Sejarah dan Dongeng Pahlawan

Model diperani oleh Muhammad Miftahudin
Guruku di sekolah dasar yang pertama kali memperkenalkanku kepada sejarah Ken Arok dan Ken Dedes. Samar-samar masih kuingat, seusai menceritakan peristiwa kudeta pertama dalam sejarah Pulau Jawa  itu, guruku berpesan, “Zaman sekarang kalau mau menjadi presiden kamu tidak bisa menggunakan cara yang dilakukan Ken Arok. Tapi kamu harus pintar dan sekolah yang tinggi.” Guru sejarahku seorang yang hebat itu jelas. Dia bisa menceritakan sejarah secara menarik hingga aku dapat mengingatnya sampai sekarang; dia juga cerdas menjumput pesan penting dari sejarah itu untuk kehidupan hari ini kepada murid-muridnya. Kecerdasan yang hampir tidak dimiliki ustadz-ustadz masa kini ketika menceritakan kisah sejarah nabi yang tertulis dalam hadis dan ayat-ayat dalam kitab suci.  
Golongan yang kusebut terakhir ini hanya tahu mengajarkan kisah kisah nabi dengan pendekatan dongeng dan mitos-mitos. Tapi ironisnya mereka akan marah bila ada yang menyebut kisah-kisah nabi sebagai dongeng. “Kisah nabi-nabi itu fakta sejarah,” begitu biasanya mereka bilang.  Aku ingat sebuah obrolan dengan seorang kiai feminis bahwa seharusnya kisah-kisah nabi disampaikan dengan pendekatan sejarah. Para ustadz mestinya berlaku seperti seorang sejarawan ketika menyampaikan riwayat dan kejadian-kejadian dalam kisah para nabi yang dinukilkan dalam hadis dan ayat-ayat kitab suci.  Harus dijelaskan dengan rerinci hukum sebab akibat, dengan ilmiah, apabila memang nabi-nabi itu mahluk sejarah. Gugatan anak-anak atas kisah para nabi tidak cukup lagi dijawab dengan “Kalau Tuhan sudah berkehendak apa saja bisa terjadi!” Percayalah, pernyataan ini membungkam diskusi dan menumpulkan nalar.
Pendekatan dongeng seperti yang banyak dilakukan ustadz masa kini atas kisah para nabi persis dengan yang dilakukan Orba ketika menuliskan kisah pahlawan-pahlawan nasional. Mereka seperti mahluk tanpa cela, tak pernah melepas baju seragamnya, tak pernah bermain dengan anak-anaknya, tak bercinta dengan istrinya, tak perlu pusing memikirkan biaya hidup. Itulah barangkali yang membuat anak-anak dan kita semua barangkali menganggap kisah-kisah pahlawan tak lebih dari khayalan belaka. Sehingga kita yang hidup di alam nyata merasa mustahil meneladani semangat juang para pahlawan.
Barangkali inilah yang hendak ditepis Pramoedya Ananta Toer ketika menulis novel kepahlawanan Arok Dedes.  Ken Arok dan Ken Dedes, demikian kita lebih mengenalnya dari buku-buku sejarah sekolahan, di dalam novel Promedya hadir sangat manusiawi.  Ia memiliki kekerdilan dan keagungan sekaligus. Ia bisa culas dan bodoh, bisa juga bijaksana dan cerdas. Dengan segala trik dan tipudaya masa itu, Ken Arok secara gemilang menyingkirkan Tunggul Ametung dari kursi kekuasaan Tumapel, wilayah yang berada di bawah Kerajaan Kediri. Ken Arok mengambil alih kendali pemerintahan Tumapel. Peristiwa dalam novel itu terjadi pada 1212 Masehi.
Ken Arok datang dari rakyat kebanyakan. Dia memasuki Tumapel sebagai prajurit. Dan hanya dalam waktu dua bulan ia berhasil mengorganisir rakyat yang menderita di bawah kekuasaan Tunggul Ametung untuk melakukan perlawanan. Ken Arok adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung  memimpin pasukan Tumapel untuk meredam pemberontakan.  Alih-alih meredam pemberontakan, Ken Arok justru menganbil keuntungan dari kaum pemberontak. Ia menunggangi kaum pemberontak untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Setelah kekuasaan Tunggul Ametung pindah ke tangannya, Ken Arok berbalik menindas rakyat seperti yang selama ini dilakukan Tunggul Ametung. Piagam Magna Charta yang dimaklumatkan Raja John dari Inggris pada 1215 Masehi untuk kesetaraan semua orang, bangsawan maupun jelata, mendapatkan hak pribadi dan hak politik, ditendang. 
Dibanding novel Pramoedya yang lain, terutama Tertralogi Pulau Buru dan Gadis Pantai, Arok Dedes memang terkesan tidak begitu rapi struktur ceritanya. Mungkin bahan-bahannya yang kurang, atau editornya yang sedang malas. Entahlah. Sebagai pembaca kita jadi kurang dapat menikmati  alur novel ini. Jadi, seusai membaca buku terbitan Hasta Mitra tahun 2000 yang kudapatkan sebagai hadiah dari seorang kawan ini, aku berniat menjualnya melalui dinding facebook. Ternyata belum laku sampai sekarang. Kalau kamu berniat membelinya, sila hubungi aku ...

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka