Sabtu Petang di Benteng Van Der Wijck

Pintu utama Benteng Van Der Wijck, Sabtu (30/1) 
Saya meraba tembok bangunan berwarna merah bata nan menyala-nyala itu. Terasa licin di telapak tangan. Dari kejauhan saya mengira warna merah tembok berketebalan sekitar 1,4 meter itu berasal dari bata merah yang bila kaupegang akan meninggalkan bekas merah pada telapak tanganmu. Bangunan berbentuk persegi delapan dengan lapangan di tengah-tengahnya  itu memang disusun dari bata merah. Namun, untuk menjaganya supaya tak lekas lekang akibat sengatan cuaca, permukaannya dilapisi cat minyak.

Inilah Benteng Van Der Wijck, bangunan warisan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun 1818. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan total ketinggian sekitar sepuluh meter. Melalui tangga yang melingkar di sisi pintu masuk utama saya bersama lima orang kawan naik ke lantai dua. Dari sana kami menyusuri lelorong di dalam benteng yang terbagi dalam banyak ruangan bercat putih berbentuk setengah lingkaran yang dahulu kala mungkin digunakan untuk merancang strategi dan menyimpan logistik. Kami memasuki ruangan demi ruangan hingga kembali sampai ke titik pertama.

Dari lantai dua kami dapat merasakan kemegahan bangunan secara lebih nyata. Dari sini pula kami dapat melihat lapangan di tengah-tengah benteng. Pengambilan gambar adegan perkelahian para narapidana film The Raid 2: Berandal dilakukan di lapangan yang di beberapa sisinya ditumbuhi pohon palem ini. Foto-foto dokumentasi beberapa adegan film laris itu ditempel di lantai satu, dekat pintu masuk. Setiap ruangan di dalam benteng memiliki jendela-jendela berukuran besar dan berteralis. Kini beberapa jendela sudah tak ada teralisnya, atau diganti dengan teralis dari kayu yang mulai rapuh yang agak membahayakan. Seperti umumnya wisatawan kampung yang norak, tak bosan-bosannya kami cekrak cekrek mengambil gambar.

Pada bagian paling atas atawa rooftop benteng terdapat kereta dan beberapa wahana wisata liannya untuk keluarga yang dikembangkan pengelola untuk menarik wisatawan. Kami enggan naik ke sana karena di langit kami melihat mendung tebal berarak. Di rooftop kalau hujan tidak ada tempat berteduh kecuali atap kereta yang diperuntukan bagi anak-anak. Jadi,  kami hanya melihat seadanya dari bawah. 
Benteng Van Der Wijck berlokasi di Jalan Sapta Marga Nomor 100, Gombong, Kebumen. Sekitar 166,6 kilometer dari Semarang. Waktu kami ke sana, suasananya terlihat sepi. Hanya ada tiga orang bocah dari warga sekitar sedang bermain sepeda di lapangan di dalam kompleks benteng. Aneka kedai makanan di sepanjang sisi ruas jalan dari pintu gerbang menuju benteng sudah pada tutup. Begitu pula hotel yang dulunya barak tentara di sisi yang lain, terlihat gelap.
foto karya Alona Ong
Petang itu, selain kami tampaknya tidak ada pengunjung lain. Sehingga saya agak kesulitan menggali informasi seputar sejarah benteng karena tak ada petugas yang dapat ditanya-tanya. Mengherankan, padahal itu hari Sabtu. Kami datang memang menjelang petang. Loket di depan gerbang sudah tutup  beberapa jam lalu. Dua orang penjaga pintu gerbang sedang asyik bercengkrama sambil minum kopi ketika kami tiba di sana. Jadi saya hanya memperoleh informasi sedapatnya dari kawan Gombong yang memandu kami ke sana.
Menurut kawan yang memandu kami, lapangan di dalam kompleks benteng kadang dijadikan tempat untuk latihan oleh TNI. Bahkan beberapa ruangan di lantai satu digunakan untuk mereka beristirahat. Saat kami berada di luar benteng, di dekat patung jerapah dan kerbau, secara kebetulan kami memergoki dua orang tentara berusia belia keluar dari sana. Mereka tampak menghindar dari tatapan kami. 

Sekadar info (tak penting), lawatan saya ke Benteng Van Der Wijck sama sekali bukan kesengajaan. Karena sebelum ini saya tak pernah tahu ada situs sejarah yang menarik di kota kecil yang pada suatu masa pernah dikenal sebagai kota penghasil sarang burung wallet ini. Saya ke Gombong untuk mengisi kelas penulisan di Roemah Martha Tilaar. Seusai pelatihan sekitar pukul 16, kawan saya mengajak ke benteng megah ini. Ini tentu saja kejutan yang menyenangkan. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari Roemah Martha Tilaar, dan 2,5 kilometer dari hotel tempat kami menginap. Letak stasiun Gombong sendiri hanya satu kilometer dari hotel.
foto karya Alona Ong

Tetapi kami tidak naik kereta melalui stasiun Gombong yang dilewati kereta Jalur Utara, melainkan stasiun Kroya yang berjarak beberapa ratus kilometer dari Gombong. Kami terpaksa naik kereta yang lewat jalur Selatan karena tiket kereta yang lewat jalur Utara habis. Kami menghabiskan waktu hampir 12 jam perjalanan dari Jakarta. Kalau lewat jalur Utara hanya memakan waktu separuhnya. Untunglah pemandangan jalur Selatan yang indah serta novel Sidney Sheldon yang kubawa menyelamatkanku dari rasa lelah dan bosan.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka