Cerita Turistik tentang Seorang Aktivis

model diperani oleh Indra Maulana
Berapa lamakah usia manusia seandainya ia mampu menjaga kesehatannya? Berapa panjang umur tubuh kita apabila ia mampu meregenerasi sendiri sel-selnya secara terus menerus sehingga ketuaan dan kematian tak kuasa menjamahnya dan manusia bisa hidup abadi? Kita menunggu kaum ilmuan—juga seniman—untuk menyingkap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.  
Sambil menunggu para ilmuan bekerja menemukan jawabannya, kita baca cerita tentang manusia-manusia yang hidup abadi yang ditulis sastrawan kebanggaan Indonesia Linda Christanty berjudul Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2012).
Luta berumur 350 tahun, Panglima Burung berusia 850 tahun, dan dua orang teman seperguruan mereka, Datu Pasir dan Datu Kutai Pasir berusia di antara itu. Luta hidup abadi untuk menjaga sukunya dari kepunahan dan bahaya. Mereka hidup di pedalaman pulau Kalimantan.
Saya, penutur dalam cerita ini, sedang meneliti tentang orang-orang yang hidup abadi. Saya meneruskan penelitian yang ditinggalkan kawannya, Helmut Herzog, seorang antropolog Jerman lantaran bertemu dengan mantan kekasihnya dan memilih menghabiskan sisa hidupnya dengan berumah tangga. Cerita yang lebih mirip atau menggunakan teknik laporan jurnalistik ini menarik karena membuat kita bertanya-tanya, seandainya benar ada manusia yang mampu hidup abadi. Sayangnya hanya sampai tahap itu.
Cerita ini tidak menyajikan penjelasan bagaimana sel-sel tubuh Luta bekerja sehingga bisa bertahan hidup dalam usia yang sangat panjang. Seimajinatif apa pun penjelasan itu diperlukan oleh kita sebagai pembaca. Linda tampaknya menghindari kerepotan semacam itu, dan dia lebih menempuh cara yang lebih mudah: persoalan manusia yang hidup abadi adalah menghadapi penderitaan melawan kesepian yang juga abadi. Anehnya, kebanyakan mereka justru memilih menjauhi keramaian dengan cara bertapa hingga akhir zaman. Kecuali Luta, dia bertemu dengan orang-orang dan berbicara dengan mereka.  
Sebagian cerita dalam buku kumpulan cerpen ini memang lebih mirip laporan jurnalistik. Linda, kita tahu, banyak menulis laporan jurnalistik dengan pendekatan jurnalisme sastrawi untuk majalah Pantau. Saya pernah membaca buku kumpulan karya-karya jurnalisme sastrawi. Di dalam buku terbitan majalah Pantau almarhum itu, antara lain saya menemukan laporan jurnalistik Linda berjudul Hikayat Kebo; tentang pembunuhan yang dilakukan sekawanan pemulung dengan korban seorang preman cum pemulung bernama alias Kebo. Peristiwa aktual pembunuhan itu ditulis Linda layaknya sebuah cerita fiksi dengan rerinci yang mengagumkan.     
Dengan cara seperti itulah Linda menuliskan sebagian cerita dalam buku kumpulan cerpennya yang ketiga ini—setelah Kuda Terbang Mario Pinto dan Rahasia Selma. Dalam cerpen Pertemuan Atlantik, Linda menulis serupa catatan perjalanan. Aku dalam cerpen ini melakukan perjalanan ke Maroko untuk mengikuti sebuah pertemuan para aktivis—entah aktivis sastra atau aktivis lingkungan—dari berbagai penjuru jagat dewa batara. Aku mencatat peristiwa-peristiwa kecil sepanjang perjalanannya bersama dua orang aktivis dari Afrika dan Turki yang satu mobil dengannya. Cerita ini terkesan ngalor ngidul, tidak fokus. Aku tiba-tiba membaca surat dari Hardi, abangnya, seorang pekerja di toko elektronik, yang diselingkuhi istrinya. Aku menyarankan abangnya menerima istrinya yang meminta kembali setelah dihamili lelaki lain. Barangkali aku adalah seorang feminis, dan kepergiannya ke Maroko untuk konferensi dengan para feminis dari seantero bumi.
Fenny
Demikian pula cerita  Seekor Anjing Mati di Bala Murghab. Tokohnya seorang fotografer yang melakukan liputan perang di Afghanistan. Ia terguncang melihat peristiwa ditembaknya seekor anjing piaran milik seorang bocah oleh tentara yang ditaksir berusia belasan tahun. Anjing, kita tahu, adalah hewan yang liurnya najis dan harus dijauhi kaum muslim.
Cerpen Seekor Anjing Mati di Bala Murghab mengkritik keras perlakuan tentara Afghanistan yang kejam terhadap anjing dengan cara mengeksplorasi guncangan mental yang dialami bocah pemilik anjing atas kematian hewan piara kesayangannya.   
Pada cerpen Sihir Musim Dingin, Linda menuturkan kisah ia yang melakukan kunjungan ke Shibuya, sebuah kota supersibuk di Jepang. Sebuah kota yang membawa ia kepada kenangan indah bersama Keiko dan pertemuannya dengan seorang aktivis antiperang Vietnam. Tokoh-tokoh dalam cerita-cerita yang ditulis laksana jurnalisme sastrawi ini umumnya adalah seorang aktivis dengan lingkungan pergaulan kosmopolitan, tokoh-tokoh yang tampaknya identifikasi dari penggarapnya.    

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka