Jakarta dalam Selubung Kejahatan dan Kebaikannya

poster A Copy of  My Mind dari moviejunkieindonesia.com
Seorang kritikus sastra pernah menulis bahwa karya sastra yang baik adalah bagaimana pembaca dapat merasakan bau keringat, dengus napas, dan detak jantung tokoh-tokohnya. Pendeknya, kau dapat meraba mereka seolah mereka berada beberapa senti di depan hidungmu, membisikkan mimpi-mimpi, ambisi, dan kesedihannya kepadamu dengan begitu intim, seolah kau sendiri yang berbisik.
Saya teringat ucapan kritikus sastra ini ketika menyaksikan film A Copy of My Mind besutan Joko Anwar. Begitu naturalnya sampai-sampai kita seperti lupa bahwa kita sedang menyaksikan sebuah film, bukan sedang mengintip kehidupan tetangga di sebelah rumah menggunakan kamera tersembunyi (candid camera)—beberapa adegan memang diambil dengan kamera tersembunyi seperti yang biasa dilakukan film dokumenter. Itu terjadi lantaran kita seperti dapat mengendus aroma keringat Sari (Tara Basro) yang sepanjang hari bekerja membersihkan dan memijat wajah para ibu pelanggan salon yang ceriwis. Simaklah dialog ini.
"Kamu sudah punya suami?"
"Belum."
"Kalau cari suami yang kaya. Supaya kita bisa leha-leha di rumah ngurus keluarga,"
"Ngurus keluarga juga kerja, bu"
"Beda, ngurus keluarga itu seperti kemping yang nggak kelar-kelar." 
Kita dapat merasakan kepenatan dan kebosanan Sari yang tak perlu diucapkan; serta kegemarannya menonton film melalui DVD bajakan. Kegemaran yang berkhasiat meloloskannya dari segala keruwetan kota besar Jakarta.
Sari bertemu dengan Alek (Chicco Jerikho),  seorang penerjemah DVD-DVD bajakan di kawasan perkulakan DVD bajakan. Mereka dengan cepat menjadi dekat dan bercinta dengan nikmat. Mereka diikat oleh keping-keping DVD, dan bagi mereka itu sudah cukup. Kehebohan politik menjelang pemilihan presiden, kekumuhan dan kesemerawutan gang-gang Ibu kota tak pernah terlintas apalagi perlu memusingkan mereka. Namun, karena benda itu pula segala yang sederhana dari hidup dan cinta mereka jadi hancur berkeping-keping.
Sari yang suka mengutil DVD suatu hari menemui takdir apesnya. Ia mencuri DVD saat melayani Mirna, (Maera Panigoro) seorang perempuan yang punya kuasa membeli para pembuat undang-undang, di kamar penjaranya yang mewah. DVD yang berisi rekaman bukti kejahatan para politisi membawa Sari memasuki hari-hari yang berbahaya dan mencemaskan.  Semua berawal dari ketidaksabaran Sari mengikuti training di salon mewah yang menerimanya bekerja. Seandainya Sari sedikit saja bersabar mengikuti prosedur, tentu dia tidak akan diberi tugas menangani seorang pelanggan di penjara.
Seandainya Sari bersabar mengikuti prosedur tentu dia akan diterima menjadi pegawai salon mewah itu dan mendapat gaji yang mungkin lebih baik sehingga dia bisa menabung untuk membeli home theatre seperti impiannya. Tapi, seperti pepatah bilang, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, Sari harus menerima kemalangan yang tak pernah terjangkau pikiran sederhananya. Dua orang polisi suruhan Mirna memburu Sari dan Alek. Mereka hanya berhasil menangkap dan menghajar Alek sampai mati. Sementara Sari yang lugu lolos begitu saja. Tak heran, mereka bukan agen FBI, hanya polisi yang mencari tambahan penghasilan dengan menjual jasa membunuh kepada politisi jahat. 
Joko menyajikan tema yang dekat dengan kaum urban Jakarta yang tinggal di permukiman padat yang bertebaran di antara hotel-hotel megah, kafe mewah, gedung-gedung menjulang dan segala yang gemerlap di Ibu Kota, tapi juga kejahatan para politisi, tanpa perlu berteriak geram-marah. Dan semuanya disajikan dengan cara sangat natural, serta jalinan alur cerita yang mengalir tenang namun penuh jebakan.
Ketidaksabaran Sari untuk segera menangani pelanggan salon sangat dapat dimengerti. Juga kebosanan Sari hanya memandangi pegawai senior melakukan pekerjaan yang sudah sangat dia hapal di luar kepala. Sekali lagi, menyaksikan A Copy of My Mind seperti mengintip tetangga kamar kosan kita. Percakapan-percakapan penghuninya. Suara azan subuh yang bising dan berebut membangunkan tidur lelap mereka. Pantaslah untuk karyanya ini Festival Film Indonesia 2015 mengganjar Joko Anwar sebagai sutradara terbaik.    

Comments