkesannya sehingga ia mengidentifikasi dirinya dengan Bengawan Solo yang selalu jadi perhatian insani. Namun, Bengawan Solo yang mengesankan itu justru memberi pengalaman getirnya dikhianati. Ketika ia mendapat lelaki yang santun dan mencintai, ternyata laki-laki itu seorang gay. Lalu tiba-tiba kita mendapati episode kehidupan Payo di Negeri Belanda.  Di sana Payo bekerja sebagai pekerja pabrik untuk melupakan kisah cintanya yang pahit di Pulau Jawa.

Negeri Belanda memberi dia pengalaman yang lebih mengiris lagi. Meski melalui cerita orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupannya, membuat Payo makin takut untuk membuat komitmen dengan lelaki.  Payo melihat sepupunya menjadi petualang seks. Sekali waktu sepupunya kena batunya bertemu dengan perempuan yang sama-sama petualang seks yang kemudian mencampakkannya.  Pada saat yang sama Payo mendapati laki-laki yang mati-matian menyelamatkan perkawinannya dengan perempuan Belanda yang berkhianat.

Novel ini menuturkan hukum perkawinan di Belanda yang sangat menguntungkan perempuan, yang membuat perempuan-perempuan Negeri Kincir Angin itu dapat berbuat sewenang-wenang kepada suami lantaran hukum yang menguntungkan posisi perempuan. Namun Payo memandang sinis sistem yang dianggapnya terlalu membela perempuan. Padahal sebelumnya dia mengutuk kesewenangan laki-laki yang sangat patriarkis di negerinya.  Agak membingungkan memang sikap Payo ini.

Pengalaman dengan banyak lelaki di dua kota itulah barangkali yang membuat Payo sampai kepada keputusan untuk hidup melajang sepanjang hayat. Ia menempuh hidup selibat. Namun anehnya, suatu ketika dia bisa-bisanya mengunjungi museum seks yang terdapat di Amsterdam. Menyaksikan berbagai khazanah seksualitas lengkap dengan atribut dan alat peraga.  Bukan hanya itu, Payo juga sempat-sempatnya menonton video porno.

Ita Sembiring mendeskripsikan secara detil adegan dalam video porno yang mengingatkan kita kepada novel-novel stensilan. Berbagai adegan persetubuhan, baik antara lawan jenis maupun sejenis, bahkan persetubuhan dengan hewan yang membuat Payo muntah.  Dalam teori psikologi memang disebutkan, untuk membenci sesuatu yang disukai adalah dengan cara mengonsumsi terus menerus sesuatu yang disukai tersebut sampai kita merasa muak.

Namun, ternyata motif Payo bukan itu. Ia menonton video porno justru untuk menghidupkan fantasi seksual dalam dirinya. Ia melakukan itu lantaran cemas mendapati dirinya tak memiliki gairah seksual. Ini agak membingungkan. Payo ingin memilih hidup tanpa seks, tapi juga cemas tak memiliki hasrat seks. Barangkali inilah salah satu sisi paradoks manusia.

Oiya, saya membaca novel ini atas rekomendasi seorang kawan ketika kepadanya saya mengutarakan rencana menulis novel bertema homoseksualitas. Setelah saya  baca ternyata novel ini tidak mengusung tema yang dimaksud. Homoseksualitas hanya tempelan. Selain itu cara pandang pengarang terhadap homoseksualitas sangat heteronormatif.    

Comments

Teologi Rakyat said…
Wah, asik sekali cara menulis Anda, Bro. Sampai-sampai membuat saya ingin membaca novel itu. Seperti pernah lihat dimana itu novel, saya lupa. Suatu saat mungkin akan ingat. Terimakasih atas artikelnya...
Sama-sama. Terima kasih pula apresiasinya. Buku terbaik, kata orang bijak, adalah buku yang kita baca. Sebanyak dan sebagus apa pun buku yg ada di rak lemari kita, tak bernilai apa-apa tanpa kita baca.