Dikunjungi Kawan

gambar diambil dari Flickr.com
Saya acap dikunjungi kawan-kawan. Ini terang saja fakta yang membuat saya gembira. Biasanya mereka menunggu saya di kafetaria kompleks perkantoran tempat saya bekerja untuk pertemuan kami. Termasuk kawan-kawan lama. Minggu lalu kawan lama saya dari Tangerang yang datang berkunjung. Namun bukan di kafetaria kantor, melainkan sebuah mini market di Jalan Cikini. Kawan lama saya yang satu ini dulu merupakan salah satu peserta kursus jurnalistik yang didirikan komunitas sastra di mana saya tergabung di dalamnya.  Dia berasal dari Lampung, datang ke Tangerang menjadi penjual suara dari satu bus kota ke bus kota yang lain.

Selepas mendapatkan sertifikat lulus kursus jurnalistik, dia bercerita ke sana kemari menjadi reporter, mulai dari reporter media onlen, majalah, dan bekerja serabutan lainnya yang tidak ada hubungannya dengan bidang tulis menulis. Kini dia mengunjungi saya mengendarai sedan.  Dia meminta saya mengantarnya ke Perpustakaan Nasional di Salemba untuk mengurus ISBN sambil kangen-kangenan. Dia tampak gemuk. Mengenakan celana jeans biru dan kemeja warna senada.  Tas pinggangnya tampak menggembung berisi gumpalan uang 50 ribuan yang dia bilang baru diunduh dari bank.

Sekarang selain jadi wartawan di media grup besar di Serang, kawan ini mendirikan CV dengan core bisnis penerbitan.  Dia menunjukkan dua dummy buku yang akan diterbitkannya, keduanya buku fiksi. Satu kumpulan puisi, satu kumpulan cerpen. Sayangnya, kami agak telat sampai ke Perpusnas. Petugas tengah bersiap-siap pulang karena jam kerjanya memang sudah selesai. Dia berpesan untuk datang lagi besok atau mengirim persyaratan lewat email.  Kami melanjutkan perjalanan ke lokasi lain.  

Dia berencana menerbitkan kedua buku tersebut masing-masing sebanyak 1000 eksemplar.  Dia akan melakukan road show ke kampus-kamus dan kantong-kantong kesenian sebagai salah satu strategi untuk menjual buku-bukunya.  Jujur saja, saya salut dan kagum dengan semangat dan kenekatannya menerbitkan buku fiksi. Maklum saja, buku fiksi, apalagi kumpulan puisi dan cerpen, tidak memiliki pasar yang bagus, apalagi untuk nama yang belum dikenal. Bagi kaum apatis seperti saya, upaya menerbitkan buku fiksi serupa laku membuang uang secara percuma. Tetapi tentu saja saya tidak mengungkapkan skeptisme padanya. Saya tahu, kita tidak boleh menularkan skeptisme kepada orang lain, apalagi orang yang sedang bersemangat.

Sejak jadi wartawan, jaringan dia makin luas. Mulai dari kalangan pengamen jalanan hingga politisi, penguasa, pengusaha, dan artis. Saat ini dia jadi ketua dewan pembina sebuah asosiasi perajin sepatu di Tangerang. Dia juga banyak mengerjakan proyek-proyek penerbitan dari anggota dewan yang dulu memakai jasanya mengorganisir massa. Saya menduga inilah barangkali yang akan menutup kerugian menerbitkan buku fiksi. Selain bersedan, kini dia sudah memboyong anak-anak dan istrinya dari kampung ke Tangerang. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sedang dicicil pembayarannya di sebuah kompleks perumahan terkenal.
Metropole, Sabtu (19/3)

“Wah kamu sudah sukses yah,” ujar saya spontan, ketika kami berada di dalam sedan yang meluncur ke arah Salemba. Dia tertawa senang, dan berujar dengan lagak bijak bahwa kesuksesan tidak bisa diukur dari pencapaian materi. Saya lihat dia makin bersemangat menceritakan sepak terjangnya. Dua bulan lagi kalau gol dia akan mendapatkan uang Rp2.5 miliar dari jasa membebaskan tanah. Dia menyebut dirinya banyak belajar dari kawan-kawan kami di komunitas seni.

“Sekalipun dalam hubungan kami sering terjadi percekcokan bahkan sempat perseteruan yang cukup keras, saya tetap menganggap kawan-kawan komunitas itu penting dan memiliki andil besar dalam perjalanan karir dan berkesenian saya,” katanya.  Dia puas sekarang dapat menyalurkan hobinya menulis dan menerbitkan buku. Sambil mengangguk-angguk saya berseloroh, rasanya kami dulu tidak pernah mengajari dia menjual jasa membebaskan tanah.

Kami mampir makan di Roemah Kuliner kompleks bioskop Metropole--pernah bernama Megaria--Cikini yang sedang hit di kalangan anak gaul Jakarta itu. Dia memesan dua porsi sup kambing dan teh panas untuk kami. Usai makan dia mengeluarkan laptopnya dan mulai menulis berita yang kemudian dikirim ke kantornya.  Pertemuan kami diteruskan sambil menonton film komedi nasional di bioskop yang ada di Taman Ismail Marzuki. Pertemuan kami berakhir di depan stasiun Gondangdia.

Comments