Lalu bersama Angin

Model Neni Ariani
Pertama kali melihat novel ini di rumah seorang kawan, belasan tahun silam. Bersama buku-buku tebal lainnya, Gone with the Wind terlihat berdebu di rak buku. Aku menjamahnya untuk menakar ketebalannya. Kawanku mempersilakan aku meminjam. Namun aku mengabaikannya. Kupikir aku tidak memiliki kesabaran dan waktu luang yang cukup untuk menghabiskannya. Kali kedua aku bertemu novel ini di Perpustakaan Daerah Khusus Ibukota, ia teronggok anggun di deretan rak. Aku membuka halaman pertama dan membaca pembukaan yang sungguh memikat.
gambar dari framedart.com
Scarlett O’Hara tidak cantik, tapi kaum pria jarang menyadarinya, apalagi bila sudah terjerat pesonanya, seperti yang terjadi pada si kembar Tarleton.
Kalimat pembuka ini mudah membuat pembaca terjerat untuk mengetahui pesona semacam apa yang dimiliki Scarlett sehingga mampu menjerat banyak pria. Tanpa perlu bertele-tele, pada halaman pertama itu pula, Scarlett, si karakter utama langsung diperkenalkan kepada pembaca dengan deskripsi yang rinci sehingga kau akan merasa melihat sosok Scarlett nongkrong di hadapanmu. Ia memiliki kulit putih seperti yang didambakan perempuan-perempuan di Selatan. Itulah pesona yang disadari betul Scarlett untuk digunakannya memperdaya kaum pria.
Ini adalah novel klasik Amerika karangan Margaret Mitchell yang ditulis sepanjang sepuluh tahun antara 1926 hingga 1936. Terjual sebanyak 176.000 eksemplar pada tiga minggu pertama setelah penerbitannya. Ketika diangkat ke layar lebar tiga tahun berikutnya, menjadi film terlaris di Inggris dan Amerika. Seorang kawan memiliki filmnya dan ia menawarkannya kepadaku untuk dikopi. Aku menunda menerima tawaran baik itu. Kupikir lebih baik aku membaca novelnya lebih dulu. Media tulisan memiliki kekuatan yang tak dimiliki media gambar—juga sebaliknya. Contohnya, kalimat pembuka tadi. Bagaimanakah menerjemahkannya ke dalam bahasa gambar?  
Butuh waktu hampir dua pekan untuk membaca novel berketebalan 1.124 halaman ini. Segera setelah itu aku menonton filmnya melalui internet yang berdurasi lebih dari 3,5 jam. Film ini nyaris memindahkan secara total novel ke bahasa gambar. Kupikir sangat memuaskan dan hampir mendekati gambaran visual yang kubayangkan saat membaca novelnya. Pantas menjadi tontonan paling populer pada masanya. Di dalam buku memoar Sidney Sheldon, The Other Side of Me, sempat disinggung mengenai film Gone with the Wind yang disebutnya bertahan berbulan-bulan dalam pemutarannya di bioskop terbesar di Inggris. Menempati urutan pertama terlaris. Film Sheldon sendiri The Bachelor and the Bobby-Soxer berada di urutan kedua.        
Sebelumnya aku tidak mengenal nama Margaret Mitchell. Ia tak seterkenal Ernest Hemingway , John Steinbeck, Anton Chekov, Albert Camus, Kawabata, Voltaire yang lebih dulu datang ke Indonesia melalui terjemahan Pustaka Jaya. Betapa banyak penulis-penulis dengan karya-karya yang bagus yang tidak kuketahui coba?
Baiklah, Gone with the Wind mengetengahkan kisah pasangan yang saling membenci tapi menikah dan memiliki anak. Mereka adalah Scarlet O’Hara dan Rhett Buttler. Kehadiran Bonnie, anak mereka, tak mampu membuat keduanya meredakan kebencian kepada satu sama lain. Oh sungguh menggemaskan mengikuti kisah perjalanan cinta mereka.
Tapi bukan semata kisah cinta pasangan ini yang membuatku betah menyusuri halaman demi halaman novel klasik ini. Perang saudara yang membelah Amerika pada tahun 1861-1865 serta masa-masa rekonstruksi pasca-perang inilah yang makin membuat novel ini menarik. Salah satu pemicu perang adalah perbedaan sikap orang-orang Yankee di Utara dengan orang-orang Selatan di beberapa negara bagian terhadap sistem perbudakan kaum kulit putih atas kaum kulit hitam atawa negro. Pemicu yang paling nyata namun selalu diingkari atau pura-pura diingkari para penganjur peperangan adalah—sebagaimana disindir dengan cara sinis oleh Rhett Butler—uang.
“Semua perang dianggap suci,” katanya,”oleh mereka-mereka yang menjalaninya. Jika orang yang memulainya tidak menganggap perang tersebut sebagai sesuatu yang suci, siapa yang mau ke medan perang?....
Sebenarnya hanya ada satu alasan yang menyebabkan orang berperang…yakni uang. Semua perang pada kenyataannya hanyalah percekcokan soal uang. Tapi hanya sedikit yang menyadari hal ini.” hal 261.
Scarlett O’Hara adalah gadis manja yang memiliki kecenderungan egois, culas. Ia selalu berupaya merebut perhatian pria dalam setiap pesta. Menjerat mereka untuk kemudian mematahkan hatinya. Satu-satunya pria yang tidak terjerat pesonanya adalah Ashley Wilkes. Hal ini membuat Scarlett geram. Berbagai cara ia tempuh untuk menundukkan pria itu, bahkan dengan cara paling kasar. Hatinya patah, karena Ashley tetap melanjutkan pertunangannya dengan Melanie Hamilton.
Untuk membalas dendam kepada Ashley, Scarlett menerima lamaran Charles Hamilton. Dari laki-laki ini Scarlett melahirkan Wade Hampton Hamilton—di film, Scarlett hanya memiliki anak dari Rhett Butler, Bonnie. Charles tewas terserang disentri saat ikut dalam peperangan. Demi mempertahankan hidup yang porak poranda akibat perang, Scarlett menikah dengan Frank di Atlanta. Dari laki-laki pengusaha ini Scarlett melahirkan Ella Lorena.
Scarlett menikah dengan Rhett Butler setelah Frank meninggal karena sakit. Scarlett dan Rhett Butler saling membenci, namun saling membutuhkan. Di balik tampilan dan gaya bicaranya yang kasar dan tanpa sopan santun, Rhett sesungguhnya pria yang bertanggungjawab dan sangat mencintai Scarlett. Tapi Rhett tak mengutarakan dan menunjukkan perasaan cintanya kepada Scarlett. Rhett berlaga mau menikahi Scarlett sekadar untuk menolong.  
Mitchell menghadirkan kompleksitas sekaligus kerumitan watak manusia. Scarlett yang semula manja dan selalu bergantung kepada kedua orangtua dan budak-budaknya dalam perjalanan tumbuh menjadi pekerja keras yang bertanggungjawab. Ia memang tetap menjadi sosok egois yang menjadikan egonya sebagai pusat segala motif tindakannya. Ashley Wilkes, lelaki berhati lembut yang seolah dilahirkan hanya untuk berimajinasi, merenung, membaca karya sastra, mendengarkan musik, menonton opera.
Perbudakan dalam novel ini menambah pengetahuanku tentang perbudakan di Amerika. Melengkapi informasi yang kudapat dari film-film bertema perbudakan, seperti Django Unchained,  12 Years a Slave, dan Lincoln. Kehidupan bangsawan Eropa masa lalu yang tidak membiarkan perempuan mengekspresikan dirinya dengan bebas dan selalu terlihat lemah. Hubungan budak dan majikan yang terkesan harmonis. Novel ini mengantarkan Margaret Munnerlyn Mitchell  menerima Pulitzer Prize pada tahun 1937. 

Comments

Saya baru mulai membaca novel ini, baru sekitar 60 halaman.. memang deskripsinya luar biasa, sangat detail. Membuat kita terhanyut dalam ceritanya. Semoga saya bisa membacanya sampai selesai, termasuk sekuel novelnya.

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka