Trilogi Keintiman Teddy

poster film dari sidomi.com
“Pilihan hidup adalah pilihan hidup, tidak bisa divonis benar atau salah,” ujar Saiful (Donny Damara) kepada Cahaya (Raihaanun), putrinya, ketika mengantar Cahaya ke stasiun untuk kembali ke desa. Mereka baru bertemu setelah 14 tahun terpisah lantaran jalan hidup yang pilih Saiful.
Saiful meninggalkan Cahaya ke Jakarta ketika anak itu berusia empat tahun. Di Jakarta Saipul menjadi Ipuy, seorang waria yang bekerja sebagai pekerja seks komersial.  Pertemuan mereka hanya terjadi semalam di bawah cahaya temaran di lorong-lorong Jakarta yang kumuh di balik gedung-gedung tinggi. Dalam pertemuan yang hanya semalam itulah cerita film Lovely Man ini bergulir. Cahaya yang baru lulus Aliyah hamil oleh pacarnya. Ia tak berani menceritakan kondisi itu kepada ibunya. Itu yang mendorong Cahaya mencari keberadaan ayahnya yang selama 14 dirahasiakan oleh ibunya.      
Kita menyaksikan bagaimana relasi antara ayah dan anak dalam situasi yang serba tak nyaman, menekan, getir tapi juga kocak dan mengharukan. Kita menyimaknya melalui dialog, gerak tubuh, dan ekspresi wajah keduanya di wilayah ambang, antara menolak dan menerima. Mereka kadang bertengkar, namun diam-diam tumbuh perasaan saling menyayangi. Kita pun merasakan keintiman yang ganjil.
“Jangan berpikir gue terpaksa menjalani pekerjaan ini. Gue senang kok,” ujar Ipuy ketka Cahaya mengomentari jalan hidup yang dipilihnya. Kalimat itu diucapkan dengan nada marah karena merasa direndahkan. 
Semalaman Cahaya melihat langsung kehidupan malam Jakarta yang dipilih—atau memilih— ayahnya. Mereka makan di warung padang, naik bus Trans Jakarta, menyusuri pasar malam, dan naik komidi putar. Cahaya sempat melihat ayahnya dengan seorang lelaki yang diakui Ipuy sebagai kekasihnya.
“Memangnya bisa ya lelaki jatuh cinta kepada sesama lelaki?” Cahaya bertanya kepada ayahnya.
“Kenapa tidak?” sambar Ipuy, cepat.  Mereka sempat terpisah ketika sekelompok preman memergoki Ipuy yang memang tengah  mereka buru lantaran mencuri uang sang preman. Menjelang subuh, setelah melalui pengejaran yang menegangkan, kelompok preman berhasil menangkap, menghajar, dan mengancam Ipuy untuk mengembalikan uang yang dicurinya dalam waktu 24 jam.  Sebelum meninggalkan Ipuy yang tertelungkup tak berdaya di sebuah gang yang lengang, di antara azan subuh yang bersahut-sahutan, salah seorang di antara mereka bahkan sempat memperkosa Ipuy.
Tuti Kirana: salah satu adegan About Woman
Film yang hampir seluruh ceritanya terjadi di malam hari, kita tahu, ingin menyampaikan bahwa tak ada persoalan salah dan benar dalam perkara jalan hidup yang dipilih—atau memilih— seseorang. Namun Teddy Soeriaatmadja, sang sutradara, tampaknya masih kurang yakin sehingga ia merasa perlu memverbalkannya dengan kalimat yang diucapkan Ipuy seperti yang  saya kutip di awal catatan ini.
Lovely Man merupakan satu dari trilogi yang disebut Tedy sebagai Trilogi Keintiman. Film yang dirilis 2011 ini saya tonton untuk kali kedua di Goethe Haus, pekan lalu.  Dua lainnya yaitu About Woman (2014) dan Something In the Way (2013). About Woman saya tonton malam berikutnya pada perhelatan Plaza Indonesia Film Festival. Berkisah tentang janda usia senja yang menemukan dan meletupkan kembali gairah dan hasrat seksnya kepada seorang remaja lelaki setelah sekian lama hidup sendiri dengan kesepian  yang disangkalnya.  
Teddy yang hadir seusai pemutaran berpesan kepada penonton yang sebagian para filmmaker belia,  “Manusiakanlah  tokoh-tokoh dalam film yang kamu buat, bukan memalaikatkan atau menyetankan mereka.”   Saya tidak sempat menyimak lebih jauh yang dikatakan Teddy. Saya hanya berharap menemukan kesempatan menyaksikan Something In the Way yang saat diputar di Kineforum tempo hari saya lewatkan. Hanya Lovely Man sempat diputar di bioskop jaringan 21. Teddy tidak bersedia filmnya diputar di sana kalau harus menghadapi gunting lembaga sensor.
Trilogi Keintiman telah melanglang ke sejumlah festival film di dalam dan luar negeri dan mendapat sejumlah penghargaan, antara lain Donny Damara sebagai aktor terbaik di ajang Asian Film Awards 2011.  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka