Mengenang Jakarta di Paris

Model diperani oleh Astrid
Buku kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma berjudul Tiada Ojek di Paris ini tidak membicarakan tentang kota pusat mode dunia itu, melainkan tentang kota Jakarta yang kita cintai sekaligus kita benci; di mana di sekujurnya bersemayam pusat segala impian dan keputusasaan orang seluruh Indonesia. Seno mencomot Paris untuk membandingkannya secara ironis bin sinis dengan Jakarta. Membandingkan Jakarta yang menyimpan kemelaratan bin kekumuhan di balik gemerlapnya dengan ibu kota Perancis di Eropa sana, Seno mungkin ingin mengejek kota—dan prilaku orang— Jakarta yang dicintai dan dirinduinya.
Tetapi sekadar mengejek tentu bukan tabiat tulisan-tulisan Seno. Wartawan cum sastrawan ini juga mengkritik, meratapi, merindui, dan membanggai Jakarta sebagai kota dengan dimensi yang berlapis-lapis. Namun dengan cara sangat Seno yang kaya referensi dan selera humor yang pas takaran seperti yang kita kenal lewat karya fiksinya. Hasil amatannya yang jeli dan tak terpikirkan sesungguhnya merefleksikan rasa cintanya kepada Jakarta dengan kesadaran dan tanggung jawab yang besar.
Hanya, mengapa Paris? Barangkali, ya barangkali karena Paris pusat mode dunia yang menjadi kiblat para pesohor Jakarta dalam bergaya hidup dan maunya romantis-romantisan. Coba tanya, pesohor Jakarta mana yang tidak pengen ke Paris, jalan-jalan ke menara Eiffel, kalau perlu tinggal di bawahnya. Bagi pesohor Jakarta seolah belum menjadi bagian warga dunia yang makmur sejahtera—walaupun dengan entah cara apa—kalau belum gentayangan ke Paris; sama persis bagi warga Nusantara yang merasa belum menjadi bagian dari kemajuan kalau belum menginjak Jakarta dan tengadah melihat pucuk Monumen Nasional. Ingatlah Syahrini, penyanyi sensasional itu merasa perlu bolak balik ke Paris menjenguk menara Eiffel dan membuat karya video maju mundur di bawah menara Eiffel yang sangat cetar membahana badai itu.
Tetapi yang paling pasti saat Seno menulis esai berjudul Ojek Sudirman-Thamrin (yang kemudian dia ubah jadi Tiada Ojek di Paris untuk judul kumpulan esai ini) sedang berada di Paris dan tampaknya merasa begitu merindui Jakarta dengan ojeknya itu.
Paris tidak menyediakan ojek, lantaran orang Paris menganggap jalan kaki lebih sehat dan dapat menghemat sumber daya alam yang berarti peduli terhadap lingkungan. Orang Jakarta pikirannya tidak sampai ke sana. Jalan kaki bagi orang Jakarta berarti kepanasan dan kelihatan kere, tidak  berbudaya. Nah, anggapan ini dimanfaatkan oleh kaum pinggiran Jakarta menghadirkan ojek mengantarkan penghuni Jakarta mengatasi kemacetan. Sebuah pemanfaatan yang sangat kreatif dan mengagumkan sebagai cara untuk mencari nafkah dan mempertahankan hidup mereka yang tidak pernah dipikirkan oleh pemerintah kota Jakarta.  
Jakarta dibangun memang bukan untuk kaum kismin alias kere. Jakarta dibangun untuk orang-orang kaya yang takut kulitnya hitam dibakar matahari kalau berjalan kaki.  Ohya, dalam pengantar kumpulan esai ini, Seno memberitahu bahwa dirinya dalam menuliskan amatannya atas segala peristiwa dan perilaku orang Jakarta tidak ingin berlaku dan dianggap sebagai orang yang lebih tahu, melainkan setara dengan kita, pembacanya. Dia ingin esainya ini selayaknya obrolan warung kopi yang boleh dilupakan begitu selesai membacanya. Sama sekali tidak ingin dianggap sebagai sumber kebenaran. 

Kenapa Seno merasa perlu menegaskan hal ini. Padahal tanpa pemberitahuan itu kita sudah mafhum belaka bahwa ia seorang yang rendah hati. Entahlah, yang pasti esai-esai ini nadanya sangat jelas mengejek kesombongan, kerakusan, dan kapitalistik Jakarta sambil membela dan memberi empati kepada masyarakat bawah bin pinggiran, kita menyebutnya humanis. Gitu ajah sih. Keren, asyik.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka