Bersenang-senang melalui Menulis

Widi Hatmoko, sang pengarang (tengah), Sabtu (5/3). Foto dari TribunNews.com
Menulis bagi sebagian orang adalah cara untuk mencari kesenangan; sebagian yang lain untuk memenuhi kebutuhan intelektual; dan sebagian yang lain lagi dan mungkin ini yang paling banyak, untuk mendapatkan uang. Di luar keragaman motif menulis, kegiatan menulis apabila dijalankan dengan benar mestinya orang akan mendapatkan ketiganya: kesenangan, pemenuhan kebutuhan intelektual, dan uang. Hanya dengan cara itu saya rasa kegiatan menulis akan langgeng dijalani.
Dia juga menuturkan bagaimana ia membujuk walikota untuk hadir pada acara peluncuran bukunya. Bujukannya tidak berhasil. Tapi sang Walikota tetap ingin memperlihatkan kepedulianya kepada sastra dengan mengutus wakilnya. Bagi saya ini pun sudah luar biasa, kalau bukan anomali. Bayangkan saja, Buku kumpulan cerpen diluncurkan oleh wakil walikota di restoran dalam mal! Barangkali kita perlu berterima kasih kepada orang macam kawan saya ini.  

Sabtu dua pekan lalu saya diminta seorang kawan menjadi narasumber untuk acara peluncuran buku fiksinya. Acara itu digelar di sebuah restoran dalam mal besar di Cikokol, Tangerang, dan dihadiri Wakil Walikota. Bagi kawan saya, menerbitkan buku fiksi tampaknya lebih untuk mencari kesenangan. Dan dia tampaknya mencapai tujuannya. Kepada saya dia mengaku mendapatkan kepuasan sekalipun harus mengeluarkan sendiri sejumlah dana yang tidak sedikit untuk menerbitkannya dalam bentuk buku dan kemudian meluncurkannya di mal.

Sehari-hari kawan ini seorang pewarta untuk sebuah harian lokal yang terbit di Banten. Kesenangan yang dia dapatkan saya pikir tidak hanya dia bisa menulis sesuatu yang tidak dapat dia tuliskan sebagai berita, tapi juga jadi terlihat berbeda dari rekan pewarta yang lain. Dengan menulis sastra dia merasa lebih humanis dan mampu tetap berjalan di rel yang benar. Maklumlah zaman sekarang banyak pewarta terjerumus menempuh sikap pragmatis untuk mendapatkan sabetan yang seringkali lebih besar dari gaji yang diterima dari kantor.

“Kau tahu sendiri, dari dulu saya ingin menulis sastra dan punya buku,” kata kawan saya. Tentu saja saya tahu. Dia dulu penjual suara di bus-bus kota. Dia mengumpulkan uang untuk biaya kursus menulis. Saya bertanya kenapa dia begitu terobsesi menulis sastra, menerbitkan buku, sampai-sampai rela merogoh kocek sendiri karena makin susah penerbit menerima karya sastra untuk mereka terbitkan.

Buku yang dimaksud adalah kumpulan cerpen yang dia beri tajuk Perempuan Nocturnal, menghimpun 12 cerpen. Hampir semua cerpen dalam buku ini tokoh-tokohnya datang dari kalangan masyarakat pinggiran; pelacur, maling, dukun kampung, pengasong. Persoalan-persoalan yang dihadapi wong cilik memang sederhana sehingga lebih gampang dituliskan. Tapi benarkah begitu? Kawan saya mengaku tertarik mengangkat kisah tentang pelacur karena mengaku pada suatu kesempatan ia ditugasi redakturnya membuat feature tentang kehidupan pelacur.
Untuk menghasilkan feature yang baik dia tidak hanya harus keluar masuk pub-pub dangdut di Daan Mogot, tapi dia juga merasa harus berpacaran dengan seorang pelacur untuk menggali kehidupan mereka. Ia kelebihan bahan kalau hanya dituliskan menjadi feature

“Melalui sastralah saya memanfaatkan bahan-bahan yang tidak terpakai di feature,” dia bilang sambil menyetir dalam perjalanan ke pub. Barangkali ia sedang menjalankan laku ketika 'Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara'-nya Seno Gumira Ajidarma namun dalam versi yang sedikit berbeda. 


Comments