Membual di Gombong

Suasana kelas penulisan di Roemah Marta Tilaar, Gombong, Kebumen, Sabtu (30/1) 
“Percayalah, kalian tidak perlu bakat untuk menjadi penulis hebat,”  berlaga sebagai penulis atawa  jurnalis  kenamaan yang pernah meraih Piala Pulitzer aku mengucapkan kalimat ini di hadapan 40-an siswi-siswa SMA/SMK Gombong, Kebumen, dan sekitarnya di Roemah Martha Tilaar, Sabtu, pekan lalu. “Kalian cuma perlu berlatih terus menerus sampai mampus.” Kalau aku tidak salah lihat, manusia-manusia remaja yang tengah ranum-ranumnya itu terpukau dengan kalimat-kalimat yang bermuntahan dari mulutku. Aku mencoba berakting sungguh-sungguh dan yakin benar dengan apa yang aku katakan.

Sejujurnya, setiap kali diminta menjadi narasumber pelatihan menulis aku tidak pernah yakin apa yang aku sampaikan tidak menyesatkan peserta. Barangkali aku akan lebih senang bila mereka menganggapku membual belaka sehingga mereka tidak perlu terperosok ke jalur yang salah. Aku percaya mereka yang sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri yang paling cocok dan nyaman.

Kupikir begitulah dunia tulis menulis. Bagiku ia tidak perlu teori, tidak perlu mengikuti pelatihan menulis. Kau hanya butuh mempraktikannya terus menerus sambil banyak-banyak membaca untuk memperkaya referensi. Teori menulis secanggih apa pun tidak akan banyak menolongmu kalau membaca saja kamu malas. Membaca tidak hanya memperkaya bahan dan rujukan, tapi juga memancing ide dan mempelajari teknik dan gaya penulisan orang lain.

Pelatihan menulis hanya berguna untuk bertemu dan saling berbagi tentang pengalaman menulis dengan orang yang sama-sama memiliki kegemaran menulis. Bagi yang sungguh-sungguh menggemari penulisan, bertemu dan berbagi pengalaman menulis dapat meletupkan gairah dan semangat untuk menulis dan berkompetisi. Berbagi pengalaman menulis juga berarti berdiskusi dan saling mengkritik tulisan satu sama lain. Lalu berlomba menguji karyamu dengan mengirimkannya ke penerbit, media massa, sayembara-sayembara penulisan yang infonya bisa kamu dapatkan di internet.

Jadi, seandainya kamu mampu menciptakan kegairahan dan semangat sendiri, maka tidak perlu mengikuti pelatihan menulis. Lebih berguna kamu mendekam kamar sendirian, membaca dan menulis sebanyak-banyaknya. Tak perlu ongkos keluar rumah. Bertemu dengan banyak orang kadang hanya menghabiskan energi yang tak perlu. Apalagi bagi tipe penyendiri. Karena bertemu dengan orang lain berarti kamu juga harus berkompromi, melakukan adaptasi dengan orang lain yang meskipun punya kegemaran yang sama pasti memiliki kebiasaan berbeda.

Tetapi sebagai mahluk sosial kamu membutuhkan orang lain. Kamu perlu bertemu dan berkumpul untuk merencanakan dan melakukan sebuah perubahan, bukan? Inilah manfaat penting lain bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kegemaran dan mimpi yang sama. Itulah yang aku yakinkan kepada diriku sendiri saban berada di tengah-tengah peserta kelas penulisan.  Kalau acara kelas penulisan itu dilakukan di luar kota yang belum pernah kukunjungi, akan lebih menyenangkan lagi. Karena berarti aku akan mendapat bonus pengalaman baru mengenal kota lain.
di muka Roemah Martha Tilaar

Itulah sebabnya aku bersemangat ketika kawanku yang orang Gombong mengajakku mengisi kelas penulisan di kotanya. Seorang pengusaha industri kecantikan membuka museum dan semacam rumah budaya di bekas rumah masa kecilnya di Gombong. Ia mempersembahkan rumah itu untuk masyarakat sekitar berkegiatan, mulai dari pelatihan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, pementasan karya seni, hingga diskusi budaya dan sebagainya. Di sanalah program penulisan dan jurnalistik itu diselenggarakan.  Kelas berlangsung dalam empat sesi, aku dan tiga kawan masing-masing mengisi setiap sesi. Mulai dari sejarah pers, teknik melakukan reportase, teknik menulis opini dan fiksi, dan desain grafis.  Aku gembira melihat antusiasme peserta. Juga obrolan hangat pengelola museum dan rumah budaya. Program kelas penulisan rencananya akan dilakukan rutin dengan target menerbitkan media lokal yang dikelola oleh anak-anak muda di kota itu. 

"Jadi, kemampuan menulis sama belaka dengan kepintaran lain seperti main bulutangkis dan main basket. Ia tidak turun begitu saja dari langit, melainkan harus diperjuangkan dengan keringat dan darah. Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan atau dinyatakan? Ada yang mau protes, membantah?" Hening. Ah barangkali aku memang terlalu berlebihan atawa lebay... 

Comments