Tentang Cinta dan Perubahan Zaman yang Melibas Gotrok, Botol Limun, Mesin Jahit…

Poster film dari wowkeren.com
Orang kampungku menyebut alat transportasi pengangkut tebu yang berjalan di atas rel itu gotrok. Kita menamainya kereta lori. Pada masa kanak, aku tidak asing dengan benda yang seluruhnya terbuat dari besi ini. Di belakang rumahku bentangan sawah yang kerap disewa pabrik gula untuk dijadikan kebun tebu. Jalur rel kereta lori akan melintasi perkebunan tebu untuk mengangkut tebu yang telah dipanen ke pabrik gula.  Aku bersama anak-anak kampung gemar mengejar kereta lori dan mencuri tebu. Kadang kami naik di atasnya sambil bersorak gembira. Kami tak sadar itu tindakan yang sangat berbahaya. Apabila terpeleset jatuh tubuh kami bisa remuk digilas roda-roda besi.

Kereta lori pengangkut tebu masih ada sampai pertengahan 1990-an. Seingatku menjelang tahun 2000 kereta lori sama sekali hilang dari kampung kami. Transportasi pengangkut tebu sejak itu diambil alih sepenuhnya oleh truk. Kini jalur relnya pun sudah hilang tanpa bekas. Entah kenapa alat transportasi berdaya angkut massal dengan biaya operasional dan perawatan lebih murah dibanding transportasi truk itu ditinggalkan oleh manajemen pabrik gula di kota kecil kami. Tentu banyak faktor yang menjadi penyebab, salah satunya barangkali karena pengelola tidak dapat mengakali anggaran subsidi pemerintah seperti yang diberikan pada transportasi truk. Entahlah, yang jelas anak-anak di kampungku sekarang mengenal gotrok hanya dari gambar-gambar di internet.
gambar dari flicker.com

Melihat gotrok di film “Aach Aku Jatuh Cinta” yang kutonton kemarin malam bukan saja mengingatkanku pada masa kanak, tapi juga menegaskan ingatan kita kepada ihwal perubahan. Dan itulah memang yang disampaikan Garin melalui film ini. Lenyapnya keberadaan benda-benda semacam gotrok, botol limun sari jeruk, mesin jahit dan benda-benda kecil lainnya menandai zaman yang berubah. Kalau mau diteruskan, perubahan zaman itu secara sosio-politis-ekonomis adalah masuknya pemodal besar yang menggusur usaha rumahan. Garin menuturkan perubahan itu melalui kisah cinta yang puitis dan penuh kekacauan Rumi (Chicco Jerikho) dan Yulia (Pevita Pearce).

Adegan dibuka dengan Yulia yang duduk di bangkai-bangkai gotrok yang telah ditumbuhi tanaman menjalar sambil menuturkan perjalanan hidup dan cintanya melewati zaman demi zaman yang berganti. Usaha limun sari jeruk orangtua Rumi gulung tikar menyusul datangnya zaman baru. Orangtua Rumi atau kita boleh saja marah kepada zaman yang berubah dan menghancurkan usahanya. Tapi perubahan tak pernah ada yang sanggup menghentikan.

Garin tidak sedang meratapi perubahan yang sanggup menghancurkan kita dengan begitu kejam atau mendesakkan pesan bagaimana kita menghadapi perubahan itu, Garin hanya mencatat kenangan lenyap dan munculnya benda-benda dan pikiran yang menandai perubahan itu. Perubahan yang memunculkan realitas baru yang lebih banyak menyodorkan kehilangan ketimbang harapan. Tetapi, sekali lagi, Garin tidak meratapi perubahan itu.  Garin sekadar asyik menyajikan gambar-gambar yang indah berisi kesedihan dan humor-humor ringan. 

Kita banyak menjumpai adegan yang membaurkan realtas dan imajinasi. Garin seakan sedang meledek dirinya sendiri dan kita semua yang acap kehilangan pegangan untuk menunjuk mana yang sungguh-sungguh realitas dan sekadar imajinasi. Seperti ibu Rumi yang diperankan secara apik oleh Nova Eliza yang galau dan akhirnya pergi memilih realitas imajinasi menjadi penyanyi ketimbang setia menjaga realitas rumah tangganya. Seperti film-film Garin, ia tidak hanya puitis tapi juga filosofis. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka