Posts

Showing posts from February, 2016

Kasihanilah Mereka, Maryam!

Image
cerpen ini pernah disiarkan Pikiran Rakyat, Minggu, 21 Februari 2016 Kata-kata ibu kami benar belaka, di sini kami lebih baik. Bisa terbang seperti kupu-kupu yang tak menginginkan apa-apa lagi, termasuk ayam goreng. Kupu-kupu yang tak memerlukan bantal dan selimut untuk tidur. Untuk apa kami berebut ayam goreng, jika rasa lapar dan ingin itu sudah tak ada; kenapa pula harus berdesak-desakan di tempat tidur bila ruang tidak lagi berdaya mengurung kami. Kami mengepakan-ngepakkan sayap, meluncur ke sana kemari. Kami memang harus menahan sakit luar biasa sebelum sampai ke tempat ini. Tapi rasa sakit itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa detik setelah ibu membenamkan kepala kami satu persatu ke dalam bak mandi.

Jakarta dalam Selubung Kejahatan dan Kebaikannya

Image
Seorang kritikus sastra pernah menulis bahwa karya sastra yang baik adalah bagaimana pembaca dapat merasakan bau keringat, dengus napas, dan detak jantung tokoh-tokohnya. Pendeknya, kau dapat meraba mereka seolah mereka berada beberapa senti di depan hidungmu, membisikkan mimpi-mimpi, ambisi, dan kesedihannya kepadamu dengan begitu intim, seolah kau sendiri yang berbisik. Saya teringat ucapan kritikus sastra ini ketika menyaksikan film A Copy of My Mind besutan Joko Anwar. Begitu naturalnya sampai-sampai kita seperti lupa bahwa kita sedang menyaksikan sebuah film, bukan sedang mengintip kehidupan tetangga di sebelah rumah menggunakan kamera tersembunyi (candid camera)—beberapa adegan memang diambil dengan kamera tersembunyi seperti yang biasa dilakukan film dokumenter. Itu terjadi lantaran kita seperti dapat mengendus aroma keringat Sari (Tara Basro) yang sepanjang hari bekerja membersihkan dan memijat wajah para ibu pelanggan salon yang ceriwis. Simaklah dialog ini. "Kamu sudah pu…

Trilogi Keintiman Teddy

Image
“Pilihan hidup adalah pilihan hidup, tidak bisa divonis benar atau salah,” ujar Saiful (Donny Damara) kepada Cahaya (Raihaanun), putrinya, ketika mengantar Cahaya ke stasiun untuk kembali ke desa. Mereka baru bertemu setelah 14 tahun terpisah lantaran jalan hidup yang pilih Saiful. Saiful meninggalkan Cahaya ke Jakarta ketika anak itu berusia empat tahun. Di Jakarta Saipul menjadi Ipuy, seorang waria yang bekerja sebagai pekerja seks komersial.  Pertemuan mereka hanya terjadi semalam di bawah cahaya temaran di lorong-lorong Jakarta yang kumuh di balik gedung-gedung tinggi. Dalam pertemuan yang hanya semalam itulah cerita film Lovely Man ini bergulir. Cahaya yang baru lulus Aliyah hamil oleh pacarnya. Ia tak berani menceritakan kondisi itu kepada ibunya. Itu yang mendorong Cahaya mencari keberadaan ayahnya yang selama 14 dirahasiakan oleh ibunya.       Kita menyaksikan bagaimana relasi antara ayah dan anak dalam situasi yang serba tak nyaman, menekan, getir tapi juga kocak dan mengharu…

Tentang Cinta dan Perubahan Zaman yang Melibas Gotrok, Botol Limun, Mesin Jahit…

Image
Orang kampungku menyebut alat transportasi pengangkut tebu yang berjalan di atas rel itu gotrok. Kita menamainya kereta lori. Pada masa kanak, aku tidak asing dengan benda yang seluruhnya terbuat dari besi ini. Di belakang rumahku bentangan sawah yang kerap disewa pabrik gula untuk dijadikan kebun tebu. Jalur rel kereta lori akan melintasi perkebunan tebu untuk mengangkut tebu yang telah dipanen ke pabrik gula.  Aku bersama anak-anak kampung gemar mengejar kereta lori dan mencuri tebu. Kadang kami naik di atasnya sambil bersorak gembira. Kami tak sadar itu tindakan yang sangat berbahaya. Apabila terpeleset jatuh tubuh kami bisa remuk digilas roda-roda besi.
Kereta lori pengangkut tebu masih ada sampai pertengahan 1990-an. Seingatku menjelang tahun 2000 kereta lori sama sekali hilang dari kampung kami. Transportasi pengangkut tebu sejak itu diambil alih sepenuhnya oleh truk. Kini jalur relnya pun sudah hilang tanpa bekas. Entah kenapa alat transportasi berdaya angkut massal dengan biaya…

Sabtu Petang di Benteng Van Der Wijck

Image
Saya meraba tembok bangunan berwarna merah bata nan menyala-nyala itu. Terasa licin di telapak tangan. Dari kejauhan saya mengira warna merah tembok berketebalan sekitar 1,4 meter itu berasal dari bata merah yang bila kaupegang akan meninggalkan bekas merah pada telapak tanganmu. Bangunan berbentuk persegi delapan dengan lapangan di tengah-tengahnya  itu memang disusun dari bata merah. Namun, untuk menjaganya supaya tak lekas lekang akibat sengatan cuaca, permukaannya dilapisi cat minyak.

Inilah Benteng Van Der Wijck, bangunan warisan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun 1818. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan total ketinggian sekitar sepuluh meter. Melalui tangga yang melingkar di sisi pintu masuk utama saya bersama lima orang kawan naik ke lantai dua. Dari sana kami menyusuri lelorong di dalam benteng yang terbagi dalam banyak ruangan bercat putih berbentuk setengah lingkaran yang dahulu kala mungkin digunakan untuk merancang strategi dan menyimpan logistik. Kami mema…

Membual di Gombong

Image
“Percayalah, kalian tidak perlu bakat untuk menjadi penulis hebat,”  berlaga sebagai penulis atawa  jurnalis  kenamaan yang pernah meraih Piala Pulitzer aku mengucapkan kalimat ini di hadapan 40-an siswi-siswa SMA/SMK Gombong, Kebumen, dan sekitarnya di Roemah Martha Tilaar, Sabtu, pekan lalu. “Kalian cuma perlu berlatih terus menerus sampai mampus.” Kalau aku tidak salah lihat, manusia-manusia remaja yang tengah ranum-ranumnya itu terpukau dengan kalimat-kalimat yang bermuntahan dari mulutku. Aku mencoba berakting sungguh-sungguh dan yakin benar dengan apa yang aku katakan.

Sejujurnya, setiap kali diminta menjadi narasumber pelatihan menulis aku tidak pernah yakin apa yang aku sampaikan tidak menyesatkan peserta. Barangkali aku akan lebih senang bila mereka menganggapku membual belaka sehingga mereka tidak perlu terperosok ke jalur yang salah. Aku percaya mereka yang sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri yang paling cocok dan nyaman.

Kupikir begitulah dunia tulis menulis. Bag…