Ereignis Srengenge

Model diperani oleh Ayu Purnama
Sitok Srengenge, penyair, aktor, dan sutradara itu menerbitkan buku kumpulan puisi terbaru berjudul Ereignis dan Cinta yang Keras Kepala (Katakita, 2015). Ereignis diangkut dari terminologi dalam khazanah filsafat yang apabila maknai secara bebas kira-kira bermakna: kejadian, insiden. Baiklah, kita baca saja bait kedua puisi berjudul Apograf Apel yang terdapat dalam buku tersebut: Hawa terkesiap ketika buah itu tanggal dari tangkai/ Jatuh tepat di ubun-ubun seorang lelaki yang tertegun/ Lalu mendadak sorak “Eureka! Semesta ini puisi.”

Hawa, adalah perempuan pertama di bumi dalam tradisi agama-agama Ibrahimik. Apograf Apel tampaknya hendak merekam peristiwa pertama dari perempuan pertama yang mengenalkan mereka kepada jagat semesta yang penuh drama.
Peristiwa perkenalan itu tentu bersamaan dengan lahir dan munculnya kesadaran. Dan puisi adalah semesta kesadaran itu. Kesadaran akan kebebasan, keterbatasan, serta tanggung jawab yang menyertainya. Apograf Apel menyuratkan pesan bahwa menulis puisi pada dasarnya adalah upaya manusia untuk memulihkan kesadaran dirinya sebagai entitas.
Bait selanjutnya Sitok menulis: Di langit yang masih belia lelaki itu menulis nubuat/ tentang buah apel yang lena dalam mimpi, terlambat/ membentang kelopak-kelopaknya sampai matahari/ benam, dan menjelma kupu-kupu malam/ dengan sepasang sayap muram.   
Menyusul munculnya kesadaran itu Adam, lelaki pertama di bumi itu, menuliskan nubuat tentang buah apel sebagai simbol ilmu pengetahuan (: kesadaran) yang sekian lama lena dalam mimpi. Sekali lagi, dalam tradisi agama-agama klan Ibrahim, sebelum menemukan kesadaran Adam dan Hawa tinggal di surga, sebuah wilayah yang penuh kenikmatan namun nir-kesadaran. Tiadanya kesadaran, secara logika maka Adam dan Hawa di sana tidak memiliki kebebasan dan tanggung jawab. Mereka dapat ‘melakukan apa saja’ dalam situasi bawah sadar.   
Seperti puisi-puisi lainnya dalam buku kumpulan puisi terdahulu antara lain Persetubuah Liar, Kelenjar Berkisar Jantan, dan Anak Jadah,  Sitok tampaknya memiliki gairah yang melimpah untuk mengeksplor tema mengenai kesadaran manusia sebagai entitas, ihwal kejadian manusia dan persinggungannya dengan semesta kesadaran. Pada puisi Manusia Pertama makin menegaskan puisi sebagai kesadaran, simaklah bait pertama puisi ini: Manusia pertama adalah penyair/ yang mencipta kata dan menamai segala hal/ Ia mengubah puisi untuk kekasih/ bahasanya jernih dan indah/

Merayakan kesadaran
Kejadian pertama dalam puisi-puisi Sitok Srengenge terkait erat dengan erotisme yang merujuk kepada kenikmatan dan proses reproduksi manusia. Puisi-puisi Sitok menyiratkan bahwa persetubuhan serupa bentuk merayakan kesadaran yang sekian lama terkerangkeng dalam wilayah nir-kesadaran atawa surga itu. Konsepsi inilah barangkali yang menyeret penyair yang pada tahun 2000 pernah dinobatkan sebagai Leader for the Millenium oleh Majalah Asiaweek ini memandang lembaga pernikahan sebagai omong kosong, hingga berpuncak kepada kasus pemerkosaan yang menjerat dan menyeretnya ke meja hijau; kasus yang sempat menggegerkan jagat sastra Indonesia yang penuh drama ini.

Perayaan kesadaran puisi-puisi Sitok tampil juga dalam napas lain, katakanlah napas relijiusitas. Kita misalnya mendapati puisi berjudul Cahaya, antara lain berbunyi Cahaya sejati memancar dalam diri/ Binar sinar di luar hanya pantulan samar/ jika mata terpejam semesta kelam/ Hayat niscaya katam kala cahaya padam//. Atau yang ini Kau tak kasat masa namun hadirmu kurasa/ Tak berdaya tapi perkasa, esa tapi tak berhingga/ Ampuni aku yang selama ini abaikan kebaikan/ Ajariaku jadi abdi abadi yang menghayati arti ketulusan// (puisi Udara). Kehendak mengejar bunyi pada puisi ini mungkin masih terasa, namun secara keseluruhan tidak sekuat pada puisi-puisi terdahulu terutama dalam kumpulan puisi Nothing. Selain itu lugas dan dan mudah dibaca.
   
Ereignis dan Cinta yang Keras Kepala memuat 50 puisi yang ditulis sejak 2010 hingga 2014. Setiap tahun Sitok sekurangya menulis 10-15 puisi. Puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini sebagaimana diakui sang penyair ketika saya mengunjungi padepokannya yang hening dan teduh di pedalaman Bantul, Yogayakarta, merupakan yang dianggap terbaik selama kurun tersebut.  

Comments