Posts

Showing posts from March, 2016

Bersenang-senang melalui Menulis

Image
Menulis bagi sebagian orang adalah cara untuk mencari kesenangan; sebagian yang lain untuk memenuhi kebutuhan intelektual; dan sebagian yang lain lagi dan mungkin ini yang paling banyak, untuk mendapatkan uang. Di luar keragaman motif menulis, kegiatan menulis apabila dijalankan dengan benar mestinya orang akan mendapatkan ketiganya: kesenangan, pemenuhan kebutuhan intelektual, dan uang. Hanya dengan cara itu saya rasa kegiatan menulis akan langgeng dijalani.

Terang Redup Prambanan

Image
Jam digital di telepon seluler saya baru menunjuk pukul setengah delapan pagi ketika mobil yang mengantar kami memasuki kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, Jumat dua pekan lalu. Cuaca tidak menentu waktu kami sampai di pelataran candi Prambanan. Langit sebentar redup  bergerimis, sebentar terang. Saya mengamati bangunan candi dari jarak dekat, meraba-raba tumpukan batu dan relief-relief yang terpahat di dindingnya. Bahkan saya sempat mendaki candi yang paling tinggi dan masuk ke dalam ruangan yang dulu digunakan sebagai tempat bertapa raja dan pendeta.  Para petugas pemelihara tampak sedang bekerja membersihkan candi. Mereka bergelayutan menggunakan tambang yang melilit pinggang untuk menjangkau celah-celah candi  bagian atas. Mereka tak tampak kuatir tergelincir. 

Cerita Turistik tentang Seorang Aktivis

Image
Berapa lamakah usia manusia seandainya ia mampu menjaga kesehatannya? Berapa panjang umur tubuh kita apabila ia mampu meregenerasi sendiri sel-selnya secara terus menerus sehingga ketuaan dan kematian tak kuasa menjamahnya dan manusia bisa hidup abadi? Kita menunggu kaum ilmuan—juga seniman—untuk menyingkap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.   Sambil menunggu para ilmuan bekerja menemukan jawabannya, kita baca cerita tentang manusia-manusia yang hidup abadi yang ditulis sastrawan kebanggaan Indonesia Linda Christanty berjudul Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi yang terdapat dalam buku kumpulancerpen Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2012).

Mengenang Jakarta di Paris

Image
Buku kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma berjudul Tiada Ojek di Paris ini tidak membicarakan tentang kota pusat mode dunia itu, melainkan tentang kota Jakarta yang kita cintai sekaligus kita benci; di mana di sekujurnya bersemayam pusat segala impian dan keputusasaan orang seluruh Indonesia. Seno mencomot Paris untuk membandingkannya secara ironis bin sinis dengan Jakarta. Membandingkan Jakarta yang menyimpan kemelaratan bin kekumuhan di balik gemerlapnya dengan ibu kota Perancis di Eropa sana, Seno mungkin ingin mengejek kota—dan prilaku orang— Jakarta yang dicintai dan dirinduinya.