Kesenyapan dan Kerapuhan Kita

Gambar dari jaff-filmfest.org
Pemandangan alam perkampungan yang sepi di lahan yang tandus  itu terasa begitu menekan. Keheningan yang biasanya menawarkan ketenangan kali ini menyusupkan perasaan growong hampa, tak berdaya, dan dilupakan. Simaklah tatapan mata Ilalang dan simbahnya. Di dalam rumah berdinding anyaman bambu milik mereka yang berdiri ngungun di tengah hamparan tanah gersang, bocah lelaki dan neneknya itu duduk dengan tatapan kosong ke luar jendela. Tak ada beras yang bisa dimasak. Pemilik warung kecil di tepi jalan yang lengang menolak uang pecahan limapuluh ribuan yang disodorkan simbah untuk membeli beras. Pasalnya uang itu dalam kondisi dilaminating. "Kalau ketahuan polisi bisa ditangkap, Mbah" kata pemilik warung, antara kesal dan kasihan. Itu adalah uang terakhir simbah. Seorang dukun kampung yang menyuruh simbah melaminating uang tersebut sebagai syarat untuk kesuksesan dan keselamatan anak perempuannya yang menjadi TKW di Timur Tengah.
Hanya mereka berdua tinggal di rumah. Ayah Ilalang sendiri hilang ketika mencari pesugihan di tempat-tempat para demit bersarang di tepi hutan. Saban malam Ilalang menyusuri sungai mencari keberadaan ayahnya. Ia bertemu para demit yang memberinya pasir dan dedaunan yang konon akan berubah menjadi beras dan uang seperti yang dibutuhkan simbah di rumah. Namun pasir dan dedaunan kering itu tak pernah berubah menjadi beras dan uang. Ilalang dan simbah hanya bisa saling membisu menunggu keajaiban yang tak pernah menghampiri nasib suram mereka.
Gambar dari jaff-filmfest.org
Merasa percuma menunggu keajaiban, Ilalang berlari keluar. Ia teringat pernah melihat uang logam pecahan seratus rupiah yang lesap di jalan beton di desanya. Dicungkilnya logam pecahan seratus rupiah itu. Pada masa krisis moneter ganas-ganasnya memukul negeri ini pada 1998, orang-orang banyak memburu uang logam pecahan seratus rupiah keluaran tahun 1991 itu untuk dibuat cincin. Mereka percaya uang logam itu mengandung emas. Tak terkecuali kawan-kawan Ilalang. Ilalang menukar uang logam itu dengan beras kepada kawannya.
Namun ketika ia telah mendapatkan beras dan pulang ke rumah, dilihatnya mobil agen TKW berhenti di depan rumah. Agen TKW membawa kabar duka: ibu Ilalang meninggal di Tanah Arab. Simbah menangis hampir tanpa suara. Ilalang terduduk di sisi mobil, ditabur-taburkannya beras yang didapatkannya dengan susah payah ke tanah. Film berdurasi 19 menit karya Loeloe Hendra ini sepenuhnya menyajikan keperihan yang menusuk, membuat kita sesak napas. Gambar yang dibikin suram itu makin menguatkan kepedihan. Kemiskinan yang disebabkan ketidakmampuan— dan ketidakpedulian— negara menjalankan fungsinya menyeret warga seperti seperti Simbah, Ilalang dan ayahnya mempertaruhkan hidupnya kepada hal-hal irasional  yang justru membahayakan.  
Sepanjang 19 menit kita merasakan perasaan growong, suram. Bahkan setelah kau keluar dari bioskop perasaan growong itu lama tak hilang, karena kita tahu mereka memang tidak punya banyak pilihan. Kita sering mengalami perasaan seperti itu. Kau melihat kemelaratan di depan mata namun tak dapat berbuat apa-apa. Film Ilalang Ingin Hilang Waktu Siang (2014) ini salah satu dari kompilasi film pendek yang diputar Kineforum pekan lalu.
Perasaan tertekan karena kelengangan dan kesenyapan yang menyakiti itu juga kita rasakan pada film pendek lainnya, The Taste of Fences (2015) karya Sinung Winahyuko, Natalan karya Tata Sidharta, dan Langit Masih Gemuruh karya Jason Iskandar. Bagus, remaja lelaki pada film The Taste of Fences menyewakan kehangatan tubuhnya kepada tamu yang mencari kenikmatan di tengah perjalanan. Di rumah mereka yang berdinding bambu di tepi pesisir yang hanya ada suara angin menampar-nampar dinding rumah, Bagus melayani tamu. Setelah puas para tamu akan menyumpalkan uang ke genggaman tangan ibu Bagus yang menunggu di luar. Kelengangan, kesenyapan, keterasingan yang diusung keempat film pendek ini memperlihatkan betapa rapuhnya kita…  

Comments